Bandar Lampung (Lampost.co) – Tayangan Trans7 yang melecehkan pesantren dan kiai menjadi musibah bagi santri dan dunia pesantren. Akan tetapi, kado pahit itu justru menjadi momentum konsolidasi bangsa.
“Kita marah bukan karena Lirboyo atau NU saja. Tapi karena penistaan terhadap kelompok identitas yang menjadi bagian dari Keindonesiaan.” tegas Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, mengutip Media Indonesia, Minggu (19/10).
Kemudian menurutnya, tindakan merendahkan kelompok identitas bisa memicu perpecahan bangsa. Sehingga, menurutnya, harus menjadi perhatian bersama dengan semangat persatuan.
Selanjutnya, Gus Yahya menyerukan pentingnya persatuan bangsa menghadapi tantangan global dan domestik. Sebelum menyerukan persatuan nasional, Gus Yahya mengingatkan agar warga NU terlebih dahulu bersatu.
Lalu ia menegaskan, persatuan bukan berarti tanpa perbedaan, tapi kemampuan untuk tetap bersama di tengah perbedaan. “Masuklah ke dalam jam’iyyah ini dalam rukun dan bersatu, bukan hanya jasad, tapi juga roh. Adanya masalah tidak boleh menjadi alasan untuk berpisah,” pesannya.
Hari Santri Nasional
Gus Yahya menambahkan, peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 kian meneguhkan posisi kaum santri dan pesantren sebagai jantung perjalanan bangsa Indonesia. Bagi para santri, HSN jauh dari semata slogan belaka. Tetapi justru merupakan momentum konsolidasi semua kekuatan dalam menjaga dan merawat persatuan.
Kemudian lebih dari itu, lanjut Gus Yahya, HSN yang genap satu dekade sejak tertetapkan pada 2015. Ini, juga bermakna sebuah perayaan atas terakuinya eksistensi dan perjuangan kaum santri dalam melahirkan NKRI. Secara spesifik, perayaan ini kian menegaskan semangat kebangsaan yang lahir dari Resolusi Jihad 1945 oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Ini spirit perjuangan yang kini kembali tergaungkan oleh Gus Yahya.
Peringatan Hari Santri ke-10 ini menjadi momentum historis. Setelah satu dekade, santri harapannya tetap berada pada garda depan menjaga kemerdekaan, memperkuat moral bangsa. Dan mengawal peradaban mulia. Tahun ini, Hari Santri mengusung tema
“Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia.” Gus Yahya menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya peristiwa politik. Melainkan tonggak peradaban manusia. “Proklamasi Indonesia memang terbacakan di Jakarta. Tapi ujian kemerdekaannya justru terjadi di Surabaya. Dan itu terlaksanakan oleh santri,” ujarnya.
Kemudian menurutnya, cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Ini adalah cita-cita universal untuk menghapus penjajahan seluruh dunia. “Tagline Hari Santri bukan sekadar slogan, tetapi panggilan untuk konsolidasi persatuan bangsa,” tegasnya.
Lalu Gus Yahya juga mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang tengah mendorong transformasi sistem dan manajemen keuangan negara demi kesejahteraan rakyat. “Kebijakan besar itu butuh energi koheren yang besar, dan dukungan seluruh elemen bangsa. Karenanya, Hari Santri harus menjadi momentum kebersamaan nasional,” ujarnya.








