{"id":233773,"date":"2022-09-16T17:48:07","date_gmt":"2022-09-16T10:48:07","guid":{"rendered":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?p=233773"},"modified":"2022-09-16T17:48:07","modified_gmt":"2022-09-16T10:48:07","slug":"w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/","title":{"rendered":"W2n EKO102-04-17  Pengusaha Teri Merugi Imbas Penaikan BBM PENGUSAHA ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga menyebabkan pengusaha teri merugi. Edi, salah satu pengusaha teri, mengungkapkan sejak BBM naik, biaya operasional ikut melonjak, seperti harga garam dan biaya operasional menangkap ikan dengan kenaikan mencapai 25%. &#8220;Saya biasanya melaut mengeluarkan dana Rp1 juta. Namun, karena harga BBM naik, terpaksa harus bertambah menjadi Rp1,4 juta,&#8221; ujar dia. Menurutnya, tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sehingga pengusaha teri\/ikan asin di Pulau Pasaran sering merugi. &#8220;Kalau dulu keuntungan lumayan. Namun, sekarang malah sering merugi. Bagaimana tidak rugi harga pada naik, sedangkan harga teri\/ikan asin malah turun, belum lagi daya beli masyarakat makin rendah,&#8221; ujar dia. Biasanya, kata Edi, dalam satu bulan dipastikan ada 4\u20145 orang yang memborong ikan teri miliknya. Namun, saat ini hanya 1\u20142 orang. Eko, pengusaha teri lainnya, menyampaikan tingginya biaya operasional ditambah kenaikan harga bahan baku garam yang ikut naik membuat biaya operasional meningkat. Sementara untuk pasokan teri dari para nelayan masih bergantung pada cuaca di laut.  &#8220;Namanya juga di laut, ada saja ikannya, bergantung pada tangkapan nelayan. Faktor cuaca seperti sekarang ini pas terang bulan sehingga pasokan nelayan turun, belum lagi banyak nelayan yang mengurangi karena BBM naik,&#8221; kata dia. Dia mengaku dalam satu bulan dua kali melaut, itu juga terkadang jenis ikannya tidak masuk sehingga dijual rugi. &#8220;Keadaan seperti ini hampir satu tahun kami rasakan, ya namanya pekerjaan untung sedikit kami jalani,&#8221; ujarnya (ZAI\/E2)"},"content":{"rendered":"\t\t<div class=\"woocommerce\">\n\t\t\t<div class=\"woocommerce-info wc-memberships-restriction-message wc-memberships-message wc-memberships-content-restricted-message\">\n\t\t\t\tUntuk dapat mengakses konten ini, silakan berlangganan paket <a href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/produk\/lampung-post-digital-premium\/\">Lampung Post Digital Premium<\/a> atau <a href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/my-account\/?wcm_redirect_to=post&#038;wcm_redirect_id=233773\">log in<\/a> jika sudah berlangganan. Bagi pengguna baru, silahkan <a href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/berlangganan\/\">daftar<\/a>\/ pilih paket dan dapatkan akses ke semua konten\t\t    <\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"\n<div class=\"woocommerce\">\n<div class=\"woocommerce-info wc-memberships-restriction-message wc-memberships-message wc-memberships-content-restricted-message\">\n\t\t\t\tUntuk dapat mengakses konten ini, silakan berlangganan paket <a href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/produk\/lampung-post-digital-premium\/\">Lampung Post Digital Premium<\/a> atau <a href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/my-account\/?wcm_redirect_to=post&#038;wcm_redirect_id=233773\">log in<\/a> jika sudah berlangganan. Bagi pengguna baru, silahkan <a href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/berlangganan\/\">daftar<\/a>\/ pilih paket dan dapatkan akses ke semua konten\t\t    <\/div>\n<\/p><\/div>\n","protected":false},"author":946,"featured_media":233774,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"0","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"5","show_author_box":"1","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"1"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[71],"tags":[],"class_list":["post-233773","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","membership-content","access-restricted"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v24.