Bandar Lampung (Lampost.co) — Peningkatan literasi digital kian penting saat masifnya penggunaan Dok Adpim oleh masyarakat.
Poin penting :
1. Literasi digital harus digaungkan di tengah masyarakat khususnya anak sekolah.
2. Media massa jadi tantangan serius agar masyarakat bisa bijak menggunakan.
3. Sebanyak 229 juta orang di adalah pengguna internet.
Ruang maya memberikan ruang yang sangat luas untuk mengakses dan menyebarluaskan berbagai informasi.
Namun, kondisi ini belum bersamaan dengan kesiapan literasi yang memadai.
Sehingga pemanfaatan teknologi digital tidak hanya membawa kemudahan tetapi juga tantangan serius, terlebih bagi anak-anak.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan, era digital telah mengubah pola hidup masyarakat secara cepat dan menyentuh hampir seluruh lapisan keluarga.
Baca juga : Literasi Digital dan Finansial Dorong Ketahanan Ekonomi Keluarga
Internet kini menjadi bagian dari keseharian, termasuk bagi anak-anak.
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada 2025 jumlah pengguna internet Indonesia mencapai sekitar 229 juta orang.
Angka tersebut menunjukkan hampir seluruh keluarga hidup berdampingan dengan dunia digital setiap hari.
“Hari ini anak-anak bisa duduk manis di kamar, tetapi dunianya bisa keliling dunia. Internet memberi kemudahan, namun juga membawa risiko karena isinya bercampur, tanpa batas, ada yang bermanfaat dan ada pula yang menyesatkan,” jelas Jihan dalam agenda Pelatihan Artificial intelligence (AI) Ready ASEAN yang diselenggarakan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) secara daring pada Rabu, 14 Januari 2026.
Jihan menekankan pentingnya peran orang tua dalam menghadapi tantangan literasi digital pada lingkungan keluarga.
Peran tersebut tidak sebatas menyediakan akses internet, tetapi juga menjaga nilai serta arah pemanfaatan teknologi.
Peraturan UU No.17 tahun 2025
Menurutnya, pemerintah telah mengambil langkah konkret melalui Peraturan Perundang-undangan Nomor 17 Tahun 2025.
Aturan tersebut mengatur penggunaan gawai dan media sosial bagi anak, memperkuat peran orang tua, serta mewajibkan platform digital ikut melindungi anak-anak.
Meski begitu, ia menegaskan regulasi tidak akan berjalan efektif tanpa keterlibatan aktif keluarga dalam mendampingi anak menghadapi ruang digital yang semakin kompleks.
“Peran penting kegiatan AI Ready ASEAN ini. Bukan untuk menjadikan kita ahli teknologi, tetapi agar kita tidak tertinggal jauh dari anak-anak kita, sehingga mampu mendampingi dan mengