RUSDY SENAPAL
MASYARAKAT Pekon Sridadi, Kecamatan Wonosobo, Tanggamus memanfaatkan lahan kosong untuk diubah menjadi kebun sayuran. Lahan seluas 200 M² itu ditanami sayur-mayur seperti kangkung, tomat, terong dan daun bawang.
Kepala Pekon Sridadi, Suwandi, mengatakan untuk mengelola kebun sayuran, Pendamping Pertanian dan pekon membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Kasih Bunda yang anggotanya adalah warga pekon setempat.
“Sayuran yang dihasilkan dijamin kesehatannya. Sebab, dalam perawatan tidak menggunakan pupuk kimia dan terbebas dari pestisida,” kata dia, Minggu (20/2).
Menurut dia, kegiatan ini menjadi ajang kreativitas warga di bidang pertanian. Saat ini KWT Kasih Bunda telah membuka dua lahan pertanian.
“Dalam kurun waktu tiga bulan, kelompok ini telah panen sayuran sebanyak tiga kali,” ujar dia.
Dia mengatakan, selain untuk dikonsumsi, hasil panen sebagian dijual untuk modal masa tanam berikutnya.
“Penambahan lahan baru sebagai media tanam sayuran sangatlah tepat, mengingat kebutuhan sayuran sehat yang bebas dari zat kimia sudah susah kita temukan,” katanya.
Jadwal Kerja
Sementara itu Ketua KWT Pekon Sridadi, Juneti, mengatakan pemeliharaan tanaman dilakukan secara bergantian yang diatur dengan jadwal kerja.
“Saat ini anggota KWT berjumlah 30 orang. Untuk memelihara dua lahan kebun sayur, jumlah itu dinilai cukup,” ujarnya.
Juneti menambahkan, jika nantinya akan membuka kembali lahan baru dibutuhkan penambahan anggota lagi. “Nanti saat kebun ini berhasil, pasti banyak ibu-ibu yang ingin bergabung ke KWT,” katanya.
Sebelumnya diberitakan Lampung Post, warga Dusun Batu Saeng, Desa Sinar Jawa, Kecamatan Air Naningan, Tanggamus, Suratman (70) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang mampu menerangi dusun setempat.
“Sayuran yang dihasilkan dijamin kesehatannya.”
Suratman mengatakan awal mula dibangun pembangkit yang mengandalkan arus air tersebut karena selama bertahun-tahun masyarakat di dusun setempat tidak pernah merasakan listrik secara utuh. “Kalau mau nonton televisi hitam putih harus pakai aki,” kata dia kepada Lampung Post, baru baru ini.
Ia pun berupaya membangun PLTMH berbekal pengetahuan seadanya. Pada prosesnya, Suratman dibantu beberapa warga yang memiliki visi dan misi yang sama untuk bangkit dari kegelapan. Berkat gotong-royong, pada 2007, PLTMH pun selesai digarap. Komponennya dibeli dari Kabupaten Pringsewu yang jaraknya sekitar 1,5 jam lebih dari dusun.
Menurutnya, proses pembuatan turbin hingga bisa digunakan hanya memakan waktu 20 hari. Sementara biaya yang dihabiskan sebesar Rp40-45 juta. “Itu pakai dana patungan dari para anggota,” ujar dia.
Pada awalnya, Suratman mengajak warga dan hanya terkumpul 25 orang untuk membangun dan menjadi anggota pengelola PLTMH. Setiap anggota menyumbang Rp2 juta selama 2 kali angsuran untuk membangun PLTMH. (D2)
rusdy@lampungpost.co.id







