Bandar Lampung (Lampost.co) –– Provinsi Lampung tidak hanya terkenal dengan keindahan alam dan kekayaan kulinernya.
Tetapi juga memiliki warisan budaya yang kuat dan terus oleh masyarakat jaga hingga saat ini. Di tengah arus modernisasi, berbagai tradisi lokal tetap lestari sebagai bagian dari identitas dan jati diri masyarakat Lampung.
Tradisi-tradisi ini tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga sarat makna filosofis yang mewariskan secara turun-temurun. Berikut tujuh tradisi lokal Lampung yang masih lestarikan hingga kini:
Baca juga: 7 Tips Jitu Menghindari Kemacetan di Bandar Lampung
1. Begawi Adat (Pesta Adat Lampung)
Begawi adat merupakan salah satu tradisi terbesar dalam masyarakat Lampung, khususnya dalam acara pernikahan atau pemberian gelar adat.
Tradisi ini melibatkan prosesi panjang yang sarat simbol. Mulai dari arak-arakan, tarian adat, hingga pemberian gelar kehormatan kepada seseorang. Begawi adat mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap struktur adat yang berlaku.
Meski membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tradisi ini tetap terjaga karena menganggap sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
2. Cangget (Tari Adat Lampung)
Cangget adalah tarian tradisional Lampung yang biasanya menampilkan dalam acara adat, seperti pernikahan atau penyambutan tamu.
Baca juga: Tiga Tarian Tradisional Lambar Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Tarian ini umumnya yang membawakan oleh para gadis Lampung dengan gerakan yang anggun dan penuh makna. Cangget bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi simbol pergaulan.
Serta sarana mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat. Hingga kini, tarian ini masih sering tampil dalam berbagai acara resmi maupun budaya.
3. Ngakuk Muli (Tradisi Perkenalan Adat)
Ngakuk muli merupakan tradisi perkenalan dalam adat Lampung yang biasanya dilakukan oleh para pemuda kepada keluarga perempuan.
Tradisi ini mencerminkan tata krama dan etika dalam menjalin hubungan, khususnya sebelum menuju jenjang yang lebih serius seperti pernikahan.
Dalam praktiknya, proses ini melakukan dengan penuh sopan santun dan melibatkan keluarga sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai kekeluargaan yang dijunjung tinggi.
4. Ngejalang (Silaturahmi Adat)
Ngejalang adalah tradisi berkunjung atau bersilaturahmi ke rumah keluarga besar atau tokoh adat. Biasanya melakukan pada momen tertentu seperti hari raya atau acara adat.
Tradisi ini menjadi salah satu cara masyarakat Lampung menjaga hubungan kekeluargaan dan mempererat tali persaudaraan. Di tengah kehidupan modern yang serba sibuk, tradisi ngejalang tetap melakukan sebagai bentuk menjaga nilai kebersamaan dan keharmonisan sosial.
5. Sekura (Tradisi Topeng di Lampung Barat)
Sekura merupakan tradisi unik yang berasal dari wilayah Lampung Barat, khususnya masyarakat suku Lampung Pepadun.
Dalam tradisi ini, masyarakat mengenakan topeng dan pakaian beragam, lalu berkeliling desa sambil berinteraksi dengan warga lainnya.
Sekura biasanya berlangsung setelah Hari Raya Idulfitri dan menjadi simbol kebebasan berekspresi serta ajang mempererat kebersamaan. Tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata budaya karena keunikannya.
6. Nemui Nyimah (Falsafah Keramahan Lampung)
Nemui nyimah merupakan salah satu nilai utama dalam falsafah hidup masyarakat Lampung yang berarti ramah, terbuka, dan suka menerima tamu.
Tradisi ini bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi sudah menjadi bagian dari identitas budaya Lampung. Masyarakat Lampung dikenal sangat menghormati tamu, bahkan sering menyuguhkan hidangan terbaik sebagai bentuk penghormatan. Nilai ini masih sangat terasa, terutama di daerah pedesaan.
7. Bejuluk Beadok (Pemberian Gelar Adat)
Bejuluk beadok adalah tradisi pemberian gelar adat kepada seseorang sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan dalam masyarakat.
Gelar ini biasanya di berikan dalam acara adat tertentu dan memiliki makna serta tanggung jawab tersendiri.
Tradisi ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat Lampung, status sosial tidak hanya melihat dari aspek materi. Tetapi juga dari peran dan kontribusi seseorang dalam lingkungan adat.
Keberadaan berbagai tradisi ini menjadi bukti bahwa masyarakat Lampung masih memegang teguh nilai-nilai budaya di tengah perkembangan zaman.
Tradisi bukan hanya sekadar warisan masa lalu, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang harmonis. Pelestarian tradisi lokal ini juga menjadi penting untuk menjaga identitas daerah sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.
Dengan mengenal dan memahami tradisi, diharapkan masyarakat dapat terus menjaga warisan budaya agar tidak hilang tergerus modernisasi. Selain itu, tradisi-tradisi ini juga memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata budaya.
Jika mengelola dengan baik, tradisi lokal Lampung dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah.
Dengan demikian, menjaga dan melestarikan tradisi bukan hanya menjadi tanggung jawab masyarakat adat. Tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Dukungan dari pemerintah, komunitas budaya, hingga generasi muda sangat membutuhkan agar tradisi lokal Lampung tetap hidup dan berkembang di masa depan.