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>W2n EKO102-04-17 Pengusaha Teri Merugi Imbas Penaikan BBM PENGUSAHA ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga menyebabkan pengusaha teri merugi. Edi, salah satu pengusaha teri, mengungkapkan sejak BBM naik, biaya operasional ikut melonjak, seperti harga garam dan biaya operasional menangkap ikan dengan kenaikan mencapai 25%. &quot;Saya biasanya melaut mengeluarkan dana Rp1 juta. Namun, karena harga BBM naik, terpaksa harus bertambah menjadi Rp1,4 juta,&quot; ujar dia. Menurutnya, tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sehingga pengusaha teri\/ikan asin di Pulau Pasaran sering merugi. &quot;Kalau dulu keuntungan lumayan. Namun, sekarang malah sering merugi. Bagaimana tidak rugi harga pada naik, sedangkan harga teri\/ikan asin malah turun, belum lagi daya beli masyarakat makin rendah,&quot; ujar dia. Biasanya, kata Edi, dalam satu bulan dipastikan ada 4\u20145 orang yang memborong ikan teri miliknya. Namun, saat ini hanya 1\u20142 orang. Eko, pengusaha teri lainnya, menyampaikan tingginya biaya operasional ditambah kenaikan harga bahan baku garam yang ikut naik membuat biaya operasional meningkat. Sementara untuk pasokan teri dari para nelayan masih bergantung pada cuaca di laut. &quot;Namanya juga di laut, ada saja ikannya, bergantung pada tangkapan nelayan. Faktor cuaca seperti sekarang ini pas terang bulan sehingga pasokan nelayan turun, belum lagi banyak nelayan yang mengurangi karena BBM naik,&quot; kata dia. Dia mengaku dalam satu bulan dua kali melaut, itu juga terkadang jenis ikannya tidak masuk sehingga dijual rugi. &quot;Keadaan seperti ini hampir satu tahun kami rasakan, ya namanya pekerjaan untung sedikit kami jalani,&quot; ujarnya (ZAI\/E2) - Jendela Informasi Lampung<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"W2n EKO102-04-17 Pengusaha Teri Merugi Imbas Penaikan BBM PENGUSAHA ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga menyebabkan pengusaha teri merugi. Edi, salah satu pengusaha teri, mengungkapkan sejak BBM naik, biaya operasional ikut melonjak, seperti harga garam dan biaya operasional menangkap ikan dengan kenaikan mencapai 25%. &quot;Saya biasanya melaut mengeluarkan dana Rp1 juta. Namun, karena harga BBM naik, terpaksa harus bertambah menjadi Rp1,4 juta,&quot; ujar dia. Menurutnya, tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sehingga pengusaha teri\/ikan asin di Pulau Pasaran sering merugi. &quot;Kalau dulu keuntungan lumayan. Namun, sekarang malah sering merugi. Bagaimana tidak rugi harga pada naik, sedangkan harga teri\/ikan asin malah turun, belum lagi daya beli masyarakat makin rendah,&quot; ujar dia. Biasanya, kata Edi, dalam satu bulan dipastikan ada 4\u20145 orang yang memborong ikan teri miliknya. Namun, saat ini hanya 1\u20142 orang. Eko, pengusaha teri lainnya, menyampaikan tingginya biaya operasional ditambah kenaikan harga bahan baku garam yang ikut naik membuat biaya operasional meningkat. Sementara untuk pasokan teri dari para nelayan masih bergantung pada cuaca di laut. &quot;Namanya juga di laut, ada saja ikannya, bergantung pada tangkapan nelayan. Faktor cuaca seperti sekarang ini pas terang bulan sehingga pasokan nelayan turun, belum lagi banyak nelayan yang mengurangi karena BBM naik,&quot; kata dia. Dia mengaku dalam satu bulan dua kali melaut, itu juga terkadang jenis ikannya tidak masuk sehingga dijual rugi. &quot;Keadaan seperti ini hampir satu tahun kami rasakan, ya namanya pekerjaan untung sedikit kami jalani,&quot; ujarnya (ZAI\/E2) - Jendela Informasi Lampung\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Untuk dapat mengakses konten ini, silakan berlangganan paket Lampung Post Digital Premium atau log in jika sudah berlangganan. Bagi pengguna baru, silahkan daftar\/ pilih paket dan dapatkan akses ke semua konten\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Jendela Informasi Lampung\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-09-16T10:48:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/EKO02-FA-17.new1_.