{"id":141956,"date":"2020-11-04T21:37:44","date_gmt":"2020-11-04T14:37:44","guid":{"rendered":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?p=141956"},"modified":"2020-11-04T21:42:18","modified_gmt":"2020-11-04T14:42:18","slug":"penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/","title":{"rendered":"Penyandang Disabilitas Perjuangkan Pemenuhan Hak\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><b>Dian Wahyu Kusuma\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">LANGKAH kaki Rifka tampak hati-hati saat memasuki gedung tempatnya bekerja di Bandar Lampung. Kantornya memang belum memiliki <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">guide block <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">untuk menuntun tongkatnya supaya tak melenceng. &#8220;Takutnya jatoh,&#8221; kata Rifka, Senin (12\/10\/2020).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rifka Aprilia baru satu setengah tahun menjadi disabilitas netra. Matanya kabur, hingga berangsur tak mampu melihat. Penyakitnya terbilang langka. Ia mesti rutin periksa darah dua pekan sekali di puskesmas.\u00a0Perempuan berumur 33 tahun ini merupakan aparatur sipil negara (ASN) di kantor Pengadilan Tinggi Agama Propinsi Lampung.\u00a0 Ia menjadi disabilitas netra karena penyakit kekentalan darah. Selama enam bulan sejak netra, Rifka amat terpukul. Harapannya untuk bekerja pupus. Ia dipaksa untuk berhenti atau pensiun dini. Namun, sejak 2019 lalu, ia bertemu dengan lembaga netra, yakni Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Lampung<\/span><b>.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Di sana, ia mendapat pendampingan, semangat, dan keluarga baru. Ia pun berusaha agar bisa kembali bekerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kantor tempatnya bekerja akhirnya memberi kesempatan baginya menjalani masa pemulihan dari sakitnya.\u00a0 Kini, Rifka mulai bisa menerima keadannya. Ia bahkan belajar mengoperasikan komputer bicara. Sejak November 2019, ia sudah bisa kembali bekerja di posisi yang sama, berkat bantuan rekan netra di Lampung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rifka berharap kantor dan pelayanan publik juga bisa ramah difabel. Mengapa begitu? Pemerintah Indonesia telah memiliki UU no 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas diantaranya disabilitas memiliki hak aksesibilitas. Aksesibilitas ini, mesti menjadi perhatian bersama antara dinas sosial, pehubungan, maupun pekerjaan umum.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalamannya selama menjadi disabilitas, membuatnya berharap pemenuhan pelayanan bagi disabilitas bisa menjadi perhatian bersama khususnya legislatif dan pemerintah daerah melalui aturan seperti perda.\u00a0 \u201c(Karena) Yang sehat saja punya peluang menjadi disabilitas,\u201d ujar Rifka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rifka ingin ada aturan yang khusus mengenai kuota ketenagakerjaan disabilitas seperti yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. \u201cHarusnya pemda bisa menjamin (ketenagakerjaan disabilitas) karena kami sulit sekali mendapat pekerjaan,\u201d ujarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Bertahan di Saat Pendemi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rifka bisa jadi lebih beruntung dibanding Mukhsin. Jika Rifka masih bisa bekerja kembali di kantornya, maka Mukhsin yang juga seorang disabiltasnetravharus berpikir keras\u00a0 saat pendemi tiba-tiba datang. Masalahnya, layanan jasa pijat yang ditekuninya kini permintaannya sepi bahkan turun drastis.\u00a0 Ia bersama istrinya akhirnya beralih usaha dari jasa pijat menjadi pedagang kerupuk keliling kompleks perumahan di Bandar Lampung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mukhsin bisa memanggul 60 bungkus kerupuk sekali berangkat. Gamar Alka, istri Mukhsin lah yang membantu membungkus aneka kerupuk tersebut, menjadi kemasan-kemasan kecil, harganya Rp5.000 per kemasan. Ada untir-untir, keripik singkong, kerupuk jengkol, dan cucuk gigi.Gamar mengaku sudah dua bulan ini ia dirumahkan dari pekerjaannya\u00a0 bengkel sebagai juru memasak. &#8220;<\/span>Hasil dari berjualan kerupuk lumayan, kadang ada warga yang memberi uang lebih,\u201d ujar Mukhsin didampingi sang istri, Rabu (14\/10\/2020) lalu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<figure id=\"attachment_141904\" aria-describedby=\"caption-attachment-141904\" style=\"width: 