Jakarta (Lampost.co) – Dosen Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), Dr. Abd Rahman Hamid menyampaikan peran perempuan dalam merawat tradisi maritim di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Rabu, 26 November 2025.
Pada event yang tergelar 24-26 November 2025 tersebut, Abd. Rahman Hamid menjadi narasumber utama Focus Group Discussion (FGD). Selain dirinya, ada juga narasumber lain yang mengisi acara tersebut yaitu KH. Ahmad Baso, Dr. Anhar Gonggong, Dr. Suriadi Mappangara, Prof. Dr. Muhlis Hadrawi, dan Dr. Mukhlis Paeni.
Kemudian Abd Rahman Hamid mengisi acara pada hari ketiga. Ia mengusung topik “Gastronomi dan Jalur Rempah: Peran Perempuan dalam Merawat Tradisi Maritim Buton dan Mandar”. Sementara moderator sesi tersebut yakni Risma Widiawati, M.Si. Acara itu terhadiri 30 peneliti Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban secara luring dan 45 peserta secara daring.
“Tradisi kemaritiman seringkali teranggap milik laki-laki saja. Namun, apakah tradisi itu bisa bertahan tanpa kehadiran perempuan?”, kata Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN RIL saat mengawali presentasinya.
Berangkat dari isu tersebut, Hamid menjelaskan mengenai peranan perempuan dalam merawat kelangsungan tradisi maritim. Kemudian transformasi gastronomi pelaut menjadi identitas orang Buton dan Mandar.
Kemudian menurut Hamid, perempuan Buton dan Mandar memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan aktivitas pelayaran pelaut. Mulai dari menyediakan bekal untuk suaminya hingga memproduksi beragam komoditas niaga. Seperti kain tenun, parang dan pisau besi, menyikap goreng dari kelapa, dan menenun kain layar perahu.
Kuliner
Selanjutnya yang menarik adalah kedua suku bangsa bahari Indonesia ini memiliki jenis kuliner yang sama. Kuliner itu terbuat dari singkong, yakni soami/kasoami/sangkola (Buton) dan jepa (Mandar).
Kemudian menurutnya, kesamaan itu karena dua faktor. Pertama, kondisi kehidupan laut atau atas perahu terpengaruhi oleh faktor gelombang, arus laut, dan angin. Kedua, para pelaut memerlukan kuliner yang mudah dikonsumsi dan adaptif terhadap kondisi kehidupan di atas perahu. Baik saat angin kencang maupun angin tenang.
“Inilah kecemerlangan perempuan dalam memastikan keselamatan suami mereka dan sekaligus merawat tradisi maritim,” katanya.
Awalnya merupakan kuliner pelaut, lalu dikonsumsi semua kalangan, dan sekarang menjadi simbol identitas orang Buton dan Mandar. Gastromi itu juga menjadi petunjuk mengenai persebaran (diaspora) Buton dan Mandar Indonesia. Bahkan, ia disebut soft diplomacy lintas budaya Tanah Air.
Kemudian elaborasi ini menjadi sumber inspirasi untuk studi lanjut mengenai kehidupan para pelaut lainnya di Indonesia. “Tanpa kehadiran perempuan, tidak mungkin tradisi maritim bisa bertahan berabad lamanya”, kata Hamid.
Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban, Wuri Handoko menyampaikan. Ia berterima kasih kepada seluruh narasumber yang telah berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para peneliti.
“Harapannya kelak terbentuk satu pusat kajian Gastronomi Nusantara di lingkungan BRIN,” kata kandidat Doktor Arkeologi Universitas Indonesia ini.
Sebelumnya, Abd Rahman Hamid mengisi acara AB Lapian Memorial Lecture, Minggu, 23 September 2025. Kegiatan itu dengan tema utama “Cerita dalam Hidangan: Tradisi Lisan Kuliner sebagai Potensi Wisata Gastronomi Berkelanjutan”.








