Bandar Lampung (lampost.co)–Di tengah upaya menekan lonjakan kasus campak di awal tahun 2026, Dinas Kesehatan Bandar Lampung masih harus berhadapan dengan tembok tebal rendahnya partisipasi masyarakat. Faktor psikologis dan arus informasi yang tidak akurat (hoaks) menjadi penghambat utama optimalnya cakupan vaksinasi, baik di tingkat Posyandu maupun lingkungan sekolah.
Kadis Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan pada ketersediaan logistik, melainkan pada pemberian izin dari orang tua siswa.
Muhtadi menjelaskan bahwa masih banyak orang tua yang enggan membawa anak mereka ke Posyandu atau secara eksplisit menolak memberikan izin saat pelaksanaan imunisasi di sekolah. Hal ini dipicu oleh beragam faktor, mulai dari kekhawatiran berlebih terhadap reaksi ringan pascavaksin hingga isu mengenai kehalalan dan efektivitas.
“Partisipasi masyarakat masih menjadi tantangan. Masalahnya beragam, mulai dari isu hoaks mengenai efek samping, pengaruh tokoh yang menolak vaksin. Bahkan, kekhawatiran orang tua terhadap reaksi seperti demam atau bengkak pada anak,” ujar Muhtadi, Selasa, 7 April 2026.
Kondisi ini makin parah dengan masih adanya persepsi salah bahwa campak adalah penyakit ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya, tanpa menyadari risiko komplikasi fatal yang mengintai.
Guna mendobrak kebuntuan tersebut, Dinkes Bandar Lampung memperkuat koordinasi lintas sektor melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Kerja sama ini melibatkan Dinas Pendidikan serta Kementerian Agama untuk memastikan pesan pentingnya imunisasi sampai ke meja para guru dan orang tua murid.
Petugas Puskesmas melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) kini lebih aktif menjemput bola. Mereka tidak hanya bertugas menyuntikkan vaksin, tetapi juga menjadi komunikator risiko yang memberikan edukasi mendalam kepada tenaga pendidik. Agar mampu menjelaskan manfaat imunisasi secara persuasif kepada wali murid.
Dinkes Bandar Lampung juga menggandeng kader PKK, tokoh masyarakat, hingga instansi terkait untuk melakukan klarifikasi informasi secara masif. Sosialisasi kini merambah ke berbagai kanal, mulai dari spanduk di titik strategis hingga konten edukasi di media sosial resmi pemerintah.
“Edukasi terus kami gencarkan. Kami ingin masyarakat memahami bahwa imunisasi campak adalah bentuk ikhtiar nyata untuk mencegah komplikasi serius, bahkan kematian pada anak. Jangan sampai informasi menyesatkan mengorbankan kesehatan masa depan anak kita,” katanya.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update