Jakarta (Lampost.co) – Zaskia Adya Mecca memutuskan mempercepat kepulangan dari Mesir setelah mengikuti aksi Global March to Gaza. Aktris itu membagikan momen haru lewat video Instagram, menunjukkan air mata dan refleksi mendalam atas misinya.
Poin Penting
- Zaskia pulang lebih awal dari Mesir karena kondisi keamanan memburuk.
- Ia mengikuti aksi Global March to Gaza selama empat hari.
- Zaskia, Ratna Galih, dan Hamidah Rachmayanti mengalami tekanan emosional.
- Mereka menyamar sebagai turis demi keselamatan selama di Kairo.
- Aksi ini bertujuan membuka akses bantuan ke Gaza melalui perbatasan Rafah.
Zaskia menyebut keputusannya pulang lebih awal terasa berat meski secara logika memang langkah yang paling tepat. “Secara logika benar, tapi hati terasa berat,” tulis Zaskia dalam akun Instagram pribadinya @zaskiadyamecca. Ia menekankan bahwa perjalanan ini bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan emosional.
Risiko Tinggi dan Pertimbangan Matang
Menurutnya, setiap langkah harus dipikirkan matang karena satu kesalahan bisa berakibat fatal. “Kita bicara soal resiko, kebijaksanaan, dan mengatur ego di tengah kondisi genting,” ungkapnya. Pengambilan keputusan dalam kondisi berisiko tinggi sangat menuntut ketenangan dan ketepatan.
Zaskia tidak sendiri. Ia bersama sembilan orang lain termasuk Ratna Galih dan Hamidah Rachmayanti. Mereka saling menguatkan ketika situasi memuncak atau emosi tak tertahankan.
Hamidah terlihat menangis karena merasa perjuangannya belum cukup berarti. “Aku sedih, merasa belum berbuat apa-apa,” ucapnya dalam video.
Ratna mencoba menenangkan, sambil menjelaskan keterbatasan mereka dalam aksi lapangan. “Beberapa aktivis bahkan hilang. Kalau kita gegabah, risikonya besar,” tambah Ratna.
Situasi Mencekam Sejak Tiba di Kairo
Zaskia menjelaskan bahwa kondisi mencekam sudah terasa sejak rombongan tiba di Kairo. Mereka melihat sejumlah aktivis asing langsung dideportasi dari bandara. Meski akhirnya bisa masuk hotel, mereka terus diawasi ketat oleh aparat keamanan.
Zaskia Adya Mecca dan Rombongan Menyamar demi Keselamatan
Suatu malam, tiga mobil polisi datang ke hotel dan membawa empat warga asing. Rombongan WNI harus negosiasi agar bisa tetap aman dan tidak ditahan.
Mereka pindah ke hotel lain dan berpura-pura menjadi turis agar tidak dicurigai. Bahkan, mereka menyewa kapal wisata di Sungai Nil untuk menghindari sorotan aparat. Zaskia menyebut momen itu sebagai simbol pengorbanan dan keterbatasan perjuangan mereka.
Meski pulang lebih awal, semangat perjuangan tetap tertanam kuat di hati Zaskia dan rekan-rekan. “Perjuangan belum selesai sampai Palestina merdeka,” tulis Zaskia penuh haru. Ia berharap suara rakyat Indonesia tetap terdengar untuk membela keadilan di Gaza.
Global March to Gaza merupakan aksi internasional yang diikuti lebih dari 1.000 peserta dari 50 negara. Tujuan utamanya adalah membuka akses bantuan ke Gaza lewat perbatasan Rafah. Aksi ini mendapat apresiasi luas, meski dihadapkan pada banyak risiko dan tekanan.
Ratna Galih menggambarkan kondisi di Mesir sebagai kebebasan yang semu. “Kita bebas bergerak, tapi merasa tidak aman. Suara kita seperti dihilangkan,” ujarnya. Ia menutup dengan pesan penting bahwa perjuangan tidak harus selalu di garis depan.








