• LAMPOST.CO
  • METROTV LAMPUNG
  • DESAKU
  • SUMA.ID
Minggu, Februari 15, 2026
Berlangganan
Konfirmasi
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • LAMBAN PILKADA
  • RAGAM
  • DESA
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • LAMBAN PILKADA
  • RAGAM
  • DESA
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Berlangganan
  • Konten Premium
  • E-Paper
  • Indeks
  • Log in
Beranda Kolom

Minta Jatah         

Sri Agustina Editor Sri Agustina
11 Oktober 2019
di dalam Kolom, Refleksi
A A
Ilustrasi (MI)

Ilustrasi (MI)

Share on FacebookShare on Twitter
Iskandar Zulkarnain Wartawan Lampung Post

KASAK-KUSUK minta jabatan menteri menjelang pelantikan presiden dan wakil presiden sudah terang-terangan. PDI Perjuangan ingin mendapatkan kursi terbanyak. Tidak mau empat kursi. Begitu partai koalisi lainnya. PKB, contohnya, minta jatah yang banyak di jajaran kabinet menteri.
Jokowi-Ma’ruf tersandera oleh tekanan partai politik. Harusnya partai menjaga keadaban—santun dalam berpolitik. Siapa yang menang dan siapa yang kalah. Sepertinya, anak-anak bangsa di negeri ini mau dibuat abu-abu oleh partai dengan segala kepentingan sesaat.
Mengapa PDI Perjuangan minta jatah yang banyak? Karena partai politik nonparlemen saja, kata Megawati Soekarnoputri, minta kursi menteri ke Jokowi. Saat pembukaan Kongres V PDI Perjuangan di Bali, yang baru lalu, terasa cair. Sindiran itu membawa gelak tawa Jokowi-Ma’ruf serta ketua umum partai Koalisi Indonesia Kerja yang hadir pada kesempatan itu.
Hanya Partai NasDem sebagai pengusung tanpa syarat untuk mendukung penuh mengantarkan Jokowi ke kursi presiden. Partai besutan Surya Paloh ini menghormati hak prerogatif. Presiden berhak memilih menterinya. Bahkan, pada titik tertentu NasDem akan menanggung risiko politik. Yang jelas, Jokowi rasional dan realistis dalam memilih partner kerja.
Anak-anak bangsa menaruh perhatian kepada Jokowi. Mantan Gubernur DKI Jakarta dan juga mantan Wali Kota Solo itu sangat matang dan piawai mencari nama menteri. Politik itu berbagi kekuasaan. Politik lentur dengan kepentingan. Dinamis dan tidak memaksakan kehendak. Hanya bermuara untuk kepentingan bangsa, bukan golongan.

Politik itu berbagi kekuasaan. Politik lentur dengan kepentingan. Dinamis dan tidak memaksakan kehendak.

Partai Gerindra sebagai pengusung Prabowo-Sandi yang berseberangan dengan Jokowi-Ma’ruf  dalam pemilihan presiden, juga melobi dan dilobi sekitar Istana agar kadernya bisa duduk di kabinet. “Tetapi kami tidak serta-merta menerima karena kami merasa 2019 Gerindra berseberangan dengan Jokowi,” kata Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani.
Muzani yang pernah digadang-gadang menjadi ketua MPR mengakui adanya pembicaraan dari sekitar Istana. Bahkan, Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono lebih transparan. Dia menyebutkan ada tiga nama yang disodorkan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Tiga nama itu akan menduduki jabatan menteri dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf.

Walaupun ia bukan partai pemenang dalam Pemilu 2019, Gerindra bergerilya merebut posisi penting di lembaga parlemen dan kabinet. Dari hasil bentuk rekonsiliasi Prabowo dan Megawati, antara lain ketua MPR adalah jatah Gerindra. Hasilnya? Nihil. Ketua MPR diambil Partai Golkar.

BACA JUGA

Dari Jari-Jari Kecil ke Dunia Teknologi

Mengurai Benang Kusut Banjir di Bandar Lampung

Sepak Bola untuk Persatuan

Jitu Menekan Angka Kejahatan

Muzani menyebut Prabowo kecewa karena kadernya tidak mendapatkan kursi ketua MPR. Dengan begitu Gerindra akan memutuskan apakah tetap akan bergabung dalam pemerintahan Jokowi atau jadi oposisi, mitra kritis. Sikap itu akan disampaikan Gerindra dalam rapat kerja nasional pada 17 Oktober 2019, sebelum pelantikan presiden dan wakil presiden.

***

Politik itu merebut kekuasaan! Ingat Pemilu 2014, siapa partai pemenang pemilu saat itu? PDI Perjuangan. Tapi yang menguasai parlemen adalah partai-partai pendukung Prabowo-Hatta. Ketua DPR dari Partai Golkar. Ketua MPR dari PAN. Semuanya dikuasai koalisi partai pendukung Prabowo-Hatta, saat itu.

Hasil pemilu kali ini, elite politik sudah sadar. Ketua DPR jatah kader PDI Perjuangan, sedangkan ketua MPR dari Partai Golkar. Tidak terbalik-balik seperti hasil Pemilu 2014. Dalam pemilihan ketua MPR pekan lalu, Muzani yang diusulkan Fraksi Gerindra (hasil pertemuan Prabowo-Mega) harus ikhlas karena tidak didukung  sembilan fraksi MPR dan DPD.

Hasil pemilu kali ini, elite politik sudah sadar. Ketua DPR jatah kader PDI Perjuangan, sedangkan ketua MPR dari Partai Golkar.

