Jakarta (Lampost.co)— Kebaya merupakan warisan kebudayaan bersama antarbangsa yang berpotensi menjadi instrumen perdamaian dunia.
“Kebaya berkembang melintasi berbagai suku bangsa dan etnis, sehingga berpotensi menjadi karya yang mampu menjadi pemersatu dan mewujudkan perdamaian antarbangsa,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat ,Rabu, 10 Juli 2024.
Secara historis, jelas Lestari, kebaya merupakan kebudayaan bersama, yang tidak hanya di miliki satu negara saja.
Dalam perspektif sejarahkebaya berkembang dalam peradaban manusia, mempertemukan ragam suku bangsa dan etnis.
Kebaya juga, merepresentasi budaya dan bahasa tertentu, serta dapat kita terima sebagai budaya bersama.
Rerie mengungkapkan, berdasarkan catatan sejarah, kebaya terhubung dengan banyak negara pada periode modern.
Seperti antara lain Tiongkok, Arab, India, Portugal, Belanda dan negara-negara sekawasan.
Keterhubungan masa lalu itu terjadi karena perdagangan rempah dan kerja sama perdagangan lainnya. Oleh karena itu menciptakan akulturasi budaya yang menteruskan lintas generasi dalam bentuk fesyen dan bahasa.
Alat Diplomasi
Atribut keterhubungan tersebut menguatkan kebaya sebagai alat diplomasi budaya untuk perdamaian dunia.
Ketua Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo, mengungkapkan peringatan Hari Kebaya Nasional yang pertama akan berlangsung pada 24 Juli 2024 di Istora Senayan, Jakarta.
Peringatan Hari Kebaya Nasional itu harus kita manfaatkan sebagai momentum meningkatkan persatuan dan perjuangan perempuan Indonesia agar semakin berdaya dan naik kelas.
“Jadikan kebaya sebagai alat pemersatu bangsa dan negara-negara sekawasan,” tegas Giwo.
Presiden Global Peace Women, Hanako Ikeno mengungkapkan, sampai akhir tahun lalu ia tidak tahu apa itu kebaya. Hingga akhirnya, ia menyukai kebaya.
Menurutnya, kebaya merupakan metafora dalam pembicaraan di global peace foundation yang selalu berupaya membangun persatuan.
Karena hampir di sejumlah negara sudah menggunakan kebaya, seperti di Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand. Bahkan saat ini sedang bersama mengajukan kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO.
Kebaya itu melampaui batas agama dan etnis, terbukti dengan adanya pengajuan bersama kebaya oleh sejumlah negara ke UNESCO.








