Bandar Lampung (Lampost.co) – Pendaftar calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sepi peminat. Hal itu karena orang-orang yang serius berantas korupsi menganggap tak ada harapan pada KPK.
.
“Sepertinya orang-orang yang tidak mau mendaftar adalah orang-orang yang serius ingin melakukan pemberantasan korupsi. Dan mungkin merasa tidak ada harapan di sana,” kata pengajar Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Asfinawati, dalam diskusi online bertajuk ‘Kupas Tuntas Seleksi Capim dan Dewas KPK’, Senin, 15 Juli 2024.
.
Asfinawati mengaku sempat mendorong sejumlah figur untuk mendaftar. Namun, responsnya menunjukkan tidak ada keinginan. “Saya ikut mendorong kepada beberapa orang untuk daftar ke pansel KPK. Dan jawabannya ‘memang masih ada harapan ya Fin?’ gitu ya dan tentu saja saya sulit untuk menjawab itu,” ujar Asfinawati.
.
Baca Juga : https://lampost.co/lampung/mantan-kapolda-lampung-ike-edwin-kembali-mendaftar-capim-kpk/
.
Mantan Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) itu mengatakan. Para figur yang tak mendaftar itu juga melihat peristiwa ke belakang. Yakni, saat proses seleksi komisioner untuk periode 2019-2023 yang terpaksa untuk patuh terhadap revisi UU KPK kala itu.
.
“Jadi proses yang itu ya proses sesat gitu kan. Orang-orang kok ditagih sebelum bekerja dengan sesuatu yang secara objektif bisa mereka tolak. Nah jadi proses-proses itulah yang menurut saya membuat orang merasa sedikit yang ingin mendaftar. Dan ini sinyal yang sangat buruk bahwa lembaga anti rasuah tidak lagi terpercaya atau teranggap tidak memiliki lagi kekuasaan, kuasa untuk memberantas korupsi secara objektif,” jelas Asfinawati.
.
Pendaftaran capim dan Dewan Pengawas (Dewas) KPK terbuka hingga Senin, 15 Juli 2024. Seleksi ini menyusul berakhirnya masa jabatan pimpinan dan Dewas KPK pada 20 Desember 2024. Pendaftar capim sudah mencapai 210 orang dan Dewas 142 orang. Data ini tercatat per Senin, 15 Juli 2024, pukul 06.50 WIB.







