UMAR ROBBANI

SATUAN Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengungkapkan 123 orang demonstran reaktif Covid-19 saat dilakukan tes cepat setelah diamankan aparat keamanan dalam aksi tolak UU Cipta Kerja pada 8 Oktober 2020.
“Dari data sementara massa yang diamankan pihak kepolisian dan TNI yang mengawal jalannya demonstrasi di beberapa provinsi, sangat memprihatinkan,” kata juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers virtual di Gedung BNPB Jakarta, Selasa (13/10).
Menurut Wiku, ada 21 orang reaktif dari 253 demonstran di Sumatera Utara, 34 orang reaktif dari 1.192 demonstran di DKI Jakarta, 24 orang reaktif dari 650 demonstran di Jawa Timur.
Kemudian sebanyak 30 orang reaktif dari 261 demonstran di Sulawesi Selatan, 13 orang reaktif dari 39 demonstran di Jawa Barat, dan 1 orang reaktif dari 95 demonstran yang diamankan di Yogyakarta. Sedangkan hasil tes demonstran di Jawa Tengah masih dalam tahap konfirmasi.
“Berdasar pada hasil pantauan dari aksi pekan lalu terdapat dua kelompok utama yang menyampaikan aspirasinya secara terbuka, yaitu kelompok mahasiswa dan kelompok buruh. Ini adalah cerminan puncak gunung es dari hasil pemeriksaan yang merupakan contoh kecil saja bahwa virus ini dapat menyebar dengan cepat dan luas,” ujar Wiku.
Wiku memprediksi angka tersebut akan meningkat dalam 2-3 pekan ke depan karena peluang penularan Covid-19 dari demonstran yang positif ke demonstran lainnya.
“Sebagai antisipasi adanya aksi lanjutan, kami imbau agar pihak universitas yang mahasiswanya mengikuti kegiatan untuk mengidentifikasi serta testing. Bagi mahasiswa yang hasil tesnya reaktif agar segera ditelusuri kontak terdekatnya atau tracing,” ujar Wiku.
Wiku juga minta disediakan tempat isolasi bagi mahasiswa yang terindikasi reaktif atau positif.
“Selanjutnya, bagi kelompok buruh, Satgas meminta segera dibentuk Satgas Covid-19 di tingkat perusahaan. Satgas di tingkat perusahaan ini selanjutnya dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk melakukan screening kepada buruh yang mengikuti aksi penyampaikan aspirasi,” ujar Wiku.
Tracing Anggota
Bagi mereka yang hasil tesnya reaktif, dapat segera ditelusuri kontak terdekatnya. “Selain itu, kami meminta kepada kepolisian maupun TNI untuk melanjutkan testing terhadap para anggotanya yang bertugas mengamankan aksi pada pekan lalu. Jika ada yang reaktif, juga segera lakukan tracing untuk memastikan kontak terdekatnya,” kata Wiku.
Sementara itu, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Sonny Harry B Harmadi mengatakan perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19.
Dia menuturkan, berdasar pada penelitian dari berbagai negara menunjukkan kebiasaan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan), terbukti efektif menurunkan angka penularan virus.
“Contoh kasus, pakai masker saja di beberapa negara yang menerapkan secara ketat, dalam waktu 21 hari angkanya langsung turun. Kasus penularannya bisa tinggal 25 persen, jadi besar sekali dampaknya,” kata Sonny dalam konferensi pers, Selasa (13/9).
Sonny menuturkan, 17% masyarakat Indonesia yang tidak percaya terhadap Covid-19 bisa berdampak kepada 83% masyarakat lainnya.
Padahal, perubahan perilaku merupakan upaya di hulu untuk mengurangi beban fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang berada di hilir.
Selain 3M, upaya penanganan kesehatan dengan 3T (testing, tracing, dan treatment) juga perlu dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
“Jadi kalau 3M dan 3T dilakukan secara bersamaan, penularan bisa diputus dengan lebih cepat. Jadi perubahan perilaku adalah partisipasi masyarakat. Kalau semua orang Indonesia patuh, dampaknya akan jadi besar,” ujarnya. (ANT/MI/S1)







