SEJAK 1982 irigasi pertanian di Kampung Pujoasri, Kecamatan Trimurjo, Lampung Tengah, tidak tersentuh perbaikan. Alhasil, irigasi yang mengaliri 100 hektare sawah petani itu tidak bisa dimanfaatkan.
Kepala Kampung Pujoasri Kasiyanto berinisiatif melakukan renovasi irigasi tersebut dengan anggaran dana desa (DD) 2021. Hal tersebut dilakukan agar para petani setempat tidak lagi menanam palawija dan bisa kembali menanam padi.
“Irigasi itu dibangun sejak 1982. Dari saya masih kecil gembala kerbau sampai saya pensiun dari TNI. Baru pada 2021 direnovasi dan belum bisa maksimal karena keterbatasan anggaran,” kata dia, Rabu (9/2).
Ia menerangkan kondisi irigasi di Dusun 3 dan 4 itu memprihatinkan. Pasalnya, air yang mengalir tidak sampai ke persawahan petani lantaran banyak lubang tikus dan sebagian terkikis sehingga air terbuang ke kanan dan kiri tanggul.
“Kami mengambil kebijakan renovasi irigasi sepanjang 190 meter, dengan anggaran kurang lebih Rp53 juta. Sebab, saat itu air tidak bisa mengalir ke sawah petani. Kami sudah koordinasi dengan pendamping untuk melakukan renovasi secara terputus. Tidak tersambung karena banyak yang bolong, kalau disambung nanti percuma. Oleh sebab itu, kami tambal juga dengan sesuai jumlah panjang renovasi,” ujar dia.
Beberapa tahun terakhir ini, para petani setempat menanam palawija karena tidak cukup air untuk menanam padi. Hampir 100 hektare lahan di kecamatan yang menjadi lumbung pangan nasional itu tidak dapat menghasilkan padi.
“Sekarang sudah bisa tanam padi, meski belum semua. Beberapa tahun terakhir, mereka tanam palawija. Tidak bisa tanam padi karena irigasi tidak dapat mengaliri air. Harapan kami persoalan irigasi ini terselesaikan sehingga petani bisa kembali menanam padi dengan maksimal dan irigasi itu dapat berfungsi dengan maksimal,” ujarnya. (CK6/D2)






