Sistem Peringatan Dini Jadi Kebutuhan Mendesak di Kawasan Wisata Air

Sungai yang melintasi kawasan wisata memiliki risiko tinggi. Terutama ketika terjadi peningkatan debit air secara tiba-tiba akibat hujan di wilayah hulu.

Editor Nur, Penulis Atika
Jumat, 03 April 2026 12.09 WIB
Sistem Peringatan Dini Jadi Kebutuhan Mendesak di Kawasan Wisata Air
Polsek Pesisir Tengah melaksanakan kegiatan monitoring keamanan kawasan objek wisata Pantai Labuhan Jukung, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, Minggu, 29 Maret 2026. Dok Polisi

Bandar Lampung (Lampost.co) — Keberadaan sistem peringatan dini atau early warning system, (EWS) menjadi kebutuhan mendesak. Khususnya di kawasan wisata berbasis air seperti sungai dan pantai.

Pengamat Teknik dari Universitas Lampung, Mona Arif Batubara, menegaskan bahwa potensi bencana seperti air bah harus mengantisipasi secara serius demi keselamatan pengunjung.

Menurut Mona, sungai yang melintasi kawasan wisata memiliki risiko tinggi. Terutama ketika terjadi peningkatan debit air secara tiba-tiba akibat hujan di wilayah hulu.

Baca juga: Lampung Percepat Pemasangan Sistem Peringatan Dini Banjir

Kondisi ini berpotensi menimbulkan korban jika tidak mengantisipasi dengan sistem peringatan yang memadai.

“Daerah-daerah yang berisiko, apalagi yang ramai pengunjung seperti tempat wisata, sudah sepantasnya memiliki early warning system,” ujarnya.

Ia menjelaskan, meskipun belum ada aturan yang mewajibkan pemasangan EWS di lokasi wisata, pengelola tetap memiliki tanggung jawab untuk melakukan penilaian risiko secara mandiri.

Salah satu langkah sederhana yang bisa melakukannya dengan cara memantau kondisi cuaca di bagian hulu sungai.

“Kalau di hulu turun hujan, pengelola seharusnya sudah bisa mengambil langkah cepat, seperti melarang pengunjung turun ke sungai. Itu bentuk early warning system paling sederhana,” katanya.

Lebih lanjut, Mona menyebut bahwa teknologi EWS sebenarnya sudah berkembang dan dapat diterapkan di sungai, tidak hanya di laut seperti sistem peringatan tsunami.

Teknologi seperti sensor ketinggian air hingga sonar telah banyak di gunakan di berbagai negara untuk mendeteksi perubahan kondisi aliran air secara real-time.

Namun demikian, ia mengakui bahwa keterbatasan anggaran kerap menjadi kendala dalam penerapan teknologi tersebut.

Meski begitu, pendekatan sederhana tetap bisa melakukan dengan memanfaatkan pemantauan lingkungan secara langsung.

Perubahan Kondisi Lingkungan

Mona juga menyoroti perubahan kondisi lingkungan sebagai faktor meningkatnya risiko bencana.

Ia menjelaskan penggundulan hutan di wilayah hulu menyebabkan air hujan tidak lagi terserap dengan baik. Sehingga meningkatkan potensi terjadinya banjir bandang atau air bah.

“Dulu hujan tidak terlalu berbahaya, tapi sekarang karena hutan di atas banyak yang gundul. Air membawa material seperti tanah, kayu, hingga batu. Ini yang membuat aliran sungai menjadi lebih berbahaya,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, ia menegaskan bahwa keberadaan EWS bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan penting yang berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.

“Kalau sudah menyangkut nyawa, tentu ini sangat penting,” tegasnya.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI