Joko Anwar Siap Gelar Nobar Ghost in the Cell di Lapas Korupsi

Sutradara Joko Anwar siap gelar nobar film Ghost in the Cell di lapas korupsi. Simak kolaborasi unik antara tim film dan KPK untuk edukasi narapidana.

Editor Nana Hasan
Rabu, 29 April 2026 20.12 WIB
Joko Anwar Siap Gelar Nobar Ghost in the Cell di Lapas Korupsi

Jakarta (Lampost.co) – Sutradara ternama Joko Anwar secara terbuka menyetujui usulan menarik terkait film terbaru miliknya. Ia berencana mengadakan pemutaran film Ghost in the Cell khusus untuk para narapidana kasus korupsi. Ide segar ini muncul saat acara diskusi antikorupsi berlangsung di Gedung Merah Putih KPK pada Selasa (28/04/2026).

Poin Penting

  • Lokasi Khusus: Rencana pemutaran film Ghost in the Cell di lembaga pemasyarakatan (lapas) tipikor.
  • Tujuan Acara: Memberikan refleksi moral bagi para narapidana melalui media film horor komedi.
  • Dukungan KPK: Pihak Komisi Pemberantasan Korupsi menyetujui usulan penayangan film tersebut di tahanan.
  • Kesiapan Produksi: Tim Come and See Pictures siap membawa proyektor dan layar langsung ke penjara.

Seorang audiens berpendapat bahwa film horor komedi tersebut sangat relevan dengan kehidupan para koruptor di penjara. Namun, para tahanan tersebut tentu tidak memiliki akses untuk pergi menonton ke bioskop umum.

Baca juga : Ghost in the Cell Tembus 2 Juta Penonton: Film Joko Anwar Mendunia

“Menurut saya, film ini harus ditonton oleh orang-orang koruptor di penjara. Tapi mereka nggak mungkin keluar nonton bareng di bioskop,” ujar audiens tersebut.

Respon Positif Joko Anwar

Mendengar hal itu, Joko Anwar segera memberikan respon yang sangat positif dan penuh antusiasme. Bahkan, rumah produksi Come and See Pictures siap memfasilitasi perlengkapan teknis untuk pemutaran di dalam lapas. Joko Anwar kemudian mengajak pihak KPK untuk berkolaborasi mewujudkan rencana edukatif tersebut bagi para narapidana.

“Ini bagus banget idenya. Gimana kalau kita minta KPK membantu kita supaya kita bisa memutar Ghost in the Cell di lapas-lapas yang dipenuhi narapidana korupsi. Setuju apa nggak?” tutur sosok yang akrab disapa Jokan itu.

Sebelumnya, tim produksi juga telah melaksanakan sesi refleksi bersama para mantan narapidana dan petugas lapas. Mereka ingin memastikan bahwa penggambaran kehidupan penjara dalam film terasa nyata bagi penonton. Salah satu mantan narapidana merasa alur cerita film ini memberikan pesan moral yang sangat mendalam.

“Pengingat kita semua (bahwa) nggak semua orang di dalam penjara itu orang jahat dan nggak semua orang yang ada di luar itu orang baik,” ujarnya.

Secara garis besar, film ini mengisahkan teror misterius di Lapas Labuhan Angsana yang mengincar orang-orang beraura negatif. Film ini bertabur bintang papan atas seperti Abimana Aryasatya, Bront Palarae, hingga Rio Dewanto. Oleh karena itu, kolaborasi antara seni film dan kampanye antikorupsi ini diharapkan mampu memberikan dampak sosial yang nyata.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI