Salatiga (lampost.co)–Wapres Gibran Rakabuming Raka siap mengintegrasikan potensi pangan lokal ke dalam rantai pasok program nasional. Pemerintah kini mulai melirik kreativitas pelaku UMKM di Salatiga agar produk olahan singkong mereka dapat menjadi bagian dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah strategis ini muncul setelah adanya aspirasi dari pelaku usaha lokal yang berharap agar kudapan tradisional tidak hanya menjadi penonton. Keterlibatan unit usaha kecil dalam program ini mampu menjadi mesin penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus memperkuat identitas pangan nusantara di mata generasi muda.
Nunung, seorang anggota UMKM di Kampung Singkong, resah melihat menu kudapan siswa masih dominan produk bermerek dari pabrik. Padahal, wilayah Salatiga mampu memproduksi camilan sehat seperti crackers singkong yang secara kualitas tidak kalah bersaing.
“Anak saya sering mendapatkan menu tambahan berupa crackers pabrikan dan susu. Padahal di sini, kami bisa memproduksi crackers serupa dari bahan singkong lokal yang lebih segar,” ungkap Nunung saat bertemu Wapres di Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Menanggapi masukan tersebut, Gibran berjanji akan segera berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) serta instansi terkait lainnya. Ia menilai bahwa jarak antara produsen lokal dengan dapur MBG yang cukup dekat, yakni kurang dari lima kilometer, merupakan keuntungan logistik untuk memastikan kesegaran makanan.
“Saya tadi sempat berpikir hal yang sama saat meninjau SMP terdekat. Jaraknya hanya sekitar tiga kilometer, sehingga sangat mungkin produk-produk UMKM di sini kita sambungkan dengan BGN agar bisa masuk ke menu siswa,” ujar Gibran.
Meskipun demikian, Gibran menegaskan bahwa porsi dan jenis kudapan tersebut nantinya akan tetap sesuai dengan kebutuhan gizi siswa serta alokasi anggaran yang tersedia. Ia sangat mengapresiasi inovasi warga yang mampu menyulap umbi-umbian menjadi produk kekinian seperti nugget ubi, kroket singkong, hingga singkong keju dalam kemasan siap saji.
Keberagaman Varian
Selain itu, keberagaman varian produk mulai dari bentuk kering, basah, hingga makanan beku (frozen food) mempermudah penyaluran skala besar. Dengan demikian, kerja sama ini tidak hanya sekadar memberikan makan siang gratis. Tetapi juga menciptakan ekosistem sirkular yang menghidupkan pelaku usaha kecil di daerah.
Wapres berharap inovasi dari Salatiga ini bisa menjadi proyek percontohan bagi daerah lain di Indonesia dalam mengoptimalkan potensi lokal masing-masing. Integrasi antara kebijakan nasional dan kearifan lokal menjadi kunci utama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. (ANT)