882px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-penyandang-disabilitas-netra-Mukhsin-saat-berjualan-kerupuk-di-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-141904\" src=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-penyandang-disabilitas-netra-Mukhsin-saat-berjualan-kerupuk-di-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma.jpg\" alt=\"\" width=\"882\" height=\"768\" srcset=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-penyandang-disabilitas-netra-Mukhsin-saat-berjualan-kerupuk-di-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma.jpg 882w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-penyandang-disabilitas-netra-Mukhsin-saat-berjualan-kerupuk-di-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-300x261.jpg 300w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-penyandang-disabilitas-netra-Mukhsin-saat-berjualan-kerupuk-di-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-768x669.jpg 768w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-penyandang-disabilitas-netra-Mukhsin-saat-berjualan-kerupuk-di-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-150x131.jpg 150w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-penyandang-disabilitas-netra-Mukhsin-saat-berjualan-kerupuk-di-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-750x653.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 882px) 100vw, 882px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-141904\" class=\"wp-caption-text\">Penyandang disabilitas netra, Mukhsin saat berjualan kerupuk di Bandar Lampung. Lampung Post\/ Dian Wahyu Kusuma<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, Mukhsin tinggal di gang Delima, Kemiling, Bandar Lampung. Rumah papan kayu ukuran 6&#215;8 meter itu ia buat sederhana. Ia menyewa lahan dengan biaya sewa Rp300 ribu per tahun. Ia merupakan anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Lampung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya Mukhsin, sejumlah orang di komunitas Sahabat Difabel Lampung (Sadila) juga tengah berjuang menghadapi pandemi. Sejak Juni 2020, mereka mulai belajar membuat makanan kelas cafe serta membuat perangkat kursi, meja, dan aksesorisnya.\u00a0 \u201cMinggu ini pelatihan membuat makanan desert roti bakar, pisang crispy,\u201d kata Musas, koordinator masak dari Sadila.\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_141902\" aria-describedby=\"caption-attachment-141902\" style=\"width: 2560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-1-Komunitas-sahabat-difabel-Lampung-Sadila-saat-memasak-makanan-untuk-persiapan-pembuatan-cafe-di-Badnar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-scaled.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-141902\" src=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-1-Komunitas-sahabat-difabel-Lampung-Sadila-saat-memasak-makanan-untuk-persiapan-pembuatan-cafe-di-Badnar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-scaled.jpg\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1887\" srcset=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-1-Komunitas-sahabat-difabel-Lampung-Sadila-saat-memasak-makanan-untuk-persiapan-pembuatan-cafe-di-Badnar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-scaled.jpg 2560w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-1-Komunitas-sahabat-difabel-Lampung-Sadila-saat-memasak-makanan-untuk-persiapan-pembuatan-cafe-di-Badnar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-300x221.jpg 300w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-1-Komunitas-sahabat-difabel-Lampung-Sadila-saat-memasak-makanan-untuk-persiapan-pembuatan-cafe-di-Badnar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-1024x755.jpg 1024w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-1-Komunitas-sahabat-difabel-Lampung-Sadila-saat-memasak-makanan-untuk-persiapan-pembuatan-cafe-di-Badnar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-768x566.jpg 768w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-1-Komunitas-sahabat-difabel-Lampung-Sadila-saat-memasak-makanan-untuk-persiapan-pembuatan-cafe-di-Badnar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-1536x1132.jpg 1536w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-1-Komunitas-sahabat-difabel-Lampung-Sadila-saat-memasak-makanan-untuk-persiapan-pembuatan-cafe-di-Badnar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-2048x1510.jpg 2048w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-1-Komunitas-sahabat-difabel-Lampung-Sadila-saat-memasak-makanan-untuk-persiapan-pembuatan-cafe-di-Badnar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-150x111.jpg 150w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-1-Komunitas-sahabat-difabel-Lampung-Sadila-saat-memasak-makanan-untuk-persiapan-pembuatan-cafe-di-Badnar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-750x553.jpg 750w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-1-Komunitas-sahabat-difabel-Lampung-Sadila-saat-memasak-makanan-untuk-persiapan-pembuatan-cafe-di-Badnar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-1140x840.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-141902\" class=\"wp-caption-text\">Komunitas sahabat difabel Lampung (Sadila) saat memasak makanan untuk persiapan pembuatan cafe, di Bandar Lampung. Lampung Post\/ Dian Wahyu Kusuma<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eti Mutmainah, Ketua Sadila menuturkan komunitasnya sudah dua tahun terbentuk. Alumnus pendidikan luar biasa FKIP Universitas Muhammadiyah Lampung ini membentuk komunitas yang sekarang jumlah anggotanya mencapai 30 orang. Anggota komunitas juga mendapat tawaran dari perusahaan swasta untuk bekerja misalnya di bagian kasir, atau gudang.\u00a0 Sekarang ada 4 anggota kelompok yang bekerja di salah satu rumah makan dan stationerry di Bandar Lampung. Komunitas Sadila ini memiliki mimpi untuk membuka cafe yang tenaga kerjanya dari kelompok difabel.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Perda Belum Memihak<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketua Pertuni Lampung Supron mengatakan pemenuhan kebutuhan disabilitas belum sepenuhnya dirasakan, terutama terkait dengan lapangan pekerjaan.\u00a0 Padahal, Lampung telah memiliki peraturan daerah (Perda) No. 10 tahun 2013 tentang pelayanan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Perda tersebut diantaranya mengatur penyandang disabilitas mempunyai hak, kewajiban dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan yang layak dalam hal pendidikan; ketenagakerjaan; kehidupan sosial;kesehatan; aksesibilitas; bidang seni, budaya dan olahraga; bidang politik; bidang hukum; dan tempat tinggal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Supron menuturkan, semua satuan kerja perangkat daerah bisa terlibat dalam pemenuhan hak disabilitas.Ia menambahkan untuk menjamin pemenuhan hukum penyandang disabilitas maka paradigmanya adalah multi sektor. \u201cYang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">terframing <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dimasyarakat persoalan disabilitas itu yakni persoalan sosial.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal menurutnya ada persoalan politik, hukum dan kesehatan yang tak kalah penting. Oleh karena itu ia menegaskan kata kuncinya ketika peraturan ini dibuat bukan lagi soal pelayanan tapi juga soal pemenuhan, sehingga posisi disabilitas itu bukan hanya sebagai objek, orang yang diberi belas kasihan, tapi bisa menjadi subjek dari proses pembangunan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPotensi disabilitas juga sangat besar sebagai aktor dalam pembangunan,\u201d terang Guru Sekolah Luar Biasa di Bandar Lampung ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Supron ingin perda bisa memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas hidup penyandang disabilitas. \u201cKita sangat sedih sudah ada peraturan daerah mulai 2013 sampai sekarang namun tidak ada perkembangan signifikanbagi disabilitas di Lampung. Oleh karena itu kami mendukung revisi (perda). Kami ingin implementasinya dijalankan,\u201d ucap Supron.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk memperjuangkan pemenuhan disabilitas di Lampung, Supron selaku Ketua Pertuni bersama berbagai NGO disabilitas di Lampung telah memberi masukan pada penyusunan revisi Perda peraturan daerah No. 10 tahun 2013 supaya 22 pemenuhan HAM yang tertuang dalam UU No. 8 tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas. Ia menyatakan penyandang disabilitas juga memiliki hak untuk bekerja dan mendapatkan imbalan dari kerja kerasnya sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam Undang-undang tersebut. Supron tak ingin kejadian penyandang disabilitas Romi Syofpa Ismael di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat yang sempat digugurkan kelulusan CPNSD-nya pada 2019 lalu, terulang di Lampung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Tri Susilo Ketua Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU) Lampung menjelaskan pada prinsipnya saat ini di Lampung perusahaan belum mau mempekerjakan disabilitas, kecuali industri rumah tangga, keterampilan, distribusi rumah tangga untuk membuat makanan, kerajinan tangan. \u201cItu bisa dipakai, tapi kalau di pabrik perlu fisik yang bagus,\u201d ujarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia menilai, perda harus menyesuaikan UU yang ada di pusat. \u201cKalau di pusat ada UU turunannya harus ada di daerah,\u00a0seharusnya di daerah dimuatkan dengan Perda1-2 persen\u00a0(pekerja disabilitas). Kita tidak boleh diskriminasi, menyesuaikan.\u00a0Tapi tidak tahu praktik di lapangannya,\u201d ucap Tri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrang yang menderita sakit saja perusahaan inginnya kami <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">resign<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> apalagi yang disabilitas,\u201d ujarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Disinggung soal rancangan Perda, Jauharoh Haddad Ketua Badan Pembentuk Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Lampung menuturkan rancangan peraturan daerah tentang disabilitas ini belum final.\u00a0 \u201cKami lihat masukan, apakah masuk tidak semua masuk kewenangan propinsi, kita lihat lagi UU kaitannya dengan UU diatasnya, dikaji lagi, (wewenang) pemda sebatas mana,\u201d ujarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia tak ingin terjadi tumpang tindih antar peraturan. \u201cDiskusi dulu dengan tenaga ahli, kita lihat lagi sepanjang tidak bertentangan, kita (akan) akomodir,\u201d ujarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditegaskan oleh Budhi Prasetyanti Sapto Condrowati\u00a0Anggota Komisi V DPRD Lampung, pihaknya dalam menyusun perda disabilitas melibatkan tenaga ahli dari akademisi serta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stakeholder<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0 \u201cKami merasa Perda No.10 tahun 2013 (tentang pelayanan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas) merasa perlu direvisi, supaya perda disabilitas makin maju dan baik, ingin kaum disabilitas bisa diterima di semua aspek kehidupan,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Abdulah Fikri\u00a0Founder\u00a0Pusat kajian dan advokasi inklusi\u00a0(Pusdakin) mengusulkan rancangan perda tentang disabilitas di Lampung harus memenuhi beberapa unsur. Pertama, perda disabilitas harus memenuhi\u00a0hak asasi manusia<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> (human right base)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai subjek paradigmanya, kedua judul utama perda mestinya pemenuhan hak, bukan lagi ke penyelenggaraan pelayanan dan kesejahteraan sosial. Lalu perda harus bisa mencakup multi sektor. \u00a0\u201cKata Pemenuhan sudah pasti ada pelayanan,\u201d ujarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini rancangan perda memang sudah di ganti dari pelayanan disabilitas menjadi Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial Bagi Penyandang Disabilitas. Namun, bagi Fikri hal ini masih belum menjadi keinginan para disabilitas. \u201cKami sudah habis-habisan (mengawal raperda),\u201d ujarnya, Senin (26\/10\/2020).\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_141905\" aria-describedby=\"caption-attachment-141905\" style=\"width: 1754px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/grafis-hak-disabilitas.jpeg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-141905\" src=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/grafis-hak-disabilitas.jpeg\" alt=\"\" width=\"1754\" height=\"1240\" srcset=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/grafis-hak-disabilitas.jpeg 1754w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/grafis-hak-disabilitas-300x212.jpeg 300w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/grafis-hak-disabilitas-1024x724.jpeg 1024w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/grafis-hak-disabilitas-768x543.jpeg 768w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/grafis-hak-disabilitas-1536x1086.jpeg 1536w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/grafis-hak-disabilitas-150x106.jpeg 150w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/grafis-hak-disabilitas-120x86.jpeg 120w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/grafis-hak-disabilitas-750x530.jpeg 750w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/grafis-hak-disabilitas-1140x806.