• LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST UPDATE
  • SAI 100FM
  • SUMA.ID
Rabu, Februari 25, 2026
Berlangganan
Konfirmasi
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • RAGAM
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • RAGAM
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Berlangganan
  • Konten Premium
  • E-Paper
  • Indeks
  • Log in
Beranda Headline

Membentuk Wawasan Kebangsaan

Dian Wahyu Kusuma Editor Dian Wahyu Kusuma
16 September 2020
di dalam Headline, Kolom, Opini
A A
dok

dok

Share on FacebookShare on Twitter

Athea Sarastiani, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI)

WAWASAN kebangsaan bukanlah suatu konsep yang timbul dalam single action. Namun, ia tumbuh secara perlahan hingga terinternalisasi dalam sikap dan perbuatan. Perempuan politik harus memiliki wawasan kebangsaan yang kukuh dan lurus.

Dimulai dari keluarga

BACA JUGA

Menjaga Alam Lewat Penataan Tambang di Lampung

Babak Lanjutan Kasus PT LEB: Saat Mantan Gubernur Hadir, Penyidikan Mencari Titik Terang

Mengulik Kredit Fiktif Bank Himbara Rugikan Negara Rp2,5 Miliar

Perketat Pengawasan Keamanan Pangan Program Gizi Gratis

Menurut Gubernur Lemhanas periode 2005-2011 Muladi, wawasan kebangsaan ialah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya, mengutamakan kesatuan dan persatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kesatuan atau integrasi nasional bersifat kultural dan tidak hanya bernuansa struktural mengandung satu kesatuan ideologi, kesatuan politik, kesatuan sosial budaya, kesatuan ekonomi, dan kesatuan pertahanan dan keamanan.Dengan demikian, seorang perempuan politik yang memiliki wawasan kebangsaaan yang benar akan mewujudkannya dalam enam dimensi yang bersifat mendasar dan fundamental.

Pertama, penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.Kedua, tekad bersama untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka, dan bersatu. Ketiga, cinta Tanah Air dan bangsa. Keempat, melaksanakan prinsip demokrasi atau kedaulatan rakyat. Kelima, memiliki kesetiakawanan sosial. Keenam, berorientasi pada cita-cita masyarakat adil makmur.Konsep wawasan kebangsaan yang mencintai NKRI secara utuh ini harus dimulai dari rumah, didiskusikan dengan kelompok keluarga secara lambat dari hari ke hari, hingga kemudian terinternalisasi dalam diri.

Tidak jarang, diperlukan waktu yang panjang sebelum objek dapat dikristalisasi menjadi wawasan. Peran keluarga, yakni perempuan sebagai subjek utama, amat penting dalam mentransformasikan wawasan kebangsaan menjadi nilai-nilai politik.Keluarga menjadi ruang pembentukan pribadi yang berlangsung seumur hidup, dari anak-anak hingga berumah tangga. Keluarga yang berpegang pada nilai spiritualitas agama, peduli pada sesama, demokatis dan mencintai segala sesuatu yang Indonesia akan melahirkan anak-anak yang memiliki wawasan kebangsaan yang kukuh.

Peran perempuan sebagai ibu yang dalam kultur Indonesia umumnya dominan dalam perkembangan tabula rasa anak akan sangat berperan penting.Lingkungan kedua yang memengaruhi pembentukan wawasan kebangsaan seseorang ialah lembaga pendidikan formal. Pada masa perkembangan, setiap anak menghabiskan waktu terbanyaknya dalam aktivitas sekolah. Oleh karena itu, penanaman wawasan kebangsaan harus dilakukan secara sadar dan sistematis melalui kurikulum sekolah.Selanjutnya, penanaman melalui lingkungan masyarakat, baik dalam lingkungan kerja, lingkungan pergaulan sosial, maupun lingkungan tempat tinggal.

Upaya membangun wawasan kebangsaan harus terus-menerus dilakukan agar jiwa cinta Tanah Air, bela negara dan berjuang untuk kesejahteraan seluruh bangsa tumbuh dan berkembang.Sejarah panjangperempuan politikSejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan mencatat bahwa kaum perempuan pada masa itu bukan saja mampu melihat ketidakadilan di lingkungannya, tetapi juga berani memperjuangkan alternatif kehidupan dalam mengubah kesenjangan antara kelompok penjajah dan pribumi.

Wawasan kebangsaan dan nilai nasionalisme yang dianut kaum perempuan masih bersifat lokal, yaitu berdasarkan suku. Kongres Perempuan I pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta, hanya dihadiri kalangan Jawa, sedangkan suku lain dari Sumatra dan belahan timur Indonesia mengirimkan telegram sebagai pernyataan dukungan. Ketika itu kaum perempuan sebatas menuntut kesetaraan pendidikan bagi kaum perempuan dari pemerintah Belanda.,Seiring dengan berjalannya waktu, perjuangan perempuan Indonesia menemukan bentuknya sebagai perjuangan dengan semangat nasionalisme yang kuat, hingga bermuara pada satu tekad: tidak ada pilihan lain kecuali merdeka.

