Bandar Lampung (Lampost.co) – Pakar geologi Institut Teknologi Sumatera (Itera), Happy Christin Natalia, memastikan erupsi Gunung Lewotobi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak memengaruhi aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda.
Ia menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau dan Gunung Lewotobi tidak memiliki keterkaitan langsung karena berada di zona lempeng tektonik yang berbeda. Gunung Lewotobi terletak di lempeng Indo-Australia, sementara Gunung Anak Krakatau berada di lempeng Eurasia.
“Secara tatanan tektonik, keduanya memiliki karakteristik berbeda, sehingga Gunung Anak Krakatau tidak terpengaruh aktivitas vulkaniknya,” ujar Happy, Selasa, 8 Juli 2025.
Lebih lanjut, meskipun Gunung Anak Krakatau terpengaruh oleh subduksi lempeng Indo-Australia, seperti halnya Gunung Lewotobi. Perbedaan kecepatan subduksi antara kawasan Indonesia bagian timur dan barat membuat erupsi Lewotobi tidak berdampak pada GAK.
“Gunung Anak Krakatau memang berada di bawah pengaruh subduksi Indo-Australia, tetapi kecepatannya berbeda dengan wilayah timur seperti NTT. Jadi dampaknya tidak signifikan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa yang perlu menjadi perhatian adalah durasi erupsi Gunung Anak Krakatau. Gunung tersebut memiliki siklus erupsi berkala, yakni setiap 8 hingga 24 bulan.
Perlu Waspada
Periode tersebut perlu waspada untuk mengantisipasi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar wilayah tersebut.
“Jadi sebenarnya yang penting untuk diperhatikan adalah siklus erupsi Gunung Anak Krakatau, yang berkisar antara delapan bulan hingga dua tahun,” pungkasnya. (Umar Robbani)