
SEPERTI apa infrastruktur langit itu? Dalam kasat mata saja, dapat dilihat ada gugusan bintang, bulan, awan keputihan membentang di langit biru seperti hamparan padang pasir nan luas. Kekuasaan tiada tandingnya jika anak manusia sudah bisa menguasai langit! Negara adidaya pun berlomba-lomba membuat satelit untuk menguasai alam semesta dan isinya.
Indonesia? Sudah bersiap membangun infrastruktur di jagat raya untuk menopang dan mendorong program digital. Satelit Palapa Ring itulah yang menghubungkan berbagai aktivitas menumbuhkan start-up dan unicorn, sehingga terbuka lapangan kerja baru pada era globalisasi. Saat ini saja, sudah 1.000 start-up. Pada 2024 nanti akan tumbuh 3.500 start-up baru lagi.
Adalah calon wakil presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin mengungkapkan itu dalam debat putaran ketiga cawapres , Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3) malam lalu. Bukan hanya infrastruktur darat, laut, dan udara, melainkan juga Pemerintah Jokowi telah membangun infrastruktur langit, kata Ma’ruf.
Sangat penting memang. Program visioner untuk membuat anak-anak bangsa siap menghadapi tantangan 10 tahun mendatang atau ten years challenge. “Start-up untuk membuka lapangan kerja anak cucu kita,” ucap Ma’ruf dengan nada yakin. Ide cemerlang pembangunan infrastruktur langit akan diadopsi pasangan capres nomor urut 02 Prabowo-Sandi.
Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Priyo Budi Santoso, mengakui gagasan dan ide Ma’ruf itu untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi sektor digital. “Dengan adanya infrastruktur langit (Palapa Ring, red) dan ekonomi digital telah menumbuhkan 1.000 start-up dalam tempo lima tahun,” kata Priyo, usai menyaksikan debat cawapres.
Sebenarnya pengembangan usaha rintisan berbasis teknologi (start-up) sudah mewabah di negeri ini. Bahkan tumbuh subur seiring kemajuan teknologi. Usaha berbasis digital ini salah satu bisnis yang menjanjikan. Mengapa? Karena setengah pendapatan domestik bruto (PDB) negara di kawasan Asia Pasifik berasal dari sektor digital.
Membangun start-up berangkat dari kebutuhan yang dihadapi rakyat. Kehadiran start-up memberikan solusi melalui pengembangan produk. Mau contoh? Chief Executive Officer (CEO) dan Co-founder Simplidots membuat sistem yang mengatur distribusi secara digital. Perusahaan itu memberikan sistem daring yang terintegrasi bagi kepentingan distributor.
Aplikasi yang dibangun Simplidots itu lebih modern, akurat, efisien, dan efektif. Biasanya, distributor banyak melibatkan sales post, sales man, collector, dan driver untuk mengantarkan barang. Semuanya catatan penjualan dibawa ke kantor untuk diinput. Dengan sistem itu tadi, kegiatan pengantaran, collector langsung dipantau dari aplikasi. Efisien kan?
Baca juga : https://lampost.co/epaper/kolom/refleksi/perang-pemikiran/
Aplikasi yang dilengkapi berbagai fitur tidak semata digunakan bagi karyawan di kantor, tapi juga di lapangan. Melalui aplikasi mobile itu, karyawan penjualan (sales), kurir pengantar barang, hingga staf penagih utang bisa diselesaikan secara cepat. Start-up berbasis teknologi digital memudahkan pekerjaan. Itu salah satu karya anak bangsa.
Bagi anak bangsa yang ingin bersaing di era global haruslah kreativitas
Pola Baru
Kehebatan start-up merupakan bisnis yang membuat pola baru dengan penyertaan modal. Bisnis seperti ini dibutuhkan jiwa kewirausahaan dalam mengelola start-up. Yang jelas, bisnis ini banyak ditekuni generasi milenial. Tidak jarang pengembangan start-up mengalami kegagalan.Mengapa? Karena start-up tidak memberikan solusi dan manfaat bagi konsumen.
Harusnya bisnis perusahaan start-up melakukan ekspansi lebih dahulu, barulah memikirkan untung. Tidak seperti bisnis konvensional yang selalu mengejar profit. Melesatnya start-up berawal rugi sambil mengejar valuasi. Negeri ini baru memiliki empat start-up berlevel unicorn alias memiliki valuasi Rp13 triliun atau 1 miliar dolar AS.
Unicorn yang sudah dimiliki Indonesia terbagi tiga jenis industri. Pertama Go-Jek merajai sektor transportasi hampir di seluruh pelosok Nusantara. Lalu Tokopedia dan Bukalapak di marketplace. Dan ketiga, Traveloka yang memanjakan anak-anak bangsa yang memiliki hobi jalan-jalan.
Laman Tech In Asia menyebutkan Traveloka mengakuisisi Pegipegi, Mytour dari Vietnam, dan Travelook dari Filipina. Nilai sangat fantastis di angka 66,8 miliar dolar AS. Perusahaan teknologi raksasa berkelas dunia seperti Google awalnya seperti Traveloka. Mereka juga mengakuisisi perusahaan lain yang cocok dengan Google.
Bahkan, Menkominfo Rudiantara memberikan sinyal bahwa tahun depan perusahaan start-up Indonesia naik kelas dari unicorn menjadi decacorn. Perusahaan yang dimaksud itu, menteri masih merahasiakan. Sebelumnya, perusahaan transportasi asal Singapura—Grab meraih gelar decacorn karena memiliki valuasi Rp140 triliun atau 10 miliar dolar AS.
Tak hanya Menkominfo yang perhatian dengan start-up, Mendikbud Muhadjir Effendy juga mengingatkan generasi milenial. Bagi anak bangsa yang ingin bersaing di era global haruslah kreativitas. “Mari kita dorong anak-anak muda membangun mimpi besar dalam melihat masa depan,” kata Menteri. Globalisasi mendatangkan manfaat namun perlu juga menyikapinya secara bijak melalui penanaman nilai-nilai pendidikan.
Indonesia pasti bisa. Perusahaan start-up yang melesat harus memiliki kemampuan profesional di bidang teknologi finansial. Memiliki ilmuwan data dan pakar keamanan siber. Start-up juga melibatkan profesional dalam bidang musik, hiburan digital, produksi gim, dan film. Dalam hitungan hari, bisnis tersebut melambung.
Pastikan negeri ini maju dan hebat. Karena pemerintahan Jokowi sudah membangun 1.000 start-up. Dan pada 2024 nanti, akan tumbuh 3.500 start-up baru seperti jamur hidup di musim hujan. Penikmatnya adalah generasi milenial yang hidup saat ini. Masih juga tidak mau membantah? Semuanya akan diremote dari jari-jari anak bangsa yang berkreativitas. ***







