{"id":295272,"date":"2024-12-01T15:35:47","date_gmt":"2024-12-01T08:35:47","guid":{"rendered":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?p=295272"},"modified":"2024-12-01T15:35:47","modified_gmt":"2024-12-01T08:35:47","slug":"orang-sunda-di-lampung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/","title":{"rendered":"Orang Sunda di Lampung"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">INDONESIA adalah negeri yang kaya akan keragaman budaya, suku bangsa, dan bahasa. Salah satu keunikan Indonesia adalah adanya kelompok-kelompok masyarakat dari berbagai etnis yang hidup berdampingan di berbagai wilayah. Di antara mereka adalah komunitas Sunda yang menetap di Provinsi Lampung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Sunda, yang pada awalnya berasal dari tanah Pasundan di Jawa Barat, telah berkontribusi pada perkembangan sosial, ekonomi, dan budaya di Lampung. Kehadiran orang Sunda di Lampung telah membentuk jejak sejarah yang unik dan menarik untuk dipelajari lebih mendalam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat Sunda mulai menetap di Lampung sejak awal abad ke-20, terutama melalui program transmigrasi yang digagas oleh pemerintah kolonial Belanda. Dalam catatan sejarah, transmigrasi ini dimulai untuk merespons berbagai masalah sosial dan ekonomi di Jawa yang padat penduduk. Program ini juga bertujuan mengembangkan wilayah-wilayah potensial di luar Jawa, termasuk Lampung, yang pada masa itu masih merupakan daerah yang relatif sepi penduduk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada masa pemerintahan Belanda, orang Sunda yang ikut dalam program transmigrasi ini ditempatkan di beberapa wilayah Lampung, seperti Kalianda, Way Kanan, dan Tulang Bawang. Pada saat itu Lampung memiliki lahan subur dan cocok untuk pertanian, yang memang menjadi keahlian masyarakat Sunda. Hal ini membuat orang Sunda mudah beradaptasi dan berperan penting dalam membuka lahan-lahan baru untuk dijadikan sawah dan perkebunan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Proses Asimilasi\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Sunda yang tiba di Lampung menghadapi tantangan untuk beradaptasi dengan budaya lokal yang mayoritas berasal dari suku Lampung. Meski terdapat perbedaan bahasa, adat, dan tradisi, masyarakat Sunda dan Lampung secara umum memiliki prinsip-prinsip dasar yang serupa, seperti pentingnya nilai-nilai kekeluargaan, gotong royong, dan keagamaan. Hal ini menjadi jembatan yang memungkinkan kedua kelompok etnis tersebut untuk hidup berdampingan dan saling beradaptasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akulturasi antara masyarakat Sunda dan Lampung terlihat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Dalam bidang bahasa, misalnya, masyarakat Sunda di Lampung sering menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi internal mereka, tetapi juga menguasai bahasa Lampung dan bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya proses asimilasi yang kuat, mereka tetap mempertahankan identitas budaya asal namun juga menghargai dan menghormati budaya setempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada bidang seni dan budaya, akulturasi ini terlihat dalam acara-acara adat dan perayaan. Beberapa komunitas Sunda di Lampung menggelar perayaan-perayaan tradisional Sunda, seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">seren taun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tetapi juga ikut serta dalam kegiatan adat Lampung seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">begawi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (perayaan adat) dan pernikahan adat Lampung. Sinergi ini tidak hanya memperkuat identitas mereka sebagai warga Sunda di perantauan, tetapi juga memperkaya budaya lokal.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Kontribusi Ekonomi dan Sosial<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bidang ekonomi, orang Sunda di Lampung telah berperan besar, khususnya di sektor pertanian. Masyarakat Sunda memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bercocok tanam padi, yang mereka bawa dari kampung halaman mereka. Keterampilan ini sangat membantu dalam pembukaan lahan-lahan baru di Lampung dan telah meningkatkan produksi pangan di wilayah tersebut. Beberapa daerah yang dihuni oleh masyarakat Sunda di Lampung bahkan dikenal sebagai sentra pertanian dan menjadi pemasok beras serta sayuran ke daerah-daerah lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain di bidang pertanian, generasi kedua dan ketiga dari masyarakat Sunda di Lampung banyak yang terlibat di sektor-sektor lainnya, seperti perdagangan, jasa, dan industri. Mereka mendirikan berbagai usaha, seperti toko kelontong, rumah makan khas Sunda, hingga penginapan. Kegiatan ekonomi ini tidak hanya memperkuat ekonomi lokal, tetapi juga meningkatkan keragaman budaya kuliner dan gaya hidup di Lampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bidang sosial, orang Sunda di Lampung juga aktif dalam kegiatan gotong royong dan organisasi masyarakat. Mereka turut serta dalam pembangunan fasilitas umum, seperti masjid, sekolah, dan jalan desa, yang bermanfaat bagi seluruh komunitas. Di samping itu, banyak di antara mereka yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, baik sebagai guru, pengajar, maupun relawan pendidikan. