Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemandangan tak biasa terlihat di ratusan SMA dan SMK se-Provinsi Lampung dalam kegiatan pesantren kilat.
Ratusan siswa laki-laki justru terlihat sibuk menenteng tas ransel berisi sarung, baju koko, hingga bantal tidur.
Mereka tengah bersiap mengikuti rangkaian Pesantren Kilat Ramadhan yang mewajibkan pelajar putra untuk menginap atau mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) di sekolah masing-masing.
Salah satu sekolah yakni SMAN 14 Bandar Lampung, lokasi peluncuran program gagasan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung tersebut.
Baca juga : DPRD Lampung Nilai Pesantren Kilat Benteng Terkuat Cegah Kenakalan Remaja
Meski mereka wajib tidur di sekolah selama tiga hari (10-12 Maret 2026), raut wajah para siswa sama sekali tak menyiratkan beban. Sebaliknya, antusiasme dan tawa canda mewarnai suasana jelang berbuka puasa.
Rizky (16), salah satu siswa kelas XI, mengaku awalnya sempat terkejut dengan kebijakan menginap ini. Namun, bayangan menyeramkan soal aturan yang kaku seketika sirna begitu kegiatan mulai.
“Awalnya pas ada informasi wajib nginep, mikirnya pasti bosan dan kaku banget kayak di asrama militer. Tapi ternyata seru abis!,” katanya.
“Kita buka puasa bareng teman-teman seangkatan, salat Tarawih berjamaah di lapangan, sampai dengerin kajian yang materinya asik, nggak bikin ngantuk,” lanjut Rizky.
Bagi Rizky dan teman-temannya, momen yang paling mereka nantikan justru saat malam hari. Jauh dari gadget dan game online, mereka menghabiskan waktu dengan tadarus Al-Qur’an dan mengobrol hangat.
Puncak keseruannya adalah saat mereka saling membangunkan teman di sepertiga malam untuk melaksanakan salat Tahajud dan makan sahur bersama.
“Beda banget rasanya sahur nya sekolah sama teman-teman dari pada sahurnya di rumah. Lebih terasa kebersamaan dan rasa persaudaraannya (ukhuwah). Pokoknya pengalaman yang nggak bakal terlupakan selama pakai seragam abu-abu,” tambahnya.
Antusiasme nyatanya tak hanya milik siswa putra. Meski jadwal siswa putri fokus pada siang hari (pukul 07.30 – 14.00 WIB) dan tidak wajib menginap, semangat mereka mengikuti rangkaian pesantren kilat tetap menyala.
Dinda (15), seorang siswi kelas X, merasa format pesantren kilat tahun ini jauh lebih interaktif.
“Kegiatannya nggak cuma dengerin ceramah satu arah yang bikin bosan. Ada diskusi, kuis keislaman, dan materi soal akhlak remaja zaman now. Walaupun siang hari lagi lemas-lemasnya puasa, suasananya jadi fun sama guru-guru pembimbing,” tutur Dinda.
Kebijakan Positif
Keceriaan dan semangat yang siswa sampaikan membuktikan bahwa kebijakan Disdikbud Provinsi Lampung membuahkan hasil positif.
Pesantren kilat tak lagi dipandang sebagai rutinitas membosankan pemotong jam belajar, melainkan telah menjelma menjadi menyenangkan bagi remaja.








