JAKARTA (Lampost.co) – Raja Dangdut Indonesia, Rhoma Irama, menyatakan keresahan mendalam terkait penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Oknum tidak bertanggung jawab kini menggunakan suara dan identitasnya untuk menciptakan lagu palsu secara ilegal. Melalui unggahan video pada Selasa (31/3/2026), pelantun lagu “Darah Muda” ini memperingatkan seluruh penggemarnya agar lebih waspada.
Poin Penting
- Penyalahgunaan AI: Oknum menggunakan teknologi AI untuk meniru suara dan gaya musik Rhoma Irama secara ilegal.
- Tiga Lagu Palsu: Karya manipulatif yang terdeteksi berjudul ‘Untukmu April’, ‘Ramadan Bukan Untuk Gaya’, dan ‘Hati-Hati Kecelek’.
- Imbauan FORSA: Rhoma Irama meminta penggemar setianya lebih teliti dalam membedakan karya asli dan hasil manipulasi.
- Peringatan Hukum: Pihak Rhoma Irama mendesak penghentian praktik ini karena melanggar hak cipta dan merugikan reputasi artis.
Rhoma Irama meminta para penikmat musik dangdut, khususnya FORSA, untuk mengenali karya-karya yang asli. Ia menjelaskan bahwa teknologi AI saat ini mampu meniru vokal serta gaya musik Soneta Group dengan sangat identik.
Baca juga : Fantastis! Pinkan Mambo Raup Puluhan Juta Rupiah dari Live TikTok di Jalanan
“Kepada penikmat lagu-lagu dangdut khususnya Forsa, saya ingin mengingatkan bahwa selama ini ada teknologi AI yang membuat lagu-lagu atas nama saya,” ungkap Rhoma Irama.
Musisi legendaris tersebut mengungkap bahwa pihaknya telah mendeteksi setidaknya tiga lagu hasil manipulasi digital. Lagu-lagu tersebut mencatut nama besar Rhoma Irama dan Soneta Group di berbagai platform musik digital. Oknum tersebut bahkan menggunakan visual sang Raja Dangdut untuk mengelabui publik demi keuntungan pribadi.
“Nah, jadi vokalnya vokal Rhoma, yang main Soneta. Yang terdeteksi baru tiga lagu nih: ada ‘Untukmu April’, kemudian ada lagi ‘Ramadan Bukan Untuk Gaya’, yang ketiga ‘Hati-Hati Kecelek’,” lanjutnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa deretan lagu tersebut sama sekali bukan bagian dari karya resmi miliknya. Rhoma memastikan bahwa aransemen dalam lagu-lagu palsu itu tidak melibatkan kreativitas asli dari Soneta Group.
“Ini sama sekali bukan lagu Rhoma dan bukan aransemen Rhoma, tapi mereka bikin, nah lihat,” tegasnya dengan nada serius.
Sebagai penutup, Rhoma Irama mengimbau para pelaku manipulasi untuk segera menghentikan tindakan merugikan tersebut. Ia memperingatkan adanya potensi konsekuensi hukum bagi pihak-pihak yang terus menyebarkan karya palsu berbasis AI.
“Kepada pengguna ini ya, Masyaallah, coba hentikan ini. Sesuatu yang tidak baik dan akan berakibat tidak baik kepada Anda. Oke? Terima kasih atas perhatiannya,” tutup Rhoma Irama.