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"853\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nur Jannah\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Nur Jannah\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/\"},\"author\":{\"name\":\"Nur Jannah\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/1b9ec15e7c780a76e7fe211a1d29fc16\"},\"headline\":\"W2n EKO102-04-17 Pengusaha Teri Merugi Imbas Penaikan BBM PENGUSAHA ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga menyebabkan pengusaha teri merugi. Edi, salah satu pengusaha teri, mengungkapkan sejak BBM naik, biaya operasional ikut melonjak, seperti harga garam dan biaya operasional menangkap ikan dengan kenaikan mencapai 25%. &#8220;Saya biasanya melaut mengeluarkan dana Rp1 juta. Namun, karena harga BBM naik, terpaksa harus bertambah menjadi Rp1,4 juta,&#8221; ujar dia. Menurutnya, tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sehingga pengusaha teri\/ikan asin di Pulau Pasaran sering merugi. &#8220;Kalau dulu keuntungan lumayan. Namun, sekarang malah sering merugi. Bagaimana tidak rugi harga pada naik, sedangkan harga teri\/ikan asin malah turun, belum lagi daya beli masyarakat makin rendah,&#8221; ujar dia. Biasanya, kata Edi, dalam satu bulan dipastikan ada 4\u20145 orang yang memborong ikan teri miliknya. Namun, saat ini hanya 1\u20142 orang. Eko, pengusaha teri lainnya, menyampaikan tingginya biaya operasional ditambah kenaikan harga bahan baku garam yang ikut naik membuat biaya operasional meningkat. Sementara untuk pasokan teri dari para nelayan masih bergantung pada cuaca di laut. &#8220;Namanya juga di laut, ada saja ikannya, bergantung pada tangkapan nelayan. Faktor cuaca seperti sekarang ini pas terang bulan sehingga pasokan nelayan turun, belum lagi banyak nelayan yang mengurangi karena BBM naik,&#8221; kata dia. Dia mengaku dalam satu bulan dua kali melaut, itu juga terkadang jenis ikannya tidak masuk sehingga dijual rugi. &#8220;Keadaan seperti ini hampir satu tahun kami rasakan, ya namanya pekerjaan untung sedikit kami jalani,&#8221; ujarnya (ZAI\/E2)\",\"datePublished\":\"2022-09-16T10:48:07+00:00\",\"dateModified\":\"2022-09-16T10:48:07+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/\"},\"wordCount\":487,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/EKO02-FA-17.new1_.jpg\",\"articleSection\":[\"Ekonomi\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/\",\"name\":\"W2n EKO102-04-17 Pengusaha Teri Merugi Imbas Penaikan BBM PENGUSAHA ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga menyebabkan pengusaha teri merugi. Edi, salah satu pengusaha teri, mengungkapkan sejak BBM naik, biaya operasional ikut melonjak, seperti harga garam dan biaya operasional menangkap ikan dengan kenaikan mencapai 25%. \\\"Saya biasanya melaut mengeluarkan dana Rp1 juta. Namun, karena harga BBM naik, terpaksa harus bertambah menjadi Rp1,4 juta,\\\" ujar dia. Menurutnya, tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sehingga pengusaha teri\/ikan asin di Pulau Pasaran sering merugi. \\\"Kalau dulu keuntungan lumayan. Namun, sekarang malah sering merugi. Bagaimana tidak rugi harga pada naik, sedangkan harga teri\/ikan asin malah turun, belum lagi daya beli masyarakat makin rendah,\\\" ujar dia. Biasanya, kata Edi, dalam satu bulan dipastikan ada 4\u20145 orang yang memborong ikan teri miliknya. Namun, saat ini hanya 1\u20142 orang. Eko, pengusaha teri lainnya, menyampaikan tingginya biaya operasional ditambah kenaikan harga bahan baku garam yang ikut naik membuat biaya operasional meningkat. Sementara untuk pasokan teri dari para nelayan masih bergantung pada cuaca di laut. \\\"Namanya juga di laut, ada