• LAMPOST.CO
  • METROTV LAMPUNG
  • DESAKU
  • SUMA.ID
Sabtu, Juli 5, 2025
Berlangganan
Konfirmasi
  • Masuk
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • LAMBAN PILKADA
  • RAGAM
  • DESA
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • LAMBAN PILKADA
  • RAGAM
  • DESA
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Berlangganan
  • E-Paper
  • Indeks
  • Log in
Beranda Kolom Refleksi

Aktivis Propaganda

Abdul Gofur Editor Abdul Gofur
26 Maret 2018
di dalam Refleksi
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Iskandar Zulkarnain

Wartawan Lampung Post

KEMISKINAN melahirkan radikalisme. Miskin materi, miskin wawasan, miskin pemahaman keagamaan, juga miskin pergaulan menyebabkan anak bangsa terjerumus dalam gerakan radikal. Bagaimana menanggulanginya? Bangsa ini harus mengedepankan pendekatan kemanusiaan seperti agama, politik, ekonomi, pendidikan, keamanan, serta kultur dan budaya.

BACA JUGA

Wukuf di Arafah dan Keutamaan Berhaji

Perjuangan Belum Berakhir!

 Lampung Begawi dan Derajat UMKM

Kembalikan Tradisi Juara Umum

Selain itu, gerakan radikalisme tumbuh sumbur karena ekses dari distorsi dalam berdemokrasi. Contohnya? Kelompok anak bangsa yang suaranya tidak didengar akan melesat di luar pagar demokrasi. Mereka berteriak kencang menyuarakan antidemokrasi. Sangat sepele kan! Demokrasi yang dibangun tidak memberikan rasa keadilan bagi kelompok satu ini. Mereka juga manusia. Mereka ingin hidup. Mereka juga ingin disapa dan dirangkul.

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) pada November 2017 lalu menyebutkan lima besar provinsi secara nasional dengan tingkat potensi radikalisme cukup tinggi. Salah satunya adalah Lampung. Paling tinggi ditempati Bengkulu di angka 58,58%, menyusul Gorontalo 58,48%, Sulawesi Selatan 58,42%. Lampung berada di posisi keempat, yakni 58,38%. Posisi kelima adalah Kalimantan Utara (58,3%).

Ranking potensi kerawanan itu disampaikan Kapolda Lampung Irjen Suntana dalam kuliah umumnya di hadapan civitas akademika Universitas Lampung, Rabu (21/3/2018). Sebagai komandan kamtibmas, Suntana juga membeberkan ada 101 orang di Lampung ini terindikasi simpatisan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang tersebar di 11 kabupaten. Di luar dugaan!

Dalam survei BNPT, kata Suntana lagi, pelaku radikalisme dan terorisme itu pernah mengeyam lulusan SMA sebesar 63,6%, drop out/dikeluarkan dari perguruan tinggi 5,5%, dan lulusan perguruan tinggi 16,4%. Strategi penyebaran ideologi radikal ini dilakukan melalui jariangan komunikasi langsung, perkawinan, dakwah, penerbitan buku, pendidikan, dan media internet. Angka di atas adalah fakta bahwa sasaranya adalah anak muda.

Maka itu, seorang cendekiawan muslim, Azyumardi Azra mengingatkan generasi muda Islam harus bersikap kritis menghadapi gagasan radikal baik di dunia nyata maupun dunia maya. Banyak propaganda kelompok-kelompok radikal yang tidak bersumber dari fakta sejarah. Yang mudah disusupi adalah perguruan tinggi melalui aktivitas dakwah di kampus.

BNPT memiliki data bahwa penyusupan radikalisme ke kampus melibatkan dosen dan mahasiswa. Bahkan, lembaga ini memetakan dosen yang diduga memiliki paham radikal dan tidak sejalan dengan nilai Pancasila. Penyebaran paham itu tumbuh dan berkembang dengan makin mudahnya mengakses teknologi komunikasi digital. Penyebarannya sangat terang benderang.

Seperti propaganda membangun daulah islamiyah. Hingga saat ini, sejarah membuktikan, tidak ada daulah islamiyah atau khilafah yang berhasil hidup di bumi Nusantara. Pada tahun politik ini, propaganda yang ditebar aktivis radikalisme sangat laku dijual. Generasi now?anak muda harus kritis, dan tidak mudah digoda dengan retorika yang berakhir menyesatkan.

Anak Presiden ke-4 RI Gus Dur, Yenny Wahid pernah mengungkapkan hasil survei Lingkar Survei Indonesia (LSI) bahwa 0,4% muslim Indonesia pernah terlibat dalam radikalisme baik secara aktif, maupun menyumbang dana untuk gerakan radikal dan intoleran. Menurut Yenny, angka itu sangat fantastis jika diambil dari jumlah penduduk di Indonesia. Maka akan ditemukan ada 600 ribu anak bangsa pernah terlibat gerakan radikal.

Yang paling mengejutkan dari hasil survei itu, sebanyak 7,7% warga Indonesia berpotensi terlibat gerakan radikalisme jika ada kesempatan. “Artinya ada 11 juta orang jika dilihat dari jumlah penduduk di Indonesia,” ujar Yenny. Sungguh mengkhawatirkan, namun Yenny merasa lega bahwa 72% responden dari survei itu menolak aksi dan tindakan radikal.

