{"id":293025,"date":"2024-09-29T19:08:48","date_gmt":"2024-09-29T12:08:48","guid":{"rendered":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?p=293025"},"modified":"2024-09-29T19:08:48","modified_gmt":"2024-09-29T12:08:48","slug":"urban-farming-dan-ketahanan-pangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/","title":{"rendered":"Urban Farming dan Ketahanan Pangan"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">URBAN farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau pertanian perkotaan perlu menjadi satu strategi kedaulatan pangan yang penting untuk diakomodasi negara kita saat ini. Pertanian perkotaan secara ringkas diartikan sebagai produksi pangan di dalam kota.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kita bandingkan dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">food estate<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai proyek strategis suplai pangan hari ini dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">food estate<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menghadapi kendala besar, yakni mendapatkan lahan subur dengan hamparan luas. Kesulitan tersebut menyebabkan pemerintah terpaksa mengimplementasikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">food estate<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pada lahan yang marginal seperti lahan rawa dan gambut. Akibat lanjutnya, potensi gagal panennya menjadi tinggi.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> punya keunggulan karena empat alasan berikut. Pertama, merupakan solusi potensial untuk tantangan ketahanan pangan di daerah urban (perkotaan), khususnya di kota-kota besar yang menghadapi keterbatasan sumber daya lahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, ia mengimplementasi teknologi tanpa tanah. Tanah subur untuk pertanian dalam satu hamparan luas hari ini merupakan sumber daya yang langka, apalagi di daerah perkotaan. Meski demikian, tidak berarti pertanian tidak bisa dihadirkan di perkotaan. Sebagian besar, bentuk teknologi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menggunakan teknik minim lahan, seperti hidroponik (menanam dengan air bernutrisi sebagai media tanam), aeroponik (menanam dengan menyemprotkan nutrisi langsung ke akar), atau akuaponik (menggabungkan budi daya tanaman dengan budi daya ikan).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> umumnya menggunakan air dan lahan sangat efisien jika dibandingkan dengan teknik-teknik pertanian konvensional serta mengurangi kebutuhan akan pestisida. Sistem daur ulang air sering digunakan untuk mengurangi limbah dan memaksimalkan efisiensi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat, lokasi di dekat konsumen. Dengan menempatkan fasilitas pertanian di dalam atau dekat kota, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat mengurangi waktu dan biaya transportasi, memastikan produk segar sampai ke tangan konsumen lebih cepat dan dengan jejak karbon yang lebih kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Variasi penerapan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tergantung pada situasi kota. Di kota-kota yang sangat padat penduduknya, tetap bisa dilakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di atap-atap rumah, seperti di Kairo dan Dhaka, beberapa kota bisa menggunakan pertanian vertikal (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">vertical farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Vertical farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ialah metode pertanian yang memanfaatkan ruang vertikal untuk menanam tanaman dalam lapisan-lapisan yang ditumpuk secara vertikal, biasanya di dalam ruangan atau gedung yang dirancang khusus.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada tiga tipe <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menurut Nasution (2015) dan McClintok (2014). Yang pertama, dan yang terpenting, ialah pertanian perkotaan kolektif yang mengolah lahan kosong atau terbatas yang diorganisasi oleh komunitas dan setiap komunitas memiliki koordinatornya masing-masing.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua ialah pertanian perkotaan yang mendukung program lembaga formal, dalam hal ini pemerintah kabupaten\/kota. Program itu bisa menjadi alat untuk menyukseskan program pemerintah, misalkan dalam program gizi anak di beberapa kota besar di negeri jiran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu contoh kota yang berhasil memanfaatkan produk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk suplai bahan pangan dalam program makanan tambahan untuk anak-anak ialah Belo Horizonte di Brasil. Kota itu mengimplementasikan program ketahanan pangan yang inovatif dengan melibatkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai salah satu sumber pangan. Program tersebut menyediakan makanan tambahan yang bergizi untuk anak-anak di sekolah-sekolah dan pusat layanan kesehatan. Belo Horizonte telah mengembangkan kebun-kebun kota dan pasar pangan murah yang memberikan akses lebih mudah bagi penduduk untuk mendapatkan makanan segar dan bergizi (Rocha, 2001).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jenis pertanian perkotaan yang ketiga ialah berbasis tempat tinggal dari tiap-tiap anggota komunitas. Mirip dengan tipe kolektif, tetapu setiap anggota mempunyai lahan masing-masing untuk digarap. Selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, mereka juga menjual hasil panen mereka kepada warga lain. Contoh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tipe itu ialah yang dilakukan oleh ibu rumah tangga dengan memanfaatkan lahan kosong di halaman rumah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan memperoleh penghasilan tambahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena itu dapat ditemukan di Kota Havana, Kuba, saat runtuhnya Uni Soviet. Kuba menghadapi krisis pangan yang serius saat itu. Menghadapi kondisi itu, banyak warga kota, terutama ibu rumah tangga, mulai menanam sayuran dan buah-buahan di lahan-lahan kosong di sekitar rumah mereka. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu dikenal dengan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">organoponicos<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang mana kebun-kebun tersebut memanfaatkan teknik pertanian organik dan intensif dalam area kecil. Hasil panen sering dijual di pasar lokal, memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga-keluarga tersebut (Murphy, 1999).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di Indonesia lebih pada aktivitas personal atau komunitas. Menjadikannya sebagai program pembangunan ketahanan pangan nasional harus mendapat perhatian dari negara, baik dalam alokasi anggaran maupun dukungan penyebaran dan implementasi teknologinya ke masyarakat kota. Untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">urban farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, pemerintah perlu memberikan bantuan permodalan, bibit, pupuk organik cair dan media tanam, serta bantuan penyuluhan dan pengembangan melalui universitas dan lembaga riset.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keterlibatan pihak swasta dan BUMN bisa dalam bentuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">corporate social responsibility<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (CSR). CSR penting untuk mempertahankan keberlanjutan program itu di masyarakat. Peran CSR pada pertanian perkotaan dapat melalui konsep pengembangan pertanian konservasi dan pertanian organik pada pertanian perkotaan. Selain itu, CSR dapat berupa dukungan finansial untuk pelatihan bagi petani, pengembangan produk pertanian unggul, plot percontohan, serta pembelian alat dan mesin untuk sarana produksi pertanian. *<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>URBAN farming atau pertanian perkotaan perlu menjadi satu strategi kedaulatan pangan yang penting untuk diakomodasi negara kita saat ini. Pertanian perkotaan secara ringkas diartikan sebagai produksi pangan di dalam kota.\u00a0 Kalau kita bandingkan dengan food estate sebagai proyek strategis suplai pangan hari ini dengan urban farming, food estate menghadapi kendala besar, yakni mendapatkan lahan subur [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":353,"featured_media":241855,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"Andi Irawan,\u00a0Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Bengkulu dan Ketua Bidang Kebijakan Publik Asasi (Perhimpunan Akademisi dan Saintis Indonesia)"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[4129,83],"tags":[30790,13469,850,6430,20614],"class_list":["post-293025","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom","category-opini","tag-food-estate","tag-hidroponik","tag-ketahanan-pangan","tag-pertanian","tag-urban-farming"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v24.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Urban Farming dan Ketahanan Pangan - Jendela Informasi Lampung<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Urban Farming dan Ketahanan Pangan - Jendela Informasi Lampung\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"URBAN farming atau pertanian perkotaan perlu menjadi satu strategi kedaulatan pangan yang penting untuk diakomodasi negara kita saat ini. Pertanian perkotaan secara ringkas diartikan sebagai produksi pangan di dalam kota.\u00a0 Kalau kita bandingkan dengan food estate sebagai proyek strategis suplai pangan hari ini dengan urban farming, food estate menghadapi kendala besar, yakni mendapatkan lahan subur [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Jendela Informasi Lampung\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-09-29T12:08:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/BRU13-FB-19.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"4000\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"2667\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"wiji\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"wiji\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/\"},\"author\":{\"name\":\"wiji\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/ffe5d3f5693f988534bda9490a79ce92\"},\"headline\":\"Urban Farming dan Ketahanan Pangan\",\"datePublished\":\"2024-09-29T12:08:48+00:00\",\"dateModified\":\"2024-09-29T12:08:48+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/\"},\"wordCount\":746,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/BRU13-FB-19.jpg\",\"keywords\":[\"Food estate\",\"Hidroponik\",\"Ketahanan pangan\",\"pertanian\",\"urban farming\"],\"articleSection\":[\"Kolom\",\"Opini\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/\",\"name\":\"Urban Farming dan Ketahanan Pangan - Jendela Informasi Lampung\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/BRU13-FB-19.jpg\",\"datePublished\":\"2024-09-29T12:08:48+00:00\",\"dateModified\":\"2024-09-29T12:08:48+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/BRU13-FB-19.