
TIDAK ada tempat aman dan nyaman di negeri ini. Hampir semua daerah berada di daerah bencana. Mulai dari gempa bumi, tanah longsor, banjir, hingga tsunami. Terakhir likuifaksi.
Fenomena bencana likuifaksi adalah berubahnya tanah menjadi lumpur, sehingga menelan bangunan di atasnya masuk tanah. Seakan-akan disedot bumi. Likuifaksi terjadi setelah gempa bumi berkekuatan 7,4 pada skala Richter (SR) di Palu, Jumat (28/9) sore. Tidak ada menyangka empat kawasan di Palu Selatan dan Sigi itu ditelan bumi.
Dalam hitungan detik, rumah di kawasan itu roboh–langsung ditimbun lumpur. Fenomena likuifaksi ini sering terjadi pascagempa bumi di negeri ini. Tidak hanya di Palu. Hal serupa juga terjadi di Aceh yakni pada 2004 dan di Pidie Jaya pada 2016. Likuifaksi di Palu ini terbesar dalam sepanjang sejarah bencana gempa di Indonesia. Di Aceh 40 sentimeter, sedangkan di Palu mencapai lebih dari lima meter dengan luasan yang sangat besar. Yang tewas ditelan lumpur pun, ratusan orang dengan ribuan rumah tertimbun.
Peneliti madya bidang bioteknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adrin Tohari mengatakan arti likuifaksi secara ilmiah, hilangnya kekuatan lapisan tanah pasir lepas akibat kenaikan tekanan air pada saat gempa bumi kuat. Likuifaksi itu terjadi akibat berbagai guncangan seperti gempa tektonik, vulkanik, atau gempa akibat uji coba nuklir di bawah laut.
Gempa bumi di negeri tidak berhenti. Setelah Lombok diguncang gempa pada Minggu (29/7), bermagnitudo 7 SR disusul di Palu. Belum lagi di Pulau Sumatera dan Jawa. Di Lombok saja, tidak berhenti gempa walaupun dalam skala kecil. Itulah konsekuensi hidup dan tinggal di negeri bencana alam. Beragam gempa terjadi, tapi sulit memprediksi tsunami itu terjadi.
Pemetaan
Bencana akibat gempa bumi baik di Aceh, Padang, Lombok, maupun di Palu mengingatkan anak bangsa untuk terus memetakan kawasan rawan gempa bumi. Saatnya melakukan kajian geologi serta menyosialisasikannya agar rakyat menjadi tangguh menghadapi bencana. Pascagempa Aceh 2004, semua daerah di negeri ini melakukan mitigasi bencana.
Belakangan mitigasi dan alat deteksi dini bencana sudah tidak pernah berfungsi lagi. Terlebih anak-anak bangsa yang hidup di bibir pantai dibiarkan mendirikan rumah di kawasan likuifaksi. Mereka makanan empuk disapu tsunami. Harusnya ditata kembali ruang kehidupan bagi anak bangsa terutama di zona rawan bencana alam. Jepang adalah bangsa yang belajar dari masa lalu. Mereka mendirikan bangunan tahan gempa.
Lalu masyarakatnya diberikan pengetahuan dan kesiagaan ketika bencana alam terjadi. Kesigapan menghadapi bencana harus menjadi bagian budaya dan kebutuhan membangun anak bangsa yang tangguh. Saatnya negeri ini mengumandangkan hidup berdampingan dengan bencana alam. Dan tidak ada rakyat mati sia-sia ketika gempa bumi mengguncang daerahnya.
Berbenah
Lampung sebagai kawasan rawan gempa bumi mulai berbenah. Ketika bencana datang menghampiri, anak bangsa sudah siap menghadapinya. Ingat! Patahan lempeng atau sesar di Lampung masih aktif. Sesar aktif sepanjang 40 kilometer terus melakukan pergerakan berlawanan arah sejauh dua sentimeter per tahun.
Pengamat geologi dari Universitas Lampung (Unila) Suharno pernah mengatakan patahan lempeng bumi Lampung sepanjang 40 km dari Tarahan—Natar dalam kondisi aktif. Menurut dia, rute patahan lempeng dari Tarahan lurus hingga Panjang. Lalu ke Kecamatan Kedaton serta mengarah ke utara hingga Branti, Natar, Kabupaten Lampung Selatan.
Saatnya negeri ini mengumandangkan hidup berdampingan dengan bencana alam.
Dalam catatannya, gempa pernah terjadi di Lampung pada 1913 dengan kekuatan 7 SR hingga kini membekas di beberapa ruas jalur. Dosen Unila ini berkeyakinan gempa di Lampung akan terjadi lagi. Hasil pengamatan menunjukkan patahan bumi bergerak dua sentimeter per tahun dengan posisi patahan berlawanan arah.
Yang jelas, contoh dari tanda-tanda bekas gempa itu ada di Natar. Di kawasan itu mengeluarkan air panas sejak puluhan tahun lalu. Lampung memiliki tiga sumber potensi gempa bumi. Pertama, jalur lempeng benua Indo Australia-Eurasia. Kedua, patahan Bukit Barisan, dan ketiga volcano tsunami dari Gunung Anak Krakatau (GAK). Gunung yang pernah meletus pada 27 Agustus 1883 itu, saat ini masih aktif mengeluarkan lava.
Cukuplah gempa yang mengguncang Liwa pada 15 Februari 1994. Rumah penduduk luluh lantak rata dengan tanah. Sedikitnya 196 tewas dan 2.000 luka-luka tertimpa reruntuhan bangunan. Lampung harus belajar dari gempa Liwa. Konstruksi bangunan yang berdiri di kawasan rawan bencana alam harus memperhatikan risiko dengan tahan dan akrab dengan gempa. Sebagian besar korban yang tewas dan luka berat itu, disebabkan bangunan roboh yang menimpa penghuni rumah. Jika tidak ditata, sampai kapan pun setiap terjadi gempa yang dahsyat, anak bangsa akan menjadi korban dari keganasan bencana.
Pengetahuan
Rakyat harus diberikan pengetahuan dini tentang membangun kapasitas dan melakukan evakuasi mandiri ketika bencana itu datang tiba-tiba. Kapan terjadi gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi, hingga kini manusia belum mampu memprediksi. Akan tetapi sebagai makhluk berakal haruslah siaga menghadapinya. Sebagai evaluasi dari beberapa kali bencana gempa bumi di negeri ini, perlu dilakukan diseminasi peraturan dan pedoman bangunan tahan gempa. Mau kapan lagi, kalau tidak sekarang!
Anak bangsa harus hidup nyaman dan aman, harmonis serta berdampingan dengan alam rawan bencana. Kerugian gempa bumi sangatlah besar. Tidak hanya nyawa yang hilang, akan tetapi juga dana triliunan rupiah disedot dari uang rakyat untuk pemulihan bencana di negeri seribu lindu ini. ***