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1754px) 100vw, 1754px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-141905\" class=\"wp-caption-text\">Grafis hak disabilitas. Dok Lampung Post<\/figcaption><\/figure>\n<p><b>Ketenagakerjaan Disabilitas\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini ada 852 anggota Pertuni di Lampung. Ketua DPD Pertuni Lampung Supron Risdiono mengatakan sebagian besar anggota Pertuni belum menjadi anggota BP Jamsostek. Mayoritas dari mereka tak memiliki pekerjaan tetap. Alasan pendidikan rendah menjadi penyebabnya, misalnya saja Mukhsin. Ia mengaku belum terdaftar sebagai peserta BP Jamsostek. Sementara untuk BPJS Kesehatan, Mukhsin dan keluarga sudah mendapat bantuan iuran dari pemerintah. Padahal, sebagai tunanetra ia rentan mengalami kecelakaan saat berdagang, misalnya ketika keliling kompleks rumah di Bandar Lampung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bapak\u00a0 tiga orang anak ini mengatakan tertarik untuk mengikuti program BP Jamsostek kategori bukan penerima upah. Ia bahkan bercerita telah membuat polis asuransi jiwa. Bayaran preminya yakni Rp3,6 juta per tahundengan masa iuran mencapai 10 tahun. \u201cTahun ini sudah selesai,\u201d ujarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Bael Novridu, Cash Manager Kecelakaan Kerja-Penyakit Akibat Kerja (KK-PAK) BP Jamsostek cabang Bandar Lampung, penyandang disabilitas atau pekerja bukan karyawan bisa mengaktivasi kepesertaan BP Jamsostek melalui program Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU). Sementara pada tahun ini,\u00a0 pihak BP Jamsostek menjadi mitra pemerintah untuk memberikan data bantuan subsidi upah yakni Rp600 ribu per bulan selama empat bulan di masa pandemi Covid-19.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia menuturkan pihak BP Jamsostek sudah mewajibkan program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">return to work<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tapi masih ada perusahaan di Lampung yang belum siap. Ketika pekerja mengalami kecelakaan kerja sehingga tidak mampu bekerja selama pengobatan, maka pihak BP Jamsostek memberikan insentif STMB (Sementara Tidak Mampu Bekerja). Insentif STMB ini dapat diproses setelah karyawan mendapat catatan dari dokter usai selesai masa pengobatannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Data BP Jamsostek Bandar Lampung, sejak 2016-2018 ada 8 karyawan yang telah mengikuti program JKK <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">return to work<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sementara sejak 2019-2020, tidak ada karyawan yang kecelakaan parah sehingga menyebabkan disabilitas.\u00a0 \u201cArtinya K3 perusahaan makin baik di Bandar Lampung,\u201d ujar Bael.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bael menuturkan saat ini ada 425 perusahaan yang telah mendaftarkan karyawannya untuk mengikuti program jaminan kecelakaan kerja (JKK) return to work. Sementara BPS Lampung mencatat ada 448 perusahaan pada skala industri besar dan sedang pada 2018, dengan 61.026 karyawan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia melanjutkan, tenaga kerja yang mengalami disabilitas karena kecelakaan kerja akan mendapat pendampingan dan pelatihan kerja. Dalam hal ini, BP Jamsostek telah bekerja sama dengan balai latihan kerja (BLK) swasta maupun milik pemerintah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Muhammad Gandi Fasha Kepala Seksi Pelatihan dan Pegembangan UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Bandar Lampung, Dinas Ketenagakerjaan propinsi Lampung menuturkan pihaknya pernah bekerjasama dengan Kementerian Sosial untuk mengadakan pelatihan kerja kepada penyandang disabilitas pada 2017 lalu. Namun, karena fasilitator BLK tidak mempunyai kemampuan pendampingan terhadap disabilitas, program pelatihan berjalan kurang bagus.\u00a0 \u201cKami gak punya pelatih kapabel,\u201d ujar Gandi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, instruktur merasa kesulitan dengan komunikasi peserta.\u00a0 Penyandang disabilitas perlu pendamping sebagai jembatan komunikasi antara instruktur dan peserta disabilitas. P<\/span>ada saat itu, pihaknya hanya mensyaratkan peserta dari disabilitas tuna daksa ringan. Artinya, memiliki dua tangan utuh dan bisa berdiri baik itu dengan bantuan alat.