Jakarta (Lampost.co) – Joko Anwar kembali menggebrak industri layar lebar melalui karya ke-10 miliknya yang berjudul Siksa Kubur. Film Siksa Kubur produksi Come And See Pictures ini menawarkan perspektif horor yang jauh lebih dewasa dan sangat bermakna. Penonton akan merasakan kengerian psikologis yang mendalam tanpa harus bergantung pada kejutan suara yang berisik.
Poin Penting
- Horor Psikologis: Mengutamakan atmosfer mencekam dan pembangunan karakter daripada sekadar jumpscare.
- Efek Praktikal: Minim penggunaan CGI untuk menjaga kesan realis yang mengerikan di dalam liang lahat.
- Pesan Mendalam: Mengajak penonton merenungkan kembali keimanan dan konsekuensi setiap perbuatan di dunia.
Sinopsis dan Perjalanan Skeptisisme Sita
Cerita berfokus pada karakter Sita yang kehilangan kepercayaan terhadap Tuhan setelah tragedi bom bunuh diri orang tuanya. Akibat trauma tersebut, Sita menjadi sangat skeptis terhadap ajaran agama mengenai balasan di alam kubur. Ia kemudian memutuskan untuk membuktikan bahwa siksa kubur hanyalah mitos belaka buatan masyarakat.
Baca juga : 10 Film Horor Indonesia Terbaru di Netflix, Review Lengkap dan Paling Mencekam
Demi pembuktian itu, Sita mencari orang paling berdosa yang akan segera meninggal dunia. Ia berencana untuk ikut masuk ke dalam liang kubur bersama jenazah tersebut. Namun, tindakan nekat ini justru membawa konsekuensi mengerikan yang akan menguji seluruh keyakinannya.
Kritik Sosial dan Isu Sensitif
Joko Anwar tidak hanya menjual visual seram, tetapi juga menyisipkan kritik sosial yang sangat tajam. Film Siksa kubur ini berani mengangkat isu bom bunuh diri dan pelecehan seksual yang sering dianggap tabu. Selain itu, narasi film menyoroti bagaimana relasi kuasa dan uang sering kali menindas orang lemah.
Keunggulan Teknis dan Akting Memukau
Sutradara memilih penggunaan efek praktikal daripada CGI untuk menciptakan suasana yang terasa nyata dan dingin. Joko Anwar menyatakan, “Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat segala aspek dari film ini terasa nyata. Bagaimana supaya penonton percaya siksa kubur itu ada.”
Selain visual, tata suara atau scoring memegang peranan krusial untuk membawa penonton masuk ke dalam kubur. Joko menambahkan, “Film ini penceritaannya separuhnya ada di tata suara. Kami ingin penonton merasa berada dalam kejadian yang dialami karakternya, termasuk di dalam kubur.”
Dari sisi pemeran, akting Slamet Rahardjo sebagai Wahyu tampil sangat luar biasa dan sangat layak mendapat apresiasi tinggi. Sementara itu, Joko Anwar menegaskan visinya melalui pernyataan: “Setelah 20 tahun bekerja sebagai penulis dan sutradara, rasanya saya ingin membuat film yang lebih punya makna, lebih dewasa, dan secara cerita serta pembangunan karakter lebih kuat dari film-film saya sebelumnya.”