saja ikannya, bergantung pada tangkapan nelayan. Faktor cuaca seperti sekarang ini pas terang bulan sehingga pasokan nelayan turun, belum lagi banyak nelayan yang mengurangi karena BBM naik,\\\" kata dia. Dia mengaku dalam satu bulan dua kali melaut, itu juga terkadang jenis ikannya tidak masuk sehingga dijual rugi. \\\"Keadaan seperti ini hampir satu tahun kami rasakan, ya namanya pekerjaan untung sedikit kami jalani,\\\" ujarnya (ZAI\/E2) - Jendela Informasi Lampung\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/EKO02-FA-17.new1_.jpg\",\"datePublished\":\"2022-09-16T10:48:07+00:00\",\"dateModified\":\"2022-09-16T10:48:07+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/EKO02-FA-17.new1_.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/EKO02-FA-17.new1_.jpg\",\"width\":1280,\"height\":853,\"caption\":\"OMZET TURUN. Pengusaha ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga hal itu menyebabkan pengusaha teri merugi. n LAMPUNG POST\/ZAINUDIN\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"W2n EKO102-04-17 Pengusaha Teri Merugi Imbas Penaikan BBM PENGUSAHA ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga menyebabkan pengusaha teri merugi. Edi, salah satu pengusaha teri, mengungkapkan sejak BBM naik, biaya operasional ikut melonjak, seperti harga garam dan biaya operasional menangkap ikan dengan kenaikan mencapai 25%. &#8220;Saya biasanya melaut mengeluarkan dana Rp1 juta. Namun, karena harga BBM naik, terpaksa harus bertambah menjadi Rp1,4 juta,&#8221; ujar dia. Menurutnya, tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sehingga pengusaha teri\/ikan asin di Pulau Pasaran sering merugi. &#8220;Kalau dulu keuntungan lumayan. Namun, sekarang malah sering merugi. Bagaimana tidak rugi harga pada naik, sedangkan harga teri\/ikan asin malah turun, belum lagi daya beli masyarakat makin rendah,&#8221; ujar dia. Biasanya, kata Edi, dalam satu bulan dipastikan ada 4\u20145 orang yang memborong ikan teri miliknya. Namun, saat ini hanya 1\u20142 orang. Eko, pengusaha teri lainnya, menyampaikan tingginya biaya operasional ditambah kenaikan harga bahan baku garam yang ikut naik membuat biaya operasional meningkat. Sementara untuk pasokan teri dari para nelayan masih bergantung pada cuaca di laut. &#8220;Namanya juga di laut, ada saja ikannya, bergantung pada tangkapan nelayan. Faktor cuaca seperti sekarang ini pas terang bulan sehingga pasokan nelayan turun, belum lagi banyak nelayan yang mengurangi karena BBM naik,&#8221; kata dia. Dia mengaku dalam satu bulan dua kali melaut, itu juga terkadang jenis ikannya tidak masuk sehingga dijual rugi. &#8220;Keadaan seperti ini hampir satu tahun kami rasakan, ya namanya pekerjaan untung sedikit kami jalani,&#8221; ujarnya (ZAI\/E2)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\",\"name\":\"Jendela Informasi Lampung\",\"description\":\"Portal Berita dan Informasi Lampung Terkini, Teruji dan Tepercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\",\"name\":\"Jendela Informasi Lampung\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png\",\"width\":696,\"height\":696,\"caption\":\"Jendela Informasi Lampung\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/1b9ec15e7c780a76e7fe211a1d29fc16\",\"name\":\"Nur Jannah\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/f824652a1c6a7e6f56b7ec11dd2f0337.jpg?ver=1776426230\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/f824652a1c6a7e6f56b7ec11dd2f0337.jpg?ver=1776426230\",\"caption\":\"Nur Jannah\"},\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/author\/nurjannah\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"W2n EKO102-04-17 Pengusaha Teri Merugi Imbas Penaikan BBM PENGUSAHA ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga menyebabkan pengusaha teri merugi. Edi, salah satu pengusaha teri, mengungkapkan sejak BBM naik, biaya operasional ikut melonjak, seperti harga garam dan biaya operasional menangkap ikan