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSecara umum, BLK Bandar Lampung belum siap melatih disabilitas secara mandiri. Tenaga instruktur belum terlatih,\u201d ujarnya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bila ada aturan yang mengikat soal pelatihan terhadap disabilitas, maka pihaknya akan membantu melalui program yang tersedia. Misalnya peralihan anggaran reguler, sebagian bisa dialihkan untuk disabilitas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini BLK bandar Lampung memiliki jurusan komputer, perhotelan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">waitress<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), menjahit, las, dan elektronik dengan 13 kelas.\u00a0 Menurutnya, 91 orang penyandang disabilitas yang telah berlatih kemampuan ke BBCRPD Cibinong sudah bagus. \u201cKami melatih tenaga kerja, penyaluran pemasaran tenaga kerja kita ga bisa maksa,\u201d ujarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal senada disampaikan Sutikno Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas (RSPD) Dinas Sosial Propinsi Lampung mengatakan pihak Dinsos Lampung hanya menyediakan pelatihan bagi disabilitas yang memiliki fisik bagus dan bisa dibimbing seperti pelatihan pijit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari data yang dikumpulkan dinas sosial sampai Maret 2020, saat ini ada 38.228 orang penyandang disabilitas di Lampung. Sutikno menjelaskan, penyandang disabilitas yang bekerja di sektor formal baru 12 orang, yakni baru satu perusahaan yang baru melapor ke dinas. Ia melanjutkan selama 2020, ada bantuan bagi disabilitas yakni Rp2 juta per orang dari Kementerian Sosial yang telah disalurkan kepada pada 16 lembaga yakni 456 orang dan individu 926 orang. Sementara, rehabilitasi sosial untuk jenis disabilitas lainnya belum bisa dipenuhi di Lampung.\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_141906\" aria-describedby=\"caption-attachment-141906\" style=\"width: 767px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Wawan-penyandang-disabilitas-daksa-asal-Way-Halim-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-141906\" src=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Wawan-penyandang-disabilitas-daksa-asal-Way-Halim-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma.jpg\" alt=\"\" width=\"767\" height=\"1024\" srcset=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Wawan-penyandang-disabilitas-daksa-asal-Way-Halim-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma.jpg 767w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Wawan-penyandang-disabilitas-daksa-asal-Way-Halim-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-225x300.jpg 225w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Wawan-penyandang-disabilitas-daksa-asal-Way-Halim-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-150x200.jpg 150w, https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Wawan-penyandang-disabilitas-daksa-asal-Way-Halim-Bandar-Lampung-Lampung-Post-Dian-Wahyu-Kusuma-750x1001.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 767px) 100vw, 767px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-141906\" class=\"wp-caption-text\">Wawan, penyandang disabilitas daksa asal Way Halim Bandar Lampung. Lampung Post\/ Dian Wahyu Kusuma<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyandang disabilitas yang memiliki kemauan mendapat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">soft skills <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bisa dilakukan di luar Lampung. <\/span>Wawan, penyandang disabilitas daksa asal Way Halim Bandar Lampung misalnya mendapat pelatihan di pusat Rehabilitasi Yakkum, Yogyakarta. Ia belajar mengenai elektonik. Saat ini, Wawan menyediakan jasa service elektronik, baik itu service di rumah ataupun di panggil ke rumah pelanggannya.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain Rehabilitasi Yakum, Yogyakarta, ada juga Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBVRPD) Cibinong, Jawa Barat, milik Kementerian Sosial.\u00a0 Triyanto tuna daksa yang juga Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Penyandang Disabilitas (LKS PD) Lampung Selatan pernah belajar tentang ilmu komputer di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBVRPD) Cibinong, Jawa Barat, milik Kementerian Sosial itu. Saat ini Triyanto membuka usaha jasa fotografi di rumahnya, Desa Merbau Mataram kec Merbau Mataram Lampung Selatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ismet Syaefullah\u00a0Kabid Layanan Teknis Vokasional BBVRPD, Kementerian Sosial saat berkunjung ke Lampung, Selasa (20\/10\/2020) mencatat penyandang disabilitas asal Lampung yang sudah mengikuti pelatihan sebanyak 91 orang, 44 diantaranya telah disalurkan ke perusahaan di Pulau Jawa. Sementara 38 orang melakukan usaha mandiri dan yang kembali ke daerah 9 orang karena pandemi Covid-19. Menurut Ismet, pemberdayaan disabilitas di Lampung harus menjadi perhatian bersama.