Akhirnya Bambang Soesatyo yang diusulkan Partai Golkar dipilih secara aklamasi oleh rapat paripurna. Muzani sebagai pion Gerindra dalam parlemen hanya puas menempati posisi wakil ketua. Elite sadar bahwa posisi penting harus direbut partai pengusung Jokowi agar pemerintah berjalan stabil, tidak gaduh seperti awal pemerintahan Jokowi-JK.
Saat ini, koalisi timnya sangat solid menjaga struktur penguasaan lembaga-lembaga negara seperti MPR dan DPR. Kedua lembaga tinggi itu dipimpin oleh orang-orang Jokowi. Tidak ketinggalan ketua DPD juga adalah orang dalam barisan Jokowi. Adalah La Nyalla sangat vokal mendukung Prabowo. Kini dia berbalik mendukung penuh Jokowi.
Kini Jokowi-Ma’ruf sudah menghitung siapa yang layak membantunya dalam mengendalikan Kabinet Indonesia Kerja Jilid II. Pastinya partai Koalisi Indonesia Kerja sudah mengusulkan nama, bahkan mungkin saling jegal agar kadernya bisa masuk dalam jajaran menteri. Barisan ini juga merasa berhak dan layak mendapatkan jatah kursi menteri.
Dengan postur kekuasan di Senayan, Jokowi-Ma’ruf tidak perlu khawatir menjalankan pemerintahan. Karena Koalisi Indonesia Kerja dimotori Partai NasDem dan Golkar memberikan jaminan dukungan hingga masa akhir jabatan. Jokowi tidak perlu lagi merasa menjadi petugas partai. Buang itu! Periode kedua ini adalah pertaruhan reputasi mewujudkan janji-janjinya.

Periode kedua ini adalah pertaruhan reputasi mewujudkan janji-janjinya.

Sudah saatnya melepaskan diri dari bayang-bayang, karena pemilih Jokowi mayoritas rakyat bukan kelihaian partai. Jokowi adalah sosok negarawan. Memimpin tidak untuk kepentingan kelompoknya. Tinggal bagaimana agar pemerintahan Jokowi-Ma’ruf nanti berjalan efektif, perlu kehadiran oposisi sebagai kekuatan check and balances.
Pascapertemuan Prabowo-Mega, bahwa Gerindra masuk  jajaran pemerintahan menjadi pertanyaan besar. Bukankah platform politik Jokowi berbeda dengan Prabowo dalam menata Indonesia. Saat berjuang berada di barisan lawan. Sudah kalah ingin bergabung bahkan minta kursi menteri lagi. Ini tabiat selalu ingin minta jatah. Alamakkk ! ***

Iskandar Zulkarnain Wartawan Lampung Post

 

Tags: Jatahkursi pemerintahanRefleksi
berbagiTweetMengirim
Posting Sebelumnya

E- Paper Edisi Jumat, 11 Oktober 2019

Posting berikutnya

Trump: Mungkin ISIS Lari ke Eropa dari Suriah

Sri Agustina

Sri Agustina

Posting berikutnya
Lempar Batu

Trump: Mungkin ISIS Lari ke Eropa dari Suriah

Kembalikan Pendidikan Berkeadaban

Brownis dan cocobahana dari Emersia yang lezat. (DOK.EMERSIA)

Lezatnya si Cokelat, Brownsia dan Chocobana Emersia

Orang Munafik

Jam Tangan Rp12 Miliar Raib

BERITA TERBARU

  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Jum’at, 13 Februari 2026 13 Februari 2026
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Kamis, 12 Februari 2026 12 Februari 2026
  • Como Cetak Sejarah ke Semifinal Coppa Italia 11 Februari 2026
  • Carrick Kecewa MU Ditahan Imbang West Ham 11 Februari 2026
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Rabu, 11 Februari2026 11 Februari 2026

TOP NEWS

Benang Merah Konflik Manusia dengan Satwa

23 Ribu Peserta Gagal Masuk SMA/SMK Negeri

Tembus Rp12,42 Miliar Ekonomi Syariah kian Kokoh

Jalur SPMB SMP Prioritaskan Jarak

Perencanaan Keuangan Kunci Kemapanan Finansial

Perkuat Akses Keuangan Inklusif

Kebingungan Peserta Warnai Hari Pertama SPMB

Buka Ekspor Sawit di Pasar Eropa

Perketat Pengawasan Truk ODOL

Kreatif Hadapi Efisiensi Anggaran

POPULAR POST

  • kantor DPRD lampung Utara

    Pelantikan Pimpinan DPRD Lampura Berlangsung Sederhana

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Senin, 09 Februari 2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Cerita Dewasa

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Kamis, 12 Februari 2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Selasa, 10 Februari 2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
Facebook Twitter Youtube RSS Instagram

Tentang Kami

 

LampungpostID adalah laman berita resmi Harian Umum Lampung Post. Laman ini berada dalam naungan PT Masa Kini Mandiri, penerbit Koran Lampung Post yang menyajikan informasi berkualitas untuk melengkapi kehadiran koran edisi cetak di masyarakat.

Alamat Kami

PT Masa Kini Mandiri, Jl. Soekarno – Hatta No. 108, Hajimena, Lampung Selatan

Phone : (0721) 783-693
Fax : (0721) 783-578
Email : redaksi@lampungpost.co.id

Redaksi
Tentang Kami

Iklan & Sirkulasi

Sri Agustina : 0895-3463-91035
Ja’far Shodiq : 0812-1811-4344
Dat S Ginting 0822-6991-0113
Setiaji B. Pamungkas : 0813-6630-4630

LampungpostID © 2022

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • LAMBAN PILKADA
  • RAGAM
  • DESA
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS

LampungpostID © 2022

Open chat
1
Anda butuh bantuan ?
Admin Lampungpost.id
Halo, ada yang bisa kami bantu ?