Jakarta (lampost.co0–Upaya meningkatkan literasi anak bangsa memerlukan konsistensi dan dukungan serius dari seluruh pihak terkait. Meski minat baca di kalangan anak muda menunjukkan tren positif, kemampuan memahami isi konten menjadi tantangan yang harus segera teratasi.
Data Perpustakaan Nasional mengungkapkan bahwa Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) di Indonesia meningkat signifikan. Dari 66,7% pada 2023 menjadi 72,4% pada 2024. Peningkatan ini karena pergeseran kebiasaan Generasi Z (Gen Z) yang kini lebih banyak mengakses bacaan melalui platform digital ketimbang cara konvensional.
Namun, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengingatkan adanya anomali pada data tersebut. Merujuk catatan kementerian terkait, sebanyak 75% anak usia 15 tahun mampu membaca namun belum sepenuhnya memahami makna dari apa yang mereka baca.
“Minat baca memperlihatkan peningkatan, namun capaian itu tidak diikuti dengan kemampuan memahami konten. Hal ini merupakan tantangan serius,” ujar Lestari dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 3 Maret 2026.
Nalar Kritis
Lestari, yang akrab disapa Rerie, menegaskan bahwa penguatan literasi dan numerasi harus dimulai sejak jenjang PAUD dan Sekolah Dasar. Menurut anggota Komisi X DPR RI ini, pondasi tersebut sangat penting untuk membangun nalar kritis generasi penerus di tengah gempuran teknologi yang berkembang cepat.
Ia mendorong terciptanya kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan orang tua. Sinergi ini diperlukan untuk menumbuhkan budaya membaca yang berkualitas sejak usia dini.
Dengan literasi yang kuat, diharapkan Indonesia mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing tinggi. Hal ini menjadi modal utama dalam mewujudkan fondasi bagi kemajuan bangsa di masa depan melalui generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga cerdas secara literasi.