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai keagamaan dan sosial yang dianut oleh masyarakat Sunda, yaitu mengutamakan pendidikan dan berbagi ilmu pengetahuan untuk kemajuan bersama.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Tantangan dan Harapan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun telah berbaur dalam masyarakat Lampung, masyarakat Sunda di Lampung masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya upaya mempertahankan identitas budaya Sunda di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi. Banyak generasi muda dari komunitas Sunda di Lampung yang lebih memilih bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, dan hal ini dikhawatirkan dapat menyebabkan hilangnya bahasa dan tradisi Sunda di masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, masyarakat Sunda di Lampung memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya melestarikan budaya dan tradisi mereka. Beberapa komunitas Sunda mengadakan program-program kebudayaan, seperti kelas bahasa Sunda dan pelatihan tari tradisional Sunda, untuk memastikan bahwa generasi muda tetap mengenal dan menghargai akar budaya mereka. Dengan dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat, upaya pelestarian ini dapat terus berlanjut dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Lampung yang beragam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehadiran masyarakat Sunda di Lampung adalah bagian penting dari sejarah Lampung dan Indonesia secara keseluruhan. Mereka telah berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, sosial, hingga budaya. Meskipun mereka adalah perantau, masyarakat Sunda di Lampung berhasil menjalin hubungan harmonis dengan suku asli Lampung dan ikut membangun daerah ini. Perpaduan budaya antara masyarakat Sunda dan Lampung telah menghasilkan keragaman yang memperkaya identitas Lampung sebagai wilayah yang inklusif dan beragam. *<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>INDONESIA adalah negeri yang kaya akan keragaman budaya, suku bangsa, dan bahasa. Salah satu keunikan Indonesia adalah adanya kelompok-kelompok masyarakat dari berbagai etnis yang hidup berdampingan di berbagai wilayah. Di antara mereka adalah komunitas Sunda yang menetap di Provinsi Lampung.\u00a0 Orang Sunda, yang pada awalnya berasal dari tanah Pasundan di Jawa Barat, telah berkontribusi pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":353,"featured_media":295273,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"Wahyu Iryana,\u00a0Penulis, Kepala Pusat Studi Sejarah Islam Lampung"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[4129,83],"tags":[57176,57174,57175,57172,57173],"class_list":["post-295272","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom","category-opini","tag-akulturasi-budaya","tag-asimilasi","tag-budaya-sunda","tag-masyarakat-sunda","tag-sunda-di-lampung"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v24.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Orang Sunda di Lampung - Jendela Informasi Lampung<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Orang Sunda di Lampung - Jendela Informasi Lampung\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"INDONESIA adalah negeri yang kaya akan keragaman budaya, suku bangsa, dan bahasa. Salah satu keunikan Indonesia adalah adanya kelompok-kelompok masyarakat dari berbagai etnis yang hidup berdampingan di berbagai wilayah. Di antara mereka adalah komunitas Sunda yang menetap di Provinsi Lampung.\u00a0 Orang Sunda, yang pada awalnya berasal dari tanah Pasundan di Jawa Barat, telah berkontribusi pada [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Jendela Informasi Lampung\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-12-01T08:35:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Masyarakat-Sunda-sumber-goodnewsIndonesia.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"700\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"400\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"wiji\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"wiji\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/\"},\"author\":{\"name\":\"wiji\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/ffe5d3f5693f988534bda9490a79ce92\"},\"headline\":\"Orang Sunda di Lampung\",\"datePublished\":\"2024-12-01T08:35:47+00:00\",\"dateModified\":\"2024-12-01T08:35:47+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/\"},\"wordCount\":790,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Masyarakat-Sunda-sumber-goodnewsIndonesia.jpg\",\"keywords\":[\"akulturasi budaya\",\"asimilasi\",\"budaya sunda\",\"masyarakat sunda\",\"sunda di lampung\"],\"articleSection\":[\"Kolom\",\"Opini\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/\",\"name\":\"Orang Sunda di Lampung - Jendela Informasi Lampung\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Masyarakat-Sunda-sumber-goodnewsIndonesia.jpg\",\"datePublished\":\"2024-12-01T08:35:47+00:00\",\"dateModified\":\"2024-12-01T08:35:47+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Masyarakat-Sunda-sumber-goodnewsIndonesia.