Bandar Lampung (Lampost.co) — Selama bulan Ramadan, program unggulan pemerintah yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi pelajar kini tengah jadi perhatian publik.
Alih-alih menuai pujian, program ini justru menghadapi gelombang kritik terkait standarisasi nutrisi dan distribusi menu selama Ramadan yang dianggap tidak sesuai.
Seperti yang disampaikan Rumiati (32), salah satu orang tua siswa di MIN 5 Bandar Lampung. Ia mengaku kecewa dengan menu Makan Bergizi Gratis yang diterima anaknya.
“Hari ini menunya roti, abon satu bungkus kecil, dan kurma tiga buah. Menu seperti ini apakah sudah mencukupi gizi anak-anak Indonesia?,” ujarnya.
Rumiati menilai menu MBG selama Ramadan tidak sesuai dengan anggaran yang diberikan oleh pemerintah dan terlihat seperti formalitas saja.
“Anggaran sama menu yang disediakan tidak sesuai sama sekali, terkesan sekadar formalitas saja,” tambahnya.
Baca Juga:
Satgas MBG Lampung Pastikan Menu Ramadan 2026 Layak dan Bergizi
Kredibilitas SPPG
Hal yang sama juga disampaikan Faurita (42), salah satu orang tua siswa SD Insan Mandiri Bandar Lampung. Ia menyebutkan hanya mendapatkan satu potong bolu, satu butir telur rebus, dan satu buah pir.
“Hari ini dapatnya bolu sepotong, telur satu, sama pir satu,” katanya.
Menurutnya program Makan Bergizi Gratis ini ia nilai tidak efisien karena banyak celah untuk menaikan harga dan mengambil untung sendiri.
“Ini kan MBG ya, dengan anggaran segitu harusnya bisa dapat menu lebih baik dari ini,” ujarnya.
Ia menambahkan menu seperti ini menjadi pertanyaan di masyarakat mengenai kredibilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kalau kayak gini kredibilitas SPPG perlu dipertanyakan dan harus ada audit dari Badan Gizi Nasional langsung,” harapnya.
Masyarakat kini menunggu langkah nyata pemerintah untuk membenahi program ini agar sisa bulan Ramadan dapat kita lalui dengan asupan gizi yang layak dan transparan.
(Fauzan Al Djabar/Magang)








