Jakarta (Lampost.co) – Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan komitmennya menjaga kualitas petugas haji dengan mencopot 13 calon petugas selama proses pendidikan dan pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Dahnil mengungkapkan pencopotan tersebut terjadi setelah tim pelatih menemukan berbagai pelanggaran serius. “Laporan yang saya terima tadi malam, ada 13 orang yang harus kami keluarkan dari proses diklat,” ujar Dahnil usai pengukuhan PPIH Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat, 30 Januari 2026.
Baca juga: Petugas Haji Dituntut Optimal Dampingi Jemaah Kategori Risiko Tinggi
Ia menjelaskan, para peserta yang pihaknya coret menunjukkan sikap indisipliner, memalsukan absensi, memiliki penyakit kronis, hingga melakukan pemalsuan hasil medical check up (MCU). Bahkan, salah satu peserta terbukti mengidap tuberkulosis (TBC) namun tetap meloloskan diri dalam seleksi kesehatan.
Dahnil menegaskan tidak ada ruang toleransi dan perlakuan istimewa bagi siapa pun yang ingin menjadi petugas haji. Menurutnya, seluruh peserta wajib mengikuti pelatihan secara penuh, disiplin, dan transparan karena mereka akan berada di garis terdepan dalam melayani jamaah haji.
“Kami hanya membutuhkan orang-orang yang benar-benar siap, fokus selama 20 hari mengikuti pelatihan, patuh pada aturan, dan bekerja sebagai satu tim. Semua pengambilan keputusan ini oleh tim pelatih dari unsur TNI dan Polri,” tegasnya.
Ia menambahkan, aturan kedisiplinan tidak berhenti saat diklat. Ketika sudah bertugas di Tanah Suci, seluruh petugas tetap harus menjalankan peran dan tanggung jawabnya secara maksimal. Jika ada yang lalai, pihaknya tidak akan ragu menjatuhkan sanksi tegas.
“Kami akan evaluasi secara ketat. Kalau tidak bekerja dengan baik, langsung kami keluarkan. Publik perlu tahu, petugas haji ini dapat gaji. Pekerjaannya sangat melelahkan, bahkan bisa terasa seperti bekerja 25 jam sehari,” kata Dahnil.
Tugas Petugas Haji
Sebelumnya, Dahnil juga mengingatkan bahwa tugas utama petugas haji adalah melayani jamaah, bukan sekadar menumpang untuk menunaikan ibadah haji. Ia ingin memastikan niat para petugas murni untuk melayani, bukan mencari keuntungan pribadi.
“Kami ingin petugas haji benar-benar datang dengan niat melayani jamaah, bukan orang-orang yang sekadar nebeng berhaji. Mereka sudah kami latih cukup lama sebagai sebuah tim,” ujarnya.
Para PPIH Arab Saudi telah menjalani pendidikan dan pelatihan intensif selama 20 hari secara luring di Asrama Haji Pondok Gede dan akan melanjutkan pelatihan daring selama 10 hari. Dahnil menyebut latar belakang para petugas tahun ini sangat beragam, mulai dari tenaga medis, aparat keamanan, jurnalis, akademisi, hingga profesor.
“Walaupun latar belakangnya berbeda-beda, mereka harus berada dalam satu bendera dan satu komitmen sebagai petugas haji,” pungkasnya.
Ikuti terus berita dan artikel Lampost.co lainnya di Google News