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Masyarakat-Sunda-sumber-goodnewsIndonesia.jpg\",\"width\":700,\"height\":400},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Orang Sunda di Lampung\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\",\"name\":\"Jendela Informasi Lampung\",\"description\":\"Portal Berita dan Informasi Lampung Terkini, Teruji dan Tepercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization\",\"name\":\"Jendela Informasi Lampung\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png\",\"width\":696,\"height\":696,\"caption\":\"Jendela Informasi Lampung\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/ffe5d3f5693f988534bda9490a79ce92\",\"name\":\"wiji\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/79865d290936b629c8ab571a0d87c576.jpg?ver=1778229361\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/79865d290936b629c8ab571a0d87c576.jpg?ver=1778229361\",\"caption\":\"wiji\"},\"url\":\"https:\/\/lampost.co\/epaper\/author\/wiji\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Orang Sunda di Lampung - Jendela Informasi Lampung","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Orang Sunda di Lampung - Jendela Informasi Lampung","og_description":"INDONESIA adalah negeri yang kaya akan keragaman budaya, suku bangsa, dan bahasa. Salah satu keunikan Indonesia adalah adanya kelompok-kelompok masyarakat dari berbagai etnis yang hidup berdampingan di berbagai wilayah. Di antara mereka adalah komunitas Sunda yang menetap di Provinsi Lampung.\u00a0 Orang Sunda, yang pada awalnya berasal dari tanah Pasundan di Jawa Barat, telah berkontribusi pada [&hellip;]","og_url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/","og_site_name":"Jendela Informasi Lampung","article_published_time":"2024-12-01T08:35:47+00:00","og_image":[{"width":700,"height":400,"url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Masyarakat-Sunda-sumber-goodnewsIndonesia.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"wiji","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"wiji","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/"},"author":{"name":"wiji","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/ffe5d3f5693f988534bda9490a79ce92"},"headline":"Orang Sunda di Lampung","datePublished":"2024-12-01T08:35:47+00:00","dateModified":"2024-12-01T08:35:47+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/"},"wordCount":790,"publisher":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Masyarakat-Sunda-sumber-goodnewsIndonesia.jpg","keywords":["akulturasi budaya","asimilasi","budaya sunda","masyarakat sunda","sunda di lampung"],"articleSection":["Kolom","Opini"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/","name":"Orang Sunda di Lampung - Jendela Informasi Lampung","isPartOf":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Masyarakat-Sunda-sumber-goodnewsIndonesia.jpg","datePublished":"2024-12-01T08:35:47+00:00","dateModified":"2024-12-01T08:35:47+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#primaryimage","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Masyarakat-Sunda-sumber-goodnewsIndonesia.jpg","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Masyarakat-Sunda-sumber-goodnewsIndonesia.jpg","width":700,"height":400},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/kolom\/orang-sunda-di-lampung\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Orang Sunda di Lampung"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#website","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/","name":"Jendela Informasi Lampung","description":"Portal Berita dan Informasi Lampung Terkini, Teruji dan Tepercaya","publisher":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#organization","name":"Jendela Informasi Lampung","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Lampost-logo.png","width":696,"height":696,"caption":"Jendela Informasi Lampung"},"image":{"@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/ffe5d3f5693f988534bda9490a79ce92","name":"wiji","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/79865d290936b629c8ab571a0d87c576.jpg?ver=1778229361","contentUrl":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-content\/litespeed\/avatar\/79865d290936b629c8ab571a0d87c576.jpg?ver=1778229361","caption":"wiji"},"url":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/author\/wiji\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295272","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/users\/353"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=295272"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295272\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/media\/295273"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=295272"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=295272"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampost.co\/epaper\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=295272"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}