Masa 1945 – 1949 ini bangsa Indonesia, termasuk kaum perempuan, menempuh pendidikan kebangsaannya dalam medan pertempuran.Dengan bekal seadanya, mereka melakukan latihan paramiliter di tingkat satuan kecil mereka dengan operasi gerilya melawan musuh yang dilengkapi dengan senjata canggih, dan ilmu taktis tempur yang mumpuni. Mereka malas berharap pada perundingan serta diplomasi politik yang dianggap tidak membuahkan hasil terhadap perbaikan kehidupan.Pakar asing meramalkan akan terjadi suatu masa berakhirnya era negara kebangsaan.

Mereka menulis buku tentang The End Of The Nation – State, rujukan ini digunakan untuk memprediksi era digital yang menguasai hampir setiap orang. Apakah wawasan kebangsaan tidak dibutuhkan lagi? Apa peran yang dapat dilakukan perempuan politik?Indonesia ialah negara kebangsaan yang mapan, kukuh, serta memiliki akar sejarah dan budaya politik tersendiri. Negeri ini telah melewati beragam ujian kebangsaan yang membuatnya makin matang.

Negara Kesatuan Republik Indonesia akan tetap berdiri, karena, nilai nasionalisme yang telah mengakar dan terus dibangun akan melahirkan tunas-tunas baru untuk mempertahankannya.

Perempuan politik sebagai bagian penting dari NKRI dapat memainkan peran strategisnya dalam mengukuhkan wawasan kebangsaan melalui langkah sebagai berikut. Pertama, hadir di dunia politik dengan tekad kuat sebagai jalan pengabdian yang lurus dengan menjauhi cara-cara kotor dan tidak beretika.Kedua, menggunakan kesempatan bertemu masyarakat sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai cinta Tanah Air, berjuang dan membela negara, bekerja keras mewujudkan cita-cita nasional.

Ketiga, menunjukkan sikap dan perilaku yang menjunjung nilai nasionalisme dengan mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan kelompok dan golongan.

Keempat, memberikan edukasi dan sosialisasi pada masyarakat agar memahami politik, dalam arti sebenarnya, menjauhi sikap pragmatis dan transaksional agar tidak mencederai demokrasi. (MI)

berbagiTweetMengirim
Posting Sebelumnya

Epaper Edisi Rabu 16 September 2020

Posting berikutnya

Penemuan Vaksin Bukan Berarti Pandemi Berakhir

Dian Wahyu Kusuma

Dian Wahyu Kusuma

Posting berikutnya
Ilustrasi uji klinis.(Medcom.id/M Rizal)

Penemuan Vaksin Bukan Berarti Pandemi Berakhir

Tenaga kerja. Ilustrasi

Pencairan Subsidi Upah Capai 57 Persen

Negara G20 Belum Sepakati Perpajakan Internasional

Pandemi Tantangan Terberat Ani sebagai Menteri

Pemohon Pemutihan Pajak Dibatasi

Pemerintah Tanggung PPN Kertas Koran

Harga Emas Antam Anjlok 4 Hari Beruntun

Emas Antam Anjlok, IHSG Terbakar

BERITA TERBARU

  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Rabu, 25 Februari 2026 25 Februari 2026
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Selasa, 24 Februari 2026 24 Februari 2026
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Senin, 23 Februari 2026 23 Februari 2026
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Jum’at, 20 Februari 2026 20 Februari 2026
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Kamis, 19 Februari 2026 19 Februari 2026

TOP NEWS

Benang Merah Konflik Manusia dengan Satwa

23 Ribu Peserta Gagal Masuk SMA/SMK Negeri

Tembus Rp12,42 Miliar Ekonomi Syariah kian Kokoh

Jalur SPMB SMP Prioritaskan Jarak

Perencanaan Keuangan Kunci Kemapanan Finansial

Perkuat Akses Keuangan Inklusif

Kebingungan Peserta Warnai Hari Pertama SPMB

Buka Ekspor Sawit di Pasar Eropa

Perketat Pengawasan Truk ODOL

Kreatif Hadapi Efisiensi Anggaran

POPULAR POST

  • kantor DPRD lampung Utara

    Pelantikan Pimpinan DPRD Lampura Berlangsung Sederhana

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Rabu, 11 Februari2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Senin, 23 Februari 2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Jum’at, 20 Februari 2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Kamis, 19 Februari 2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
Facebook Twitter Youtube RSS Instagram

Tentang Kami

Lampost.co adalah laman berita resmi Harian Umum Lampung Post. Laman ini berada dalam naungan PT Masa Kini Mandiri, penerbit Koran Lampung Post yang menyajikan informasi berkualitas untuk melengkapi kehadiran koran edisi cetak di masyarakat.

Alamat Kami

PT Masa Kini Mandiri, Jl. Soekarno – Hatta No. 108, Hajimena, Lampung Selatan

Phone : (0721) 783-693
Fax : (0721) 783-578
Email : redaksi@lampungpost.co.id

Redaksi
Tentang Kami

Iklan & Sirkulasi

Sri Agustina : 0895-3463-91035
Ja’far Shodiq : 0812-1811-4344
Dat S Ginting 0822-6991-0113
Setiaji B. Pamungkas : 0813-6630-4630

Copyright © 2026. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • RAGAM
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS

Copyright © 2026. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

Open chat
1
Anda butuh bantuan ?
Admin Lampungpost.id
Halo, ada yang bisa kami bantu ?