Bandar Lampung (Lampost.co) — Berdasarkan program Lampung Mengajar, tercatat masih ada 53 sekolah tingkat menengah atas di wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T). Sekolah tersebut terdiri dari 33 SMA, 14 SMK, dan 6 SLB yang tersebar di 11 kabupaten.
Pengamat pendidikan, Prof. Herpratiwi, menilai banyak siswa di daerah tertinggal sebenarnya memiliki potensi akademik yang baik. Namun, keterbatasan akses pendidikan membuat mereka tidak dapat mengembangkan kemampuannya secara maksimal.
Menurutnya, distribusi tenaga pengajar yang berkualitas memang sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan di wilayah 3T. Kehadiran guru berkualitas dapat memberikan pembelajaran yang lebih optimal kepada peserta didik.
“Permasalahan pendidikan di 3T itu bagaimana memastikan kualitas SDM pengajarnya. Pemerintah harus bisa menghadirkan guru-guru yang berkualitas di daerah 3T,” ujar Herpratiwi, Rabu, 27 Agustus 2025.
Namun, ia menekankan bahwa mendistribusikan guru saja tidak cukup. Pemerintah juga harus memenuhi fasilitas pengajaran. Tanpa dukungan sarana belajar yang memadai, guru terbaik pun akan kesulitan dalam menyampaikan materi.
“Guru itu meski memiliki kompetensi luar biasa, tapi kalau tidak diimbangi dengan fasilitas pengajaran, tetap akan kesulitan,” tegasnya. Herpratiwi menambahkan, sebenarnya banyak guru berminat mengabdi di daerah 3T.
Pindah
Akan tetapi, minimnya fasilitas membuat sebagian dari mereka enggan bertahan dan akhirnya memilih pindah ke kota.
“Semangat guru itu tumbuh dari kemudahan yang diberikan pemerintah untuk membelajarkan anak-anaknya. Kalau sudah di pelosok, internet tidak ada, teknologi tidak ada, pasti guru akan lebih memilih pindah ke kota,” tambahnya.
Ia menegaskan, jika pemerintah serius ingin memperbaiki mutu pendidikan di 3T, maka fasilitas pembelajaran harus menjadi prioritas utama. (Umar Robbani)








