SILVIA AGUSTINA
silvia@lampungpost.co.id
==
TINGGINYA angka putus sekolah di Lampung yang mencapai 15.695 kasus selama 2023 harus segera menjadi perhatian pemerintah daerah. Ketua Harian Children Crisis Center (CCC) Lampung Syafrudin mengungkapkan kasus putus sekolah diakibatkan oleh faktor-faktor yang kompleks.
“Walaupun faktor ekonomi adalah penyebab yang paling dominan, faktor lain seperti pernikahan di bawah umur, terlibat kasus kriminal, serta pola pendidikan yang mungkin bermasalah merupakan hal-hal yang juga perlu disoroti,” ujar dia, beberapa hari lalu.
Dia menyayangkan tingginya angka putus sekolah tersebut. Semestinya anak-anak dengan usia pendidikan dasar hingga atas memperoleh hak pendidikan dengan baik dan merata. “Pendidikan adalah hak dasar anak yang seharusnya wajib dipenuhi oleh pemerintah,” kata dia.
Syafrudin berharap pemda segera meninjau faktor-faktor lain yang memungkinkan terjadinya putus sekolah. Meskipun terdapat program bebas biaya pendidikan selama sembilan tahun belajar, dia menilai kebutuhan di luar biaya tersebut masih menjadi masalah.
“Walaupun SPP gratis selama sembilan tahun belajar, terdapat kebutuhan lainnya yang mesti dipenuhi, misalnya, perlengkapan sekolah. Ada kalangan yang belum bisa menjangkau hal tersebut, harus ada pembenahan dari sisi ekonomi juga,” ujarnya.
Pihaknya mendorong Pemrov Lampung untuk melakukan perbaikan permasalahan kompleks yang dapat berimbas pada sektor pendidikan. “Pemda harus memaksimalkan kewajibannya untuk memenuhi hak akses pendidikan anak. Bagaimana upaya menjangkau anak dari kategori ekonomi lemah harus dimasifkan sehingga semua anak bisa bersekolah tanpa terkecuali,” kata dia.
Beri 1.000 Beasiswa
Untuk menekan angka putus sekolah di Bandar Lampung, Pemerintah Kota Bandar Lampung memberikan 1.000 beasiswa kepada calon peserta didik yang kurang mampu. Berdasar Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung, terdapat 15.965 pelajar dari SD, SMP, hingga SMA/SMK di Lampung mengalami putus sekolah sepanjang Januari hingga Juni 2023.
Mirisnya, sebagai ibu kota Provinsi Lampung, Bandar Lampung menduduki angka urutan ketiga terbanyak yang putus sekolah, yakni 1.601 anak putus sekolah, setelah Lampung Selatan (1.974) dan Lampung Tengah (2.172). “Insyaallah 1.000 beasiswa ini akan kami tambah, kalau rezeki banyak. Sebab, beasiswa ini merupakan strategi untuk siswa tidak putus sekolah,” kata Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana, Senin (12/5).
Untuk program bina lingkungan (biling) jenjang SMA, Eva mengatakan sudah diambil alih oleh provinsi sehingga Pemkot tidak ada kewenangan dan membuat 1.000 beasiswa. “Tadinya banyak anak putus sekolah, mereka mau sekolah semuanya (karena program biling). Sekarang diambil alih oleh Pemprov Lampung kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar dia.
Ia berjanji apabila ada calon peserta didik yang kurang mampu berprestasi akan dikuliahkan gratis oleh Pemkot Bandar Lampung. “Kami berikan juga beasiswa bagi siswa yang berprestasi dan kurang mampu untuk lanjut S-1. Jadi, semua kami berikan fasilitas,” ujarnya.
Kepala bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Bandar Lampung Mulyadi Syukri mengatakan program biling hingga kini Pemkot masih ada. “Untuk tahun ini kuota biling SMP minimal 30 persen. Artinya boleh lebih dari itu bergantung pada kondisi sekolah, yang menerima siswa di sekolahnya,” kata dia.
Mulyadi menjelaskan anak yang mendapatkan program billing ini tidak diberikan uang saku setiap bulannya, tetapi anak tersebut diberikan semua fasilitas sekolah gratis. “Seperti diberikan pakaian atau seragam sekolah, lalu tidak lagi membayar iuran komite atau SPP,” ujarnya. (CK7/L1)






