Bandar Lampung (Lampost.co): Konflik antara gajah dan masyarakat di Lampung, khususnya Desa Braja Asri, Way Jepara, Lampung Timur, terus berlangsung dalam waktu lama. Puncak konflik muncul pada 30 Desember 2025. Kepala Desa Braja Asri, Darusman, meregang nyawa setelah seekor gajah menginjak tubuhnya saat ia berusaha menghalau kawanan gajah agar tidak masuk ke permukiman dan perkebunan warga.
Warga setempat, Budi Setiyawan, menjelaskan bahwa warga menerima informasi pergerakan gajah pada pukul 24.00 WIB melalui sinyal GPS yang terhubung ke ponsel warga. Warga menerima peringatan tersebut dalam kondisi terlambat karena kawanan gajah lebih dulu memasuki area peladangan sebelum sinyal masuk.
Budi menyebut kawanan gajah harus melintasi beberapa wilayah sebelum mencapai permukiman. Wilayah tersebut meliputi rawa yang warga tanami padi, peladangan, pesawahan, dan perkebunan milik warga.
“Dari TNWK ada rawa yang warga tanami padi, lalu peladangan, kemudian pesawahan, dan terakhir perkebunan,” ujarnya saat wawancara via telepon, Selasa, 6 Januari 2026.
Pada malam kejadian, hanya sejumlah kecil warga yang datang ke lokasi kemunculan gajah. Jumlah warga kurang dari 10 orang dan mereka bekerja bersama tim elephant rescue unit (ERU). Warga dan tim ERU berusaha mengarahkan kawanan gajah kembali ke arah berlawanan. Namun gajah tetap bertahan meski warga melakukan upaya tersebut selama tiga jam.
Budi menambahkan, pada pukul 03.00 WIB kawanan gajah justru bergerak maju dari area peladangan menuju persawahan. Upaya penggiringan tidak membuahkan hasil hingga kawanan gajah memasuki area perkebunan warga.
“Warga semakin banyak yang datang hingga pagi, baik yang memiliki kepentingan maupun yang tidak. Kondisi itu membuat kawanan gajah semakin terkepung,” katanya.
Perdebatan
Pada pagi hari, warga dan tim Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terlibat perdebatan. Tim TNWK berniat menggiring kawanan gajah mengikuti jalur yang melewati area sawah dengan padi siap panen.
“Warga langsung menolak dan meminta penggiringan ke arah sebaliknya agar padi tidak rusak,” ujarnya.
Kerumunan warga yang semakin padat membuat ruang gerak gajah semakin sempit. Tekanan tersebut memicu stres pada satwa langka itu hingga gajah kehilangan kendali dan menyebabkan satu korban jiwa.
“Kejadian yang menimpa Pak Kades berlangsung sekitar pukul 11.00. Ia berdiri paling depan saat menghalau gajah sehingga warga kesulitan menariknya,” jelas Budi.
Budi menyatakan warga tidak memiliki jadwal pasti terkait kemunculan gajah di area perkebunan dan permukiman. Warga hanya mengandalkan GPS yang terpasang untuk mengantisipasi kedatangan gajah. Namun perangkat GPS tersebut sering terlambat mengirim sinyal sehingga warga terpaksa mengambil tindakan langsung.
Menurut Budi, konflik gajah dan warga telah berlangsung selama puluhan tahun tanpa solusi yang jelas. Warga Desa Braja Asri berasal dari program transmigrasi yang pemerintah jalankan pada 1950–1960.
“Orang tua saya mengikuti transmigrasi dari Jawa pada era 1950-an. Konflik gajah dan warga sudah muncul sejak masa itu,” tuturnya.
Budi berharap negara hadir secara serius untuk menyelesaikan konflik tersebut. Ia menilai pola penanganan selama ini bersifat reaktif dan terus menimbulkan kerugian bagi warga.
Kusman, saudara Darusman, juga menyampaikan kekecewaan terhadap penanganan pemerintah. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh memandang kematian Darusman sebagai kecelakaan biasa. Menurutnya, peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan negara dalam menjaga keselamatan warganya.
“Adik saya, Darusman, gugur saat menjalankan tugas sebagai kepala desa dan berada di garis terdepan untuk melindungi warganya. Jangan anggap kejadian ini sekadar insiden konflik gajah dan manusia,” tegasnya.








