UMAR ROBANI

PERKEMBANGAN peta zonasi risiko pada pekan ini masih perlu menjadi perhatian. Karena zona oranye atau risiko sedang terus mengalami peningkatan jumlah daerahnya.
Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyebut per 25 Oktober 2020, jumlahnya meningkat lebih dari dua kali lipat.
Jumlah itu meningkat jika dibandingkan sejak pertamakali penetapan zonasi risiko daerah pada 31 Mei 2020, sebanyak 166 kabupaten/kota. Namun per 25 Oktober 2020, jumlah daerahnya bertambah mencapai 360 kabupaten/kota.
“Target kita bersama seluruh kabupaten/kota berada di zona kuning dan hijau. Kita tidak boleh merasa puasa berada di zona oranye,” kata Wiku melalui keterangan pers yang disampaikan pada Kamis (29/10) sebagaimana disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Wiku menyoroti pada 54 kabupaten/kota yang selama 10 Minggu berturut-turut berada dalam zona oranye. “Ini yang kami sebut sebagai perasaan nyaman tidak berada di zona merah, tetapi berada di zona oranye dalam waktu lama. Satgas sangat menyayangkan kondisi seperti ini,” lanjutnya.
Kondisi itu artinya, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap penanganan Covid-19 di wilayahnya masing-masing. Harusnya daerah-daerah yang tidak berubah kondisinya selama 10 Minggu berturut-turut itu, belajar untuk meningkatkan penanganan Covid-19 di wilayahnya masing-masing.
“Sepuluh minggu bukanlah waktu yang sebentar. Untuk itu kepada bupati dan walikota ini dibantu gubernurnya, untuk bisa memperbaiki kondisi di wilayahnya. Kami menunggu kepada 54 kabupaten/kota ini untuk bisa berpindah ke zona kuning,” pesan Wiku.
Selain itu, dari data peta zonasi risiko per 25 Oktober 2020, jumlah zona merah tercatat ada 20 kabupaten/kota, zona oranye 360 kabupaten/kota, zona kuning 115 kabupaten/kota dan zona hijau ada 19 kabupaten/kota.
Iman Imun Aman
Secara terpisah, Kepala Kemenag Lampung Juanda Naim menyampaikan, beragama menjadi ciri masyarakat Indonesia. Untuk itu dalam situasi pandemi seperti saat ini, masyarakat harus terus menjaga keimanan.
Menurutnya, dengan iman yang kuat maka masyarakat akan selalu tenang. Ia mengatakan dengan hati yang tenang maka imun tubuh akan terjaga.
“Kita sebagai masyarakat beragama harus selalu berdoa dan percaya ujian pandemi ini akan berakhir,” tuturnya.
Sementara, Akademisi Kesehatan Unila Khoirunnisa Berawi mengatakan, masyarakat harus menerapkan protokol kesehatan dalam kegiatan keseharian. Dengan menjalankan mencuci tangan pakai, menggunakan masker, dan menjaga jarak (3M) membuat masyarakat aman dari Covid-19.
Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga imun tubuh. Selain menjaga pola makan, selalu berfikir positif juga bisa menjaga imun tubuh tetap baik.
“Penanganan pandemi ini tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah tapi harus melibatkan semua pihak hingga keluarga,” kata dia. (S1)
umar@lampungpost.co.id







