Jakarta (Lampost.co) — Di tengah derasnya arus informasi yang tidak tersaring di media sosial, peran orang tua dalam memberikan pendidikan seksual sejak dini kini menjadi semakin krusial. Pakar Andrologi, Seksologi, dan Anti-Aging dari Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., menegaskan bahwa edukasi ini merupakan langkah preventif utama untuk mencegah penyimpangan seksual pada anak di masa depan.
Menurut Prof. Wimpie, keluarga adalah benteng pertama bagi anak agar tidak terjebak dalam informasi yang keliru dan menyesatkan. Kehadiran orang tua, baik secara fisik maupun emosional, sangat untuk mendampingi tumbuh kembang anak yang kini terpapar teknologi setiap hari.
“Karena itu, orang tua jangan meninggalkan anak, apalagi jika setiap hari anak menonton media sosial. Pendidikan seks dalam keluarga sangat perlu; berikan penjelasan kepada anak,” ujar Prof. Wimpie dalam diskusi kesehatan di Jakarta, dikutip Jumat, 16 Januari 2026.
Pendekatan Sesuai Usia
Edukasi seksual tidak selalu harus bersifat formal dan berat. Prof. Wimpie menyarankan orang tua untuk memanfaatkan momen sehari-hari sebagai sarana edukasi. Misalnya, saat memandikan anak laki-laki, orang tua dapat memperhatikan apakah organ kelamin mereka tumbuh secara normal dibandingkan rekan seusianya.
Pada anak perempuan, pendekatan bisa dilakukan melalui diskusi mengenai perubahan fisik secara bertahap, seperti munculnya jerawat atau penjelasan mengenai siklus menstruasi. Hal-hal sederhana ini memungkinkan orang tua mendeteksi dini jika terdapat kejanggalan dalam perkembangan fisik anak.
“Berdasarkan pengalaman saya, banyak orang tua mulai memperhatikan hal tersebut. Misalnya, bertanya mengapa perkembangan fisik anaknya berbeda dengan teman sebayanya. Itu adalah salah satu cara sederhana yang sebetulnya bisa dilakukan orang tua,” tuturnya.
Melalui komunikasi yang terbuka, diharapkan anak tidak mencari jawaban dari sumber yang salah di internet, melainkan. (MI)








