Bandar Lampung (Lampost.co) — Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, mengingatkan potensi cuaca ekstrem saat memasuki musim kemarau 2026. Ia menyebut periode hujan akan berakhir pada akhir April.
“Sekarang kita berada di ujung musim hujan. Setelah April, kita masuk masa pancaroba sebelum kemarau. Ini fenomena Godzilla El Nino,” ujar Wahyu.
Ia mempredksi awal musim kemarau mulai Mei dan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Puncak panas akan terjadi pada Juni hingga Agustus.
“Berdasarkan pantauan BMKG, musim kemarau tahun ini cenderung lebih panjang dan lebih terik,” katanya.
Kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi kering. “Ancaman utama meliputi kekurangan air dan gangguan pada sektor pertanian,” jelasnya.
Ia meminta petani menyiapkan langkah mitigasi sejak dini, termasuk memanfaatkan asuransi pertanian melalui Gapoktan. Upaya itu dinilai penting untuk menekan risiko gagal panen.
Potensi Karhutla
Selain itu, Wahyu menyoroti potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat saat kemarau panjang. Ia menyebut sejumlah wilayah rawan perlu meningkatkan kewaspadaan.
“Karhutla sering terjadi di Lampung Timur, termasuk sekitar Taman Nasional Way Kambas. Ada juga titik rawan di Mesuji, Way Kanan, dan Tulang Bawang,” ujarnya.
BPBD Lampung telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi kondisi tersebut. Koordinasi intensif dilakukan bersama BMKG dan BPBD kabupaten/kota.
“Kami pantau cuaca secara real-time dan minta daerah aktifkan Desa Tangguh Bencana,” kata Wahyu.
Ia juga mendorong masyarakat melakukan deteksi dini kebakaran melalui ronda atau siskamling. Langkah cepat efektif mencegah api meluas.
Wahyu menambahkan, fenomena cuaca ekstrem tidak lepas dari dampak perubahan iklim global. Ia menilai anomali cuaca kini semakin sering terjadi.
“Perubahan iklim itu nyata. Dampaknya meningkatkan risiko bencana di berbagai daerah,” tegasnya.
Ia mencontohkan kemunculan siklon di wilayah dekat khatulistiwa yang sebelumnya jarang terjadi. Kondisi tersebut menunjukkan perubahan pola iklim yang signifikan.
Menurut Wahyu, penanganan risiko bencana akibat iklim membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia menekankan pentingnya peran lingkungan hidup, kehutanan, dan kelautan.
“Semua pihak harus terlibat agar mitigasi berjalan efektif dan berkelanjutan,” katanya.