dengan kenaikan mencapai 25%. \"Saya biasanya melaut mengeluarkan dana Rp1 juta. Namun, karena harga BBM naik, terpaksa harus bertambah menjadi Rp1,4 juta,\" ujar dia. Menurutnya, tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sehingga pengusaha teri\/ikan asin di Pulau Pasaran sering merugi. \"Kalau dulu keuntungan lumayan. Namun, sekarang malah sering merugi. Bagaimana tidak rugi harga pada naik, sedangkan harga teri\/ikan asin malah turun, belum lagi daya beli masyarakat makin rendah,\" ujar dia. Biasanya, kata Edi, dalam satu bulan dipastikan ada 4\u20145 orang yang memborong ikan teri miliknya. Namun, saat ini hanya 1\u20142 orang. Eko, pengusaha teri lainnya, menyampaikan tingginya biaya operasional ditambah kenaikan harga bahan baku garam yang ikut naik membuat biaya operasional meningkat. Sementara untuk pasokan teri dari para nelayan masih bergantung pada cuaca di laut. \"Namanya juga di laut, ada saja ikannya, bergantung pada tangkapan nelayan. Faktor cuaca seperti sekarang ini pas terang bulan sehingga pasokan nelayan turun, belum lagi banyak nelayan yang mengurangi karena BBM naik,\" kata dia. Dia mengaku dalam satu bulan dua kali melaut, itu juga terkadang jenis ikannya tidak masuk sehingga dijual rugi. \"Keadaan seperti ini hampir satu tahun kami rasakan, ya namanya pekerjaan untung sedikit kami jalani,\" ujarnya (ZAI\/E2) - Jendela Informasi Lampung","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"W2n EKO102-04-17 Pengusaha Teri Merugi Imbas Penaikan BBM PENGUSAHA ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga menyebabkan pengusaha teri merugi. Edi, salah satu pengusaha teri, mengungkapkan sejak BBM naik, biaya operasional ikut melonjak, seperti harga garam dan biaya operasional menangkap ikan dengan kenaikan mencapai 25%. \"Saya biasanya melaut mengeluarkan dana Rp1 juta. Namun, karena harga BBM naik, terpaksa harus bertambah menjadi Rp1,4 juta,\" ujar dia. Menurutnya, tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sehingga pengusaha teri\/ikan asin di Pulau Pasaran sering merugi. \"Kalau dulu keuntungan lumayan. Namun, sekarang malah sering merugi. Bagaimana tidak rugi harga pada naik, sedangkan harga teri\/ikan asin malah turun, belum lagi daya beli masyarakat makin rendah,\" ujar dia. Biasanya, kata Edi, dalam satu bulan dipastikan ada 4\u20145 orang yang memborong ikan teri miliknya. Namun, saat ini hanya 1\u20142 orang. Eko, pengusaha teri lainnya, menyampaikan tingginya biaya operasional ditambah kenaikan harga bahan baku garam yang ikut naik membuat biaya operasional meningkat. Sementara untuk pasokan teri dari para nelayan masih bergantung pada cuaca di laut. \"Namanya juga di laut, ada saja ikannya, bergantung pada tangkapan nelayan. Faktor cuaca seperti sekarang ini pas terang bulan sehingga pasokan nelayan turun, belum lagi banyak nelayan yang mengurangi karena BBM naik,\" kata dia. Dia mengaku dalam satu bulan dua kali melaut, itu juga terkadang jenis ikannya tidak masuk sehingga dijual rugi. \"Keadaan seperti ini hampir satu tahun kami rasakan, ya namanya pekerjaan untung sedikit kami jalani,\" ujarnya (ZAI\/E2) - Jendela Informasi Lampung","og_description":"Untuk dapat mengakses konten ini, silakan berlangganan paket Lampung Post Digital Premium atau log in jika sudah berlangganan. Bagi pengguna baru, silahkan daftar\/ pilih paket dan dapatkan akses ke semua konten","og_url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/","og_site_name":"Jendela Informasi Lampung","article_published_time":"2022-09-16T10:48:07+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":853,"url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/EKO02-FA-17.new1_.