Panas matahari siang, di pinggir Pantai Kuala Penet, Desa Margasari, Lampung Timur, menyengat kulit gelap Siti. Di gendongan ibu muda itu, seorang balita menangis rewel. Suara bocah laki-laki itu serak, tubuhnya lunglai. Sejak pagi sudah tiga kali ia membawa anaknya ke bebatuan itu untuk buang air besar. Raut Siti cemas melihat wajah pucat dan feses yang cair anaknya yang menderita diare kedua kalinya dalam sebulan itu, Maret 2020.
“Anaknya Siti dan warga sini sudah sering bolak-balik berobat ke puskesmas. Keluhannya rata-rata sama, diare dan muntaber. Maklum, kebanyakan warga pada saat itu masih buang air besar sembarangan di pantai. Bukan di jamban,” tutur Kepala Desa Margasari, Wahyu Jaya, saat berbagi cerita di ruang kerjanya, pada awal September 2025. Ia mengisahkan, sanitasi warga desa nelayan padat dengan 2.014 jiwa per kilometer persegi itu, kebanyakn tidak sehat. Warga akan berjalan dari rumahnya menuju bebatuan, mengenakan sarung, untuk BAB.
“Waktu sebelum 2022 itu, BAB masih pada asal. Jadinya pantai bukan cuma bau tapi juga kotor oleh tinja. Saya pernah mendampingi reporter Trans TV yang mau mengambil gambar di pantai. Eh, malah bau feses. Kotoran yang terjebak di bebatuan sampai mengering. Baunya minta ampun, saya sampai malu,” kenangnya.
Potret serupa juga terjadi di desa tetangga, Sukorahayu. Masih segar dalam ingatan Kepala UPTD Puskesmas Labuhan Maringgai, Retno, yang berkunjung ke desa tersebut pada November 2021. Bersama tim, ia tiba pagi-pagi buta untuk membawa vaksin Covid-19 dosis pertama bagi warga.
Hawa dingin bercampur bau ikan kering menembus masker Retno, yang menyaksikan kesunyian subuh kampung nelayan perlahan pecah. Ada bapak-bapak mulai merapikan jaring basah yang terhampar di halaman. Ada pula para ibu yang sibuk melempar kresek hitam ke sungai muara di belakang rumah mereka.
Satu per satu, kresek mengapung itu terbawa arus tenang sungai menuju laut. “Pak, itu pada nguncalin opo tho ke sungai?” tanya Retno kepada Bhabinkamtibmas yang turut dalam rombongan.

Gerakan terampil dan cuek ibu-ibu membuang plastik tersebut memantik rasa penasaran. “Oh, itu ritual pagi, Bu,” jawab Bhabinkamtibmas tersenyum tipis. “Isinya feses. Kebanyakan warga BAB dalam rumah, dan ditampung dalam kresek. Pagi-pagi begini mereka buang ke sungai. Sudah biasa begitu, Bu,” lanjutnya.
Langkah Retno terhenti. Ia menatap Bhabinkamtibmas lekat-lekat. “Saya tidak menyangka isinya feses. Saya kira sampah bekas sayur rumah tangga. Kaget betul saya pagi itu. Laut sumber kehidupan, malah jadi tempat pembuangan tinja,” cerita Retno.
Hari itu rasa penasaran Retno terhadap penyebab banyaknya jumlah pasien batuk, pilek, hingga diare dari desa pesisir akhirnya terjawab. “Memang masih banyak warga kurang mampu. Mereka tidak punya jamban, jadi BAB sembarangan,” tuturnya.
Retno menjelaskan puncak jumlah pasien puskesmas terjadi setiap musim hujan. Sampah meluap, termasuk tinja yang dibuang sembarangan. Paparan patogen seperti meningkat mengontaminasi sumber air dan makanan.
“Setiap pekan rata-rata ada 20 warga dari desa-desa tersebut yang mengeluh diare. Kebutuhan akan jamban sehat kian mendesak,” ujarnya. Jika tidak segera tertangani, sanitasi buruk itu akan menjadi bom waktu di desa nelayan.
Hingga pada 2022, Retno yang gigih berjuang meningkatkan derajat kehidupan nelayan desa, merajut komunikasi dengan PT Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatra, camat, berikut perangkat desa. Tim memetakan warga prioritas penerima bantuan, dimulai dari yang paling miskin. “Bikin jamban sehat di sini mahal, karena karakteristik medannya berbeda dengan daratan biasa. Membangun di pesisir butuh biaya dan tenaga ekstra,” ujarnya.
Hanya selang beberapa bulan sejak pertemuan, bantuan tahap pertama mulai disalurkan. Sebanyak 40 unit jamban sehat dibangun di Desa Sukorahayu dan Desa Margasari. Kemudian, tahap kedua kembali bergulir sebanyak 40 unit jamban sehat pada 2023 di Desa Margasari, dan pada 2024 di Desa Sukorahayu.
Meski penerapan sanitasi sehat relatif masih baru, Retno melihat sudah terjadi penurunan jumlah pasien khususnya diare. Pembangunan jamban sehat itu membawa dampak besar bagi kesehatan penduduk. Kini, hanya sekitar 10 kasus diare yang tersisa dari desa-desa tersebut.
“Semoga warga penerima bantuan bisa terus mempertahankan sanitasi sehat, supaya anak-anak tumbuh optimal dan ceria. Produktivitas kepala keluarga juga meningkat. Geliat ekonomi kampung pesisir lebih sejahtera karena kini enerji maksimal untuk mencari nafkah,” kata Retno.
Perubahan cara hidup dari BAB di tempat-tempat tidak semestinya, juga berpengaruh baik pada lingkungan yang lebih bersih. “Anak-anak tumbuh dengan kesadaran menjaga kebersihan, sekaligus terhindar dari risiko penyakit. Suasana desa menjadi lebih ceria. Dari kebiasaan baik inilah, energi warga menguat untuk menata masa depan penuh semangat, lebih sehat,” ujarnya.
Senada, Kepada Desa Margasari, Wahyu Jaya menyaksikan tumbuhnya kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan. “Lingkungan desa yang nyaman itu berpengaruh sangat positif pada sektor wisata. Desa kami punya wisata unggulan wisata mangrove Sekar Bahari, dan Pancer Way Penet,” ujarnya.
Wahyu juga mengaku optimistis wisata kuliner desanya akan semakin berkembang. “Warga sudah tidak sakit-sakitan lagi. Sekarang bisa berkreasi mengolah berbagai makanan, mulai dari bahan baku kepiting, sampai dodol dan sirup dari buang mangrove,” ujarnya. Sejumlah gazebo pun berdiri untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung dari luar daerah.
“Dengan sanitasi sehat ini, balita tumbuh dengan baik. Jangan sampai ada yang stunting. Sehingga dana desa kami juga terus stabil, karena besarannya bergantung perkembangan daerah. Bukan cuma sehat, Margasari makin menyala,” tutur Wahyu, matanya berbinar penuh semangat.

Investasi Jangka Panjang
Penyediaan jamban sehat menjadi bagian dari wujud pemenuhan hak anak. Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Tanjungkarang Dewi Purwaningsih mengatakan kesehatan anak-anak adalah investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang lebih kuat, berdaya, dan siap menghadapi masa depan. “Umumnya, anak-anak pesisir rentan mengalami stunting, minimnya akses terhadap makanan bergizi, dan sanitasi kurang memadai,” katanya.
Intervensi terhadap kesehatan tersebut bertalian dengan tujuan global Sustainable Development Goals (SDGs). “Secara khusus tujuan ketiga tentang kesehatan yang baik dan kesejahteraan. Itu akan tercapai melalui sinergi semua pihak, termasuk BUMN. Begitu pula dengan tujuan keenam tentang akses air bersih dan sanitasi layak,” ujarnya.
Guna menggapai visi besar tersebut, Indra Darmawan selaku Head of Comrel & CID PHE OSES mengatakan dengan jamban sehat, warga tidak lagi terbebani gangguan kesehatan akibat sanitasi buruk. Pihaknya mendapat feedback rutin dari kepala puskesmas tentang penurunan kasus diare. “Jika sebelumnya hampir setiap minggu selalu ada laporan, kini jauh berkurang. Bahkan ada beberapa bulan tanpa kasus sama sekali. Akses sanitasi sehat benar-benar berdampak,” ujarnya.
Sinergi tersebut membawa energi bagi kehidupan masyarakat yang tercermin dari hal-hal mendasar, seperti kesehatan, lingkungan bersih, dan semangat baru yang tumbuh. Dengan fondasi itu, masyarakat bisa bekerja dengan lebih tenang. “Ini modal berharga untuk membangun desa lebih kuat. Tenaga kerja lokal kini sehat, dan berdaya,” ujarnya.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengapresiasi kolaborasi dalam membangun sumber daya manusia, melalui sanitasi. Hal itu sejalan dengan proyeksi aksi sanitasi layak Pemerintah Provinsi Lampung yang menarget sedikitnya tujuh dari 15 kabupaten/kota segera mencapai 100 persen. Salah satunya adalah Kabupaten Lampung Timur, yang pada tahun ini proyeksi akses sanitasi layaknya mencapai 89 persen, pada 2026 (93%), 2027 (96), dan 2028 (100%).
“Akses sanitasi layak menjadi bagian penting dalam perencanaan Pembangunan daerah. Semoga semakin banyak pihak yang terlibat aktif meningkatkan fasilitas sanitasi hingga terbentuk pola hidup bersih dan sehat. Menjadikan kehidupan lebih bermartabat,” ujarnya