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/BRU13-FB-19.jpg\",\"width\":4000,\"height\":2667,\"caption\":\"FOTO: ANTARA\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Urban Farming dan Ketahanan Pangan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\",\"name\":\"Jendela Informasi Lampung\",\"description\":\"Portal Berita dan Informasi Lampung Terkini, Teruji dan Tepercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\",\"name\":\"Jendela Informasi Lampung\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png\",\"width\":696,\"height\":696,\"caption\":\"Jendela Informasi Lampung\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/ffe5d3f5693f988534bda9490a79ce92\",\"name\":\"wiji\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/79865d290936b629c8ab571a0d87c576.jpg?ver=1778229361\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/79865d290936b629c8ab571a0d87c576.jpg?ver=1778229361\",\"caption\":\"wiji\"},\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/author\/wiji\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Urban Farming dan Ketahanan Pangan - Jendela Informasi Lampung","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Urban Farming dan Ketahanan Pangan - Jendela Informasi Lampung","og_description":"URBAN farming atau pertanian perkotaan perlu menjadi satu strategi kedaulatan pangan yang penting untuk diakomodasi negara kita saat ini. Pertanian perkotaan secara ringkas diartikan sebagai produksi pangan di dalam kota.\u00a0 Kalau kita bandingkan dengan food estate sebagai proyek strategis suplai pangan hari ini dengan urban farming, food estate menghadapi kendala besar, yakni mendapatkan lahan subur [&hellip;]","og_url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/","og_site_name":"Jendela Informasi Lampung","article_published_time":"2024-09-29T12:08:48+00:00","og_image":[{"width":4000,"height":2667,"url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/BRU13-FB-19.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"wiji","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"wiji","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/"},"author":{"name":"wiji","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/ffe5d3f5693f988534bda9490a79ce92"},"headline":"Urban Farming dan Ketahanan Pangan","datePublished":"2024-09-29T12:08:48+00:00","dateModified":"2024-09-29T12:08:48+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/"},"wordCount":746,"publisher":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/BRU13-FB-19.jpg","keywords":["Food estate","Hidroponik","Ketahanan pangan","pertanian","urban farming"],"articleSection":["Kolom","Opini"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/","name":"Urban Farming dan Ketahanan Pangan - Jendela Informasi Lampung","isPartOf":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/BRU13-FB-19.jpg","datePublished":"2024-09-29T12:08:48+00:00","dateModified":"2024-09-29T12:08:48+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#primaryimage","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/BRU13-FB-19.jpg","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/BRU13-FB-19.jpg","width":4000,"height":2667,"caption":"FOTO: ANTARA"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/urban-farming-dan-ketahanan-pangan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Urban Farming dan Ketahanan Pangan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/","name":"Jendela Informasi Lampung","description":"Portal Berita dan Informasi Lampung Terkini, Teruji dan Tepercaya","publisher":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization","name":"Jendela Informasi Lampung","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png","width":696,"height":696,"caption":"Jendela Informasi Lampung"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/ffe5d3f5693f988534bda9490a79ce92","name":"wiji","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/79865d290936b629c8ab571a0d87c576.jpg?ver=1778229361","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/79865d290936b629c8ab571a0d87c576.jpg?ver=1778229361","caption":"wiji"},"url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/author\/wiji\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293025","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/users\/353"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=293025"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293025\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/media\/241855"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=293025"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=293025"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=293025"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}