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Nur Jannah","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Nur Jannah","Estimasi waktu membaca":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/"},"author":{"name":"Nur Jannah","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/1b9ec15e7c780a76e7fe211a1d29fc16"},"headline":"W2n EKO102-04-17 Pengusaha Teri Merugi Imbas Penaikan BBM PENGUSAHA ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga menyebabkan pengusaha teri merugi. Edi, salah satu pengusaha teri, mengungkapkan sejak BBM naik, biaya operasional ikut melonjak, seperti harga garam dan biaya operasional menangkap ikan dengan kenaikan mencapai 25%. &#8220;Saya biasanya melaut mengeluarkan dana Rp1 juta. Namun, karena harga BBM naik, terpaksa harus bertambah menjadi Rp1,4 juta,&#8221; ujar dia. Menurutnya, tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sehingga pengusaha teri\/ikan asin di Pulau Pasaran sering merugi. &#8220;Kalau dulu keuntungan lumayan. Namun, sekarang malah sering merugi. Bagaimana tidak rugi harga pada naik, sedangkan harga teri\/ikan asin malah turun, belum lagi daya beli masyarakat makin rendah,&#8221; ujar dia. Biasanya, kata Edi, dalam satu bulan dipastikan ada 4\u20145 orang yang memborong ikan teri miliknya. Namun, saat ini hanya 1\u20142 orang. Eko, pengusaha teri lainnya, menyampaikan tingginya biaya operasional ditambah kenaikan harga bahan baku garam yang ikut naik membuat biaya operasional meningkat. Sementara untuk pasokan teri dari para nelayan masih bergantung pada cuaca di laut. &#8220;Namanya juga di laut, ada saja ikannya, bergantung pada tangkapan nelayan. Faktor cuaca seperti sekarang ini pas terang bulan sehingga pasokan nelayan turun, belum lagi banyak nelayan yang mengurangi karena BBM naik,&#8221; kata dia. Dia mengaku dalam satu bulan dua kali melaut, itu juga terkadang jenis ikannya tidak masuk sehingga dijual rugi. &#8220;Keadaan seperti ini hampir satu tahun kami rasakan, ya namanya pekerjaan untung sedikit kami jalani,&#8221; ujarnya (ZAI\/E2)","datePublished":"2022-09-16T10:48:07+00:00","dateModified":"2022-09-16T10:48:07+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/"},"wordCount":487,"publisher":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/EKO02-FA-17.new1_.jpg","articleSection":["Ekonomi"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/","name":"W2n EKO102-04-17 Pengusaha Teri Merugi Imbas Penaikan BBM PENGUSAHA ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga menyebabkan pengusaha teri merugi. Edi, salah satu pengusaha teri, mengungkapkan sejak BBM naik, biaya operasional ikut melonjak, seperti harga garam dan biaya operasional menangkap ikan dengan kenaikan mencapai 25%. \"Saya biasanya melaut mengeluarkan dana Rp1 juta. Namun, karena harga BBM naik, terpaksa harus bertambah menjadi Rp1,4 juta,\" ujar dia. Menurutnya, tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sehingga pengusaha teri\/ikan asin di Pulau Pasaran sering merugi. \"Kalau dulu keuntungan lumayan. Namun, sekarang malah sering merugi. Bagaimana tidak rugi harga pada naik, sedangkan harga teri\/ikan asin malah turun, belum lagi daya beli masyarakat makin rendah,\" ujar dia. Biasanya, kata Edi, dalam satu bulan dipastikan ada 4\u20145 orang yang memborong ikan teri miliknya. Namun, saat ini hanya 1\u20142 orang. Eko, pengusaha teri lainnya, menyampaikan tingginya biaya operasional ditambah kenaikan harga bahan baku garam yang ikut naik membuat biaya operasional meningkat. Sementara untuk pasokan teri dari para nelayan masih bergantung pada cuaca di laut. \"Namanya juga di laut, ada saja ikannya, bergantung pada tangkapan nelayan. Faktor cuaca seperti sekarang ini pas terang bulan sehingga pasokan nelayan turun, belum lagi banyak nelayan yang mengurangi karena BBM naik,\" kata dia. Dia mengaku dalam satu bulan dua kali melaut, itu juga terkadang jenis ikannya tidak masuk sehingga dijual rugi. \"Keadaan seperti ini hampir satu tahun kami rasakan, ya namanya pekerjaan untung sedikit kami jalani,\" ujarnya (ZAI\/E2) - Jendela Informasi