Bengkulu (Lampost.co)— Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu melaporkan sejak Januari, terdapat sembilan ekor sapi di wilayah tersebut telah terinfeksi virus septicaemia epizootica. Virus yang kita kenal dengan penyakit ngorok.
Menurut Henny Kusuma Dewi, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bengkulu, sapi-sapi tersebut berasal dari luar daerah dan sudah terinfeksi sebelum masuk ke Kota Bengkulu.
Untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut ke hewan lain, pihak Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian memberikan pengobatan pada sapi yang terinfeksi, dengan masa penyembuhan sekitar dua minggu.
“Saat ini, kondisi sapi yang terjangkit penyakit ngorok mulai membaik. Selain itu, dinas juga aktif memberikan sosialisasi kepada peternak agar lebih berhati-hati dan teliti saat membeli sapi dari luar daerah. Terutama agar tidak tergiur harga murah,” kata Dewi.
Di samping itu, Pemkot Bengkulu sedang mendata seluruh hewan di kota tersebut untuk melakukan vaksinasi rabies. Sebanyak 750 dosis vaksin rabies telah Pemkot anggarkan dalam APBD 2024 guna mengantisipasi meningkatnya kasus rabies.
Masyarakat diimbau membawa hewan peliharaan mereka ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian untuk di vaksin secara berkala setiap delapan bulan. Atau setidaknya satu tahun sekali, guna mencegah penularan rabies.
Virus rabies, yang menyerang semua hewan berdarah panas dan manusia. Ini merupakan penyakit zoonosis yang sangat berbahaya, dengan risiko kematian jika gejala klinis muncul.








