
STRATEGI dan taktik meraih kemenangan pada Pemilu, 17 April, sudah dilakukan. Tiga hari ke depan tinggal rakyat memilih! Pemilu kali ini melelahkan, bertebaran ujaran kebencian dan fitnah. Udara di negeri ini disesaki berita bohong (hoaks). Dan, itu salah satu strategi menyerang–melumpuhkan lawan. Dibenarkan ndak oleh hukum?
Jawabnya, tidak! Walaupun melanggar, produksi hoaks terus meningkat menjelang pencoblosan. Cara-cara seperti itu dilakukan untuk memenangi pertempuran. Rakyat sudah cerdas. Pasti dirasakan dan dilihat, siapa yang layak dan pantas duduk di kursi presiden dan parlemen. Sebagai negara beragama, rakyatnya dituntun memilih yang terbaik dari yang baik.
Salat
Caranya? Salat istikharah. Penguasa Kerajaan Bumi dan Langit menuntun dengan salat sunah istikharah. Meminta petunjuk dan kebaikan dari Tuhan yang tidak diketahui manusia. Tuhan mengutus manusia untuk memimpin di bumi ini. Pastinya, rakyat memilih pemimpin yang islami. Indikatornya paling tidak, mampu mengendalikan emosi dan tidak menebar kebencian.
Tidak hanya Islam mendorong–mencari pemimpin yang islami. Juga agama-agama lainnya. Pemimpin yang dibutuhkan untuk Indonesia adalah mampu mengimplementasikan ajaran agama dalam sikap dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hela napasnya selalu mengajak anak bangsa berbuat baik dan bersikap optimisme.
Oleh karena itu, hasil istikharah akan mengarah pilihan seorang pemimpin yang memiliki hati dan pikiran dari nilai kebaikan. Seperti disampaikan Syaikh Abdurrahman Al Juzairi dalam Fiqih Empat Madzhab mengatakan disunahkan bagi setiap muslim menunaikan dua rakaat salat istikharah ketika akan menentukan pilihan sesuatu.
Kebaikan istikharah itu juga dipastikan seiring dan sejalan dari penelitian Elroy Dimson, Paul Marsh, dan Mike Staunton (2002). Apa kata peneliti itu? Setiap orang yang berani mengambil risiko di tengah arus perubahan akan menjadi kelompok pemenang dalam perubahan tersebut.
Dengan begitu, anak-anak bangsa perlulah bermunajat. Manusia memohon pilihan dengan kekuatan Allah. Sang Pencipta dapat menyelesaikan segala urusan manusia dalam sekejab. Karena Allah Mahakuasa. Manusia tidak ada daya upaya. Apalagi perkara gaib, Allah Mahatahu. Dan Allah menentukan pilihan dari niat istikharahmu.
Debat
Yang jelas, Sabtu (13/4), adalah hari terakhir kampanye Pemilu 2019. Tadi malam, anak bangsa se-antero Nusantara melihat secara terbuka debat putaran terakhir calon presiden dan wakil presiden. Debat penuh makna itu sebagai pemungkas rangkaian kampanye sebelum memasuki masa tenang, hari ini.
Pasangan calon nomor urut 01 Jokowi-Amin dan nomor urut 02 Prabowo-Sandi menjadikan debat serta kampanye untuk unjuk kekuatan. Kampanye terbuka yang akbar sering dinilai salah satu indikator kemenangan, karena bisa menarik massa lebih banyak. Semua tenaga, pikiran, bahkan materi sudah terkuras habis.
Baca juga : https://lampost.co/epaper/kolom/refleksi/susu-kaleng/
Bagaimana hasilnya? Seabrek foto, rekaman video, testimoni pendukung dan simpatisan adalah bukti nyata. Juga sejumlah lembaga survei merilis elektabilitas dua calon presiden. Seperti SMRC menyatakan Jokowi-Amin meraih 56,8%, sedangkan Prabowo-Sandi 37%. Begitu juga LSI Denny JA. Hasilnya, Jokowi-Amin berada kisaran 55,9%-65,8%, dan Prabowo-Sandi meraih 34,2—44,1%.
Angka survei bisa bertambah, bisa juga stagnan jika melihat hasil debat tadi malam. Tema debat mengupas ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi, serta perdagangan dan industri–pastinya akan mengangkat elektabilitas. Pasangan calon nomor 01 menjelaskan hubungan infrastruktur dan produktivitas meningkatnya ekspor dan kesejahteraan rakyat.
Menariknya, ekonom senior Indef, M Nawir Messi, berpendapat siapa pun yang akan memimpin Indonesia pada masa mendatang akan dihadapkan persoalan pertumbuhan ekonomi. Ketika kondisi pertumbuhan tinggi, pasti diikuti impor yang membengkak serta diikuti current account deficit. “Itu akan berpengaruh ke nilai tukar rupiah,” kata Nawir.
Menurut dia, kalau pertumbuhan ekonomi rendah akan berdampak pada tingkat pengangguran. Siapa pun rezim yang akan menyetir perekonomian Indonesia mendatang dihadapkan pada dilema pertumbuhan. Ekonom itu menawarkan negeri ini membutuhkan pemimpin yang mengetahui kapan saatnya meningkatkan pertumbuhan, dan kapan harus menahannya.
Optimisme
Patut diingat anak bangsa, 20 tahun lagi Indonesia memasuki usia 100 tahun. Seperti apa negara ini di usia satu abad itu? Perlunya keoptimisan dengan energi positif memandang masa depan agar Ibu Pertiwi selalu hadir. Di tengah hiruk pikuk kampanye sepekan terakhir ini, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto angkat bicara, pekan ini.
Dia mengatakan pasukan TNI tetap berkomitmen mengamankan Pemilu, 17 April mendatang. Dengan suara menggelegar dalam tayangan video berdurasi satu menit 55 detik itu, Panglima mengatakan militer bersiap menghadapi siapa pun yang berupaya mengganggu stabilitas politik dan jalannya pesta demokrasi di Tanah Air.
TNI adalah tentara rakyat. Milik rakyat. Hadi mengingatkan jika ada pihak-pihak yang sengaja mengganggu stabilitas politik jalannya demokrasi, mengganggu NKRI, mengganggu Pancasila, mengganggu UUD 1945, dan mengganggu Bhinneka Tunggal Ika, maka akan berhadapan dengan TNI. “
Ingat! TNI adalah bentengnya NKRI. Bagi TNI, NKRI harga mati.”
Saatnya bersyukur. Sejuk, aman, dan nyaman. Ada yang melindungi. Sebab itu, nikmat Tuhanmu yang manalagi yang masih kamu dustakan. Tidak ada artinya jika anak bangsa tidak mau datang ke tempat pemungutan suara (TPS) pada hari pencoblosan. Di kotak itulah, tempat pertarungan capres dan anggota parlemen yang sesungguhnya! ***