Diakui atau tidak, menjamurnya paham radikal di negeri ini akibat pikiran anak-anak bangsa yang miskin pengetahuan. Karena dipikirannya adalah surga. Orang yang tidak sepaham dengan alirannya bukan saudaranya. ?Kami penghuni surga,? kata dia. Kalau sudah begitu, surga bisa didapatkan secara cepat dan instan, serta jalan pintas. Maka itu, pendidikan harus menjadi garda terdepan untuk pencegahan radikalisme.

Nahdlatul Ulama (NU) juga pernah merekomendasikan kepada pemerintah agar menguatkan pendidikan karakter berwawasan moderatisme yang diimplementasikan ke dalam kurikulum. Selain itu, peningkatan kapasitas tenaga pendidik melalui kompetensi, dan pengelolaan program strategis seperti bidik misi. Lembaga pengelola dana pendidikan untuk membantu siswa dan mahasiswa miskin juga sebagai penangkal radikalisme.

Kalau mau bicara soal kebangsaan, generasi yang mengembangkan paham radikalisme saat ini, justru lebih mundur dari para pejuang pendiri negara. Ketika Sumpah Pemuda berkumandang pada 1928, anak-anak bangsa dari berbagai pelosok negeri ini melepaskan identitas, menembus batas-batas untuk mengusung keindonesiaan. Mereka cinta Tanah Air.

Pada penghujung tahun 2017, tepatnya 18 Desember, BNPT mengumpulkan sedikitnya 100 mantan teroris di Masjid Istiqlal, Jakarta. Hasilnya? Mantan teroris yang bertobat itu mengimbau anak bangsa yang masih terjebak dalam jaringan radikalisme dan terorisme agar menyadari perbuatannya. Mereka mengaku ada yang salah terhadap pemahaman selama ini.

Agama mengajarkan ketenteraman dan kecerdasan. Paham radikalisme dan terorisme menimbulkan kekacauan, keresahan, dan merusak nilai-nilai kemanusiaan. Ribuan orang meregang nyawa, tidak sedikit yang cacat tubuh seumur hidup. Irak, Suriah, Afghanistan adalah contohnya. Tadinya, negara itu damai, kini porak poranda. Akankah Indonesiaku seperti negeri tersebut? Jawabnya, TIDAK!

berbagiTweetMengirim
Posting Sebelumnya

Sukarelawan Sosialisasikan Mustafa Aja

Posting berikutnya

Dua Kandidat Doktor UIN Kaji Masalah Keluarga

Abdul Gofur

Abdul Gofur

Redaktur koordinator liputan cetak, online, video dan radio Lampung Post

Posting berikutnya

Dua Kandidat Doktor UIN Kaji Masalah Keluarga

Vanesha Prescilla Eksplorasi Seni Peran

Lambar Diguyur Dana Prioritas Rp29,9 Miliar

Buruh Flyover Ingin Anaknya Jadi Sarjana

Liones Wangsa Disidang Pekan Depan

BERITA TERBARU

  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Sabtu, 05 Juli 2025 5 Juli 2025
  • Sepak Bola Kehilangan Diogo Jota dan Andrea Silva 5 Juli 2025
  • Liga Indonesia All Star Siap Hadapi Oxford United 5 Juli 2025
  • Satu Pemain Diaspora Baru segera Bergabung 4 Juli 2025
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Jum’at, 04 Juli 2025 4 Juli 2025

TOP NEWS

Benang Merah Konflik Manusia dengan Satwa

23 Ribu Peserta Gagal Masuk SMA/SMK Negeri

Tembus Rp12,42 Miliar Ekonomi Syariah kian Kokoh

Jalur SPMB SMP Prioritaskan Jarak

Perencanaan Keuangan Kunci Kemapanan Finansial

Perkuat Akses Keuangan Inklusif

Kebingungan Peserta Warnai Hari Pertama SPMB

Buka Ekspor Sawit di Pasar Eropa

Perketat Pengawasan Truk ODOL

Kreatif Hadapi Efisiensi Anggaran

POPULAR POST

  • kantor DPRD lampung Utara

    Pelantikan Pimpinan DPRD Lampura Berlangsung Sederhana

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • BPK RI Periksa Keuangan Polres Lampung Timur

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Rabu, 02 Juli 2025

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Senin, 30 Juni 2025

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Selasa, 01 Juli 2025

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
Facebook Twitter Youtube RSS Instagram

Tentang Kami

 

LampungpostID adalah laman berita resmi Harian Umum Lampung Post. Laman ini berada dalam naungan PT Masa Kini Mandiri, penerbit Koran Lampung Post yang menyajikan informasi berkualitas untuk melengkapi kehadiran koran edisi cetak di masyarakat.

Alamat Kami

PT Masa Kini Mandiri, Jl. Soekarno – Hatta No. 108, Hajimena, Lampung Selatan

Phone : (0721) 783-693
Fax : (0721) 783-578
Email : redaksi@lampungpost.co.id

Redaksi
Tentang Kami

Iklan & Sirkulasi

Bachtiar Al Amin : 0812-7339-8855
Ja’far Shodiq : 0812-1811-4344
Dat S Ginting 0822-6991-0113
Setiaji B. Pamungkas : 0813-6630-4630

LampungpostID © 2022

Selamat Datang kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Password yang terlupakan?

Ambil kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email Anda untuk mengatur ulang kata sandi Anda.

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • LAMBAN PILKADA
  • RAGAM
  • DESA
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS

LampungpostID © 2022

Open chat
1
Anda butuh bantuan ?
Admin Lampungpost.id
Halo, ada yang bisa kami bantu ?