Lampung","isPartOf":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/EKO02-FA-17.new1_.jpg","datePublished":"2022-09-16T10:48:07+00:00","dateModified":"2022-09-16T10:48:07+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#primaryimage","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/EKO02-FA-17.new1_.jpg","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/EKO02-FA-17.new1_.jpg","width":1280,"height":853,"caption":"OMZET TURUN. Pengusaha ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga hal itu menyebabkan pengusaha teri merugi. n LAMPUNG POST\/ZAINUDIN"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/ekonomi\/w2n-eko102-04-17-pengusaha-teri-merugi-imbas-penaikan-bbm-pengusaha-ikan-teri-di-palau-pasaran-mengeluhkan-tingginya-biaya-operasional-usai-penaikan-harga-bahan-bakar-minyak-sehingga-menyebabkan-peng\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"W2n EKO102-04-17 Pengusaha Teri Merugi Imbas Penaikan BBM PENGUSAHA ikan teri di Palau Pasaran mengeluhkan tingginya biaya operasional usai penaikan harga bahan bakar minyak sehingga menyebabkan pengusaha teri merugi. Edi, salah satu pengusaha teri, mengungkapkan sejak BBM naik, biaya operasional ikut melonjak, seperti harga garam dan biaya operasional menangkap ikan dengan kenaikan mencapai 25%. &#8220;Saya biasanya melaut mengeluarkan dana Rp1 juta. Namun, karena harga BBM naik, terpaksa harus bertambah menjadi Rp1,4 juta,&#8221; ujar dia. Menurutnya, tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sehingga pengusaha teri\/ikan asin di Pulau Pasaran sering merugi. &#8220;Kalau dulu keuntungan lumayan. Namun, sekarang malah sering merugi. Bagaimana tidak rugi harga pada naik, sedangkan harga teri\/ikan asin malah turun, belum lagi daya beli masyarakat makin rendah,&#8221; ujar dia. Biasanya, kata Edi, dalam satu bulan dipastikan ada 4\u20145 orang yang memborong ikan teri miliknya. Namun, saat ini hanya 1\u20142 orang. Eko, pengusaha teri lainnya, menyampaikan tingginya biaya operasional ditambah kenaikan harga bahan baku garam yang ikut naik membuat biaya operasional meningkat. Sementara untuk pasokan teri dari para nelayan masih bergantung pada cuaca di laut. &#8220;Namanya juga di laut, ada saja ikannya, bergantung pada tangkapan nelayan. Faktor cuaca seperti sekarang ini pas terang bulan sehingga pasokan nelayan turun, belum lagi banyak nelayan yang mengurangi karena BBM naik,&#8221; kata dia. Dia mengaku dalam satu bulan dua kali melaut, itu juga terkadang jenis ikannya tidak masuk sehingga dijual rugi. &#8220;Keadaan seperti ini hampir satu tahun kami rasakan, ya namanya pekerjaan untung sedikit kami jalani,&#8221; ujarnya (ZAI\/E2)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/","name":"Jendela Informasi Lampung","description":"Portal Berita dan Informasi Lampung Terkini, Teruji dan Tepercaya","publisher":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization","name":"Jendela Informasi Lampung","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png","width":696,"height":696,"caption":"Jendela Informasi Lampung"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/1b9ec15e7c780a76e7fe211a1d29fc16","name":"Nur Jannah","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/f824652a1c6a7e6f56b7ec11dd2f0337.jpg?ver=1776426230","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/f824652a1c6a7e6f56b7ec11dd2f0337.jpg?ver=1776426230","caption":"Nur Jannah"},"url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/author\/nurjannah\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/233773","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/users\/946"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=233773"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/233773\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/media\/233774"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=233773"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=233773"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=233773"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}