PARA petani di Kecamatan Gadingrejo, Pringsewu, mempunyai tradisi unik menyambut musim tanam padi yang sebutan Mapak Tuyo (menunggu air). Ritual ini merupakan tradisi turun-temurun masyarakat setempat yang menandai datangnya musim hujan sekaligus persiapan masa tanam padi.
Acara yang berlangsung di Bendungan Way Gatel, Kecamatan Gadingrejo, Pringsewu, Sabtu (23/10), ini hadir Bupati Pringsewu Sujadi dan Ketua DPRD Lampung Mingrum Gumay yang juga ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Lampung. Kemudian, Kadis Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Lampung, kepala OPD terkait di lingkup Pemkab Pringsewu, ketua P3A Pringsewu, aparat kecamatan dan pekon, serta tokoh masyarakat setempat.
Arak-arakan upakara dan hasil bumi para petani mengawali upacara mapak tuyo. Kemudian melarung hasil bumi ke sungai. Pada kesempatan itu pula melakukan penanaman pohon penghijauan di bantaran Sungai Way Gatel.
Bupati Pringsewu Sujadi mengapresiasi dengan adanya mapak tuyo yang merupakan tradisi leluhur tersebut. Sebab, melalui mapak tuyo yang artinya menjemput air ini, mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan. “Yang dilakukan P3A ini adalah dalam rangka memakmurkan bumi dan menyerap hasil bumi sebaik-baiknya,” ujarnya.
Bupati atas nama Pemkab Pringsewu juga mengucapkan terima kasih kepada para petani, baik petani pemilik sawah maupun buruh tani, termasuk juga petugas ili-ili (petugas pengatur pembagian air). “Apresiasi juga untuk siapa pun yang berjuang untuk pertanian, apalagi untuk Pringsewu yang terus-menerus mempertahankan swasembada pangan. Apalagi pada 2014 lalu, Presiden Jokowi telah memberikan penghargaan kepada Pringsewu yang mampu berswasembada pangan,” katanya. (WID/D1)