\u00a0 \u201cTergantung bagaimana kepala daerah mengajak swasta untuk menerima disabilitas,\u201d tutupnya. (*)\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dian Wahyu Kusuma\u00a0 LANGKAH kaki Rifka tampak hati-hati saat memasuki gedung tempatnya bekerja di Bandar Lampung. Kantornya memang belum memiliki guide block untuk menuntun tongkatnya supaya tak melenceng. &#8220;Takutnya jatoh,&#8221; kata Rifka, Senin (12\/10\/2020).\u00a0 Rifka Aprilia baru satu setengah tahun menjadi disabilitas netra. Matanya kabur, hingga berangsur tak mampu melihat. Penyakitnya terbilang langka. Ia mesti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":141903,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[85,80,40],"tags":[],"class_list":["post-141956","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-feature","category-kota","category-lampung-2"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v24.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Penyandang Disabilitas Perjuangkan Pemenuhan Hak\u00a0 - Jendela Informasi Lampung<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Penyandang Disabilitas Perjuangkan Pemenuhan Hak\u00a0 - Jendela Informasi Lampung\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dian Wahyu Kusuma\u00a0 LANGKAH kaki Rifka tampak hati-hati saat memasuki gedung tempatnya bekerja di Bandar Lampung. Kantornya memang belum memiliki guide block untuk menuntun tongkatnya supaya tak melenceng. &#8220;Takutnya jatoh,&#8221; kata Rifka, Senin (12\/10\/2020).\u00a0 Rifka Aprilia baru satu setengah tahun menjadi disabilitas netra. Matanya kabur, hingga berangsur tak mampu melihat. Penyakitnya terbilang langka. Ia mesti [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Jendela Informasi Lampung\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-11-04T14:37:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-11-04T14:42:18+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-aktivitas-komunitas-sahabat-difabel-Lampung-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1917\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Dian Wahyu Kusuma\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Dian Wahyu Kusuma\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"11 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/\"},\"author\":{\"name\":\"Dian Wahyu Kusuma\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/e89d071a2e3b3bbe7e3fb9e0a8493f11\"},\"headline\":\"Penyandang Disabilitas Perjuangkan Pemenuhan Hak\u00a0\",\"datePublished\":\"2020-11-04T14:37:44+00:00\",\"dateModified\":\"2020-11-04T14:42:18+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/\"},\"wordCount\":2133,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-aktivitas-komunitas-sahabat-difabel-Lampung-scaled.jpg\",\"articleSection\":[\"Feature\",\"Kota\",\"Lampung\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/\",\"name\":\"Penyandang Disabilitas Perjuangkan Pemenuhan Hak\u00a0 - Jendela Informasi Lampung\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-aktivitas-komunitas-sahabat-difabel-Lampung-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2020-11-04T14:37:44+00:00\",\"dateModified\":\"2020-11-04T14:42:18+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-aktivitas-komunitas-sahabat-difabel-Lampung-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-aktivitas-komunitas-sahabat-difabel-Lampung-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1917,\"caption\":\"Aktivitas komunitas sahabat difabel Lampung di Bandar Lampung. Lampung Post\/ Dian Wahyu Kusuma\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Penyandang Disabilitas Perjuangkan Pemenuhan Hak\u00a0\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\",\"name\":\"Jendela Informasi Lampung\",\"description\":\"Portal Berita dan Informasi Lampung Terkini, Teruji dan Tepercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\",\"name\":\"Jendela Informasi Lampung\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png\",\"width\":696,\"height\":696,\"caption\":\"Jendela Informasi Lampung\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/e89d071a2e3b3bbe7e3fb9e0a8493f11\",\"name\":\"Dian Wahyu