Sukadana (Lampost.co): Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung melakukan pemulihan ekosistem di kawasan konservasi seluas 1.286,84 hektare sepanjang periode 2021–2024. Hal itu sebagai langkah menekan interaksi negatif antara satwa liar dan masyarakat desa penyangga.
Kepala Balai TNWK MHD Zaidi menyatakan pihaknya menyadari pembatasan fisik semata tidak cukup untuk mengurangi konflik satwa liar dengan manusia. Menurutnya, harus ada peningkatan kualitas habitat. Ia menyampaikan pernyataan tersebut di Bandar Lampung, Senin (19/1).
Zaidi menjelaskan pemulihan ekosistem tersebut mencakup penanaman vegetasi ekosistem daratan dan pengembangan kawasan mangrove. Selain itu, penyediaan pakan bagi gajah dan badak di dalam kawasan taman nasional.
Ia menegaskan Balai TNWK akan terus memperluas pengkayaan jenis pakan dan kegiatan reforestasi di habitat satwa dilindungi tersebut secara berkelanjutan.
Zaidi menilai pemenuhan kebutuhan pakan dan ruang jelajah gajah di dalam hutan akan menekan dorongan satwa keluar menuju area aktivitas manusia secara alami.
Ia juga menekankan penerapan strategi besar tersebut membutuhkan dukungan pembiayaan yang signifikan dan berkelanjutan. Balai TNWK juga mendorong skema pembiayaan lintas sektor. Dalam artian, melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga nonpemerintah, serta mitra pembangunan lainnya.
Zaidi menegaskan konservasi gajah dan mitigasi konflik satwa menjadi tanggung jawab bersama. Ia optimistis kolaborasi multipihak yang kuat dan pendekatan berbasis sains mampu menekan konflik gajah sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem Taman Nasional Way Kambas.
Menurutnya, upaya mitigasi konflik satwa saat ini tidak lagi dapat mengandalkan satu pendekatan parsial, melainkan membutuhkan strategi terpadu yang menggabungkan penguatan infrastruktur fisik dengan pemulihan ekologis habitat secara berkelanjutan.








