Bandar Lampung (Lampost.co): Dosen Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatra (Itera) Rizki Kurnia Tohir menegaskan pengelola Taman Nasional Way Kambas (TNWK) wajib menggunakan data penelitian tentang jenis tumbuhan pakan gajah sebagai dasar utama pengelolaan kawasan untuk menekan konflik gajah dan manusia.
Rizki menyatakan konflik gajah yang terus berulang tidak hanya muncul akibat pergerakan satwa, tetapi juga akibat kegagalan pengelola kawasan dalam memastikan ketersediaan pakan alami di dalam habitat gajah. Ia menilai pengelola TNWK belum memaksimalkan hasil riset yang selama ini sudah tersedia.
Menurut Rizki, luas kawasan hutan tidak otomatis menjamin kecukupan pakan gajah. Pengelola kawasan harus membaca kondisi lanskap secara menyeluruh, termasuk keberadaan area bekas kebakaran dan rawa yang membatasi akses gajah terhadap sumber pakan.
“Pengelola harus bekerja berbasis data penelitian. Jenis tumbuhan pakan gajah sudah menjadi penelitian. Pengelola tinggal menggunakan data itu untuk perbanyakan dan penanaman di dalam kawasan,” ujar Rizki, Selasa, 6 Januari 2026.
Rizki menjelaskan kekurangan pakan mendorong gajah keluar dari kawasan hutan dan memasuki permukiman warga untuk mencari makanan. Kondisi tersebut terus memicu konflik dan menempatkan masyarakat sebagai pihak yang paling merugi.
Karena itu, Rizki menekankan peran Balai Taman Nasional Way Kambas dalam menjalankan program pengayaan pakan secara serius dan berkelanjutan. Pengelola kawasan harus menanam kembali tumbuhan pakan gajah berdasarkan rekomendasi ilmiah, bukan berdasarkan pendekatan sementara atau insidental.
Rizki menilai pengelolaan berbasis sains akan memberi dampak langsung terhadap penurunan konflik. Ketika gajah memperoleh pakan yang cukup di dalam kawasan, satwa tidak lagi terdorong keluar hutan.
“Data penelitian sudah ada. Pengelola kawasan harus menjadikannya dasar kebijakan. Kalau kebutuhan pakan terpenuhi, konflik bisa tertekan secara signifikan,” tegasnya.
Selain pengelolaan pakan, Rizki juga mendorong perubahan pendekatan pengelolaan konflik dari reaktif menjadi mitigatif dan berkelanjutan. Ia menilai pengelola kawasan harus menyiapkan perencanaan jangka panjang agar konflik gajah di Way Kambas tidak terus berulang.








