Bandar Lampung (Lampost.co) — Ratusan umat Buddha di Bandar Lampung memenuhi Vihara Amurwa Bhumi Graha, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung, Senin, 5 Januari 2026, malam. Rangkaian kegiatan ibadah sembahyang tutup tahun dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2577/2026 mulai berlangsung sejak pukul 17.00 WIB.
Poin Penting:
-
Prosesi ibadah tutup tahun untuk menyambut Imlek 2577/2026.
-
Jemaat mengikuti sembahyang, ritual api, dan mandi air kembang.
-
Ibadah bermakna syukur, refleksi, dan pertobatan diri.
Suasana wihara tampak khidmat sejak sore hari. Jemaah datang mengenakan pakaian ibadah dan membawa perlengkapan sembahyang.
Ibadah tutup tahun menjadi bagian penting dalam tradisi umat Buddha. Ritual tersebut menandai berakhirnya tahun lama dan menyambut tahun baru.
Baca juga: Polresta Bandar Lampung Bersihkan Vihara Jelang Waisak 2025, Perkuat Toleransi Umat Beragama
Pemimpin Vihara Amurwa Bhumi Graha, Suhu Dharma Rakkhita Stavira atau Suhu Riki menjelaskan makna ibadah tutup tahun tersebut sebagai bentuk ungkapan syukur. “Umat bersyukur telah melewati tahun 2025 dengan selamat,” kata Riki.
Menurutnya, rasa syukur menjadi inti utama ibadah tutup tahun. Dia mengajak umat merenungkan perjalanan hidup selama setahun penuh.
Rangkaian ibadah diawali dengan sembahyang di altar utama. Jemaat melantunkan doa-doa dan lagu pujian.
Panjatan doa kepada Sang Pencipta dengan penuh kekhusyukan. Setiap umat mengikuti prosesi dengan tertib.
Setelah sembahyang altar, jemaat mengitari bangunan wihara yang melambangkan perjalanan hidup manusia. Rangkaian ibadah kemudian dengan ritual menyeberangi jembatan api sebagai simbol pembersihan diri.
Umat Buddha meyakini api melambangkan pembakaran sifat buruk. Mereka juga berharap agar memasuki tahun baru dengan hati bersih. Setelah ritual api, jemaah melakukan mandi air kembang yang melambangkan penyucian lahir dan batin.
Makna Spiritual
Sementara itu, pengurus Vihara Amurwa Bhumi Graha, Romo Chie Wie, menjelaskan makna spiritual perayaan tutup tahun untuk mengingatkan umat Buddha pada berkah alam semesta. “Perayaan tutup tahun agar umat tidak lupa dengan semua yang dinikmati,” ujarnya.
Menurut Romo Chie Wie, umat Buddha menjalani siklus ibadah tahunan dan di awal tahun dengan upacara tolak bala. Upacara tersebut bertujuan memohon perlindungan dan keberkahan.
Sementara itu, akhir tahun dengan ucapan syukur. Umat juga mengucap terima kasih atas perjalanan hidup sepanjang 2025 sekaligus sebagai momen refleksi bersama.
Ia juga menambahkan ibadah tutup tahun juga berisi prosesi pertobatan bagi umat Buddha. Karyao Sangga dan anggota Sangga memimpin prosesi tersebut.
Pada prosesi tersebut umat juga mengakui kesalahan yang pernah dilakukan. Kesalahan mencakup pikiran, ucapan, jasmani, dan rohani.
Prosesi tersebut menjadi pengingat agar umat Buddha memperbaiki diri dengan harapan memasuki tahun baru dengan sikap lebih bijaksana. Ibadah tutup tahun itu juga menjadi simbol harmoni dan kebersamaan. Umat Buddha berharap Tahun Baru Imlek membawa kedamaian.