Kusuma\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/25d39d66cb2991c40cce75cc44368808.jpg?ver=1778889734\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/25d39d66cb2991c40cce75cc44368808.jpg?ver=1778889734\",\"caption\":\"Dian Wahyu Kusuma\"},\"sameAs\":[\"@dianwk\"],\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/author\/dianwahyu\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Penyandang Disabilitas Perjuangkan Pemenuhan Hak\u00a0 - Jendela Informasi Lampung","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Penyandang Disabilitas Perjuangkan Pemenuhan Hak\u00a0 - Jendela Informasi Lampung","og_description":"Dian Wahyu Kusuma\u00a0 LANGKAH kaki Rifka tampak hati-hati saat memasuki gedung tempatnya bekerja di Bandar Lampung. Kantornya memang belum memiliki guide block untuk menuntun tongkatnya supaya tak melenceng. &#8220;Takutnya jatoh,&#8221; kata Rifka, Senin (12\/10\/2020).\u00a0 Rifka Aprilia baru satu setengah tahun menjadi disabilitas netra. Matanya kabur, hingga berangsur tak mampu melihat. Penyakitnya terbilang langka. Ia mesti [&hellip;]","og_url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/","og_site_name":"Jendela Informasi Lampung","article_published_time":"2020-11-04T14:37:44+00:00","article_modified_time":"2020-11-04T14:42:18+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1917,"url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-aktivitas-komunitas-sahabat-difabel-Lampung-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Dian Wahyu Kusuma","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Dian Wahyu Kusuma","Estimasi waktu membaca":"11 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/"},"author":{"name":"Dian Wahyu Kusuma","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/e89d071a2e3b3bbe7e3fb9e0a8493f11"},"headline":"Penyandang Disabilitas Perjuangkan Pemenuhan Hak\u00a0","datePublished":"2020-11-04T14:37:44+00:00","dateModified":"2020-11-04T14:42:18+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/"},"wordCount":2133,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-aktivitas-komunitas-sahabat-difabel-Lampung-scaled.jpg","articleSection":["Feature","Kota","Lampung"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/","name":"Penyandang Disabilitas Perjuangkan Pemenuhan Hak\u00a0 - Jendela Informasi Lampung","isPartOf":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-aktivitas-komunitas-sahabat-difabel-Lampung-scaled.jpg","datePublished":"2020-11-04T14:37:44+00:00","dateModified":"2020-11-04T14:42:18+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#primaryimage","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-aktivitas-komunitas-sahabat-difabel-Lampung-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/foto-aktivitas-komunitas-sahabat-difabel-Lampung-scaled.jpg","width":2560,"height":1917,"caption":"Aktivitas komunitas sahabat difabel Lampung di Bandar Lampung. Lampung Post\/ Dian Wahyu Kusuma"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kota\/lampung-2\/penyandang-disabilitas-perjuangkan-pemenuhan-hak\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Penyandang Disabilitas Perjuangkan Pemenuhan Hak\u00a0"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/","name":"Jendela Informasi Lampung","description":"Portal Berita dan Informasi Lampung Terkini, Teruji dan Tepercaya","publisher":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization","name":"Jendela Informasi Lampung","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png","width":696,"height":696,"caption":"Jendela Informasi Lampung"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/e89d071a2e3b3bbe7e3fb9e0a8493f11","name":"Dian Wahyu Kusuma","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/25d39d66cb2991c40cce75cc44368808.jpg?ver=1778889734","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/25d39d66cb2991c40cce75cc44368808.jpg?ver=1778889734","caption":"Dian Wahyu Kusuma"},"sameAs":["@dianwk"],"url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/author\/dianwahyu\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141956","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=141956"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141956\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/media\/141903"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=141956"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=141956"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=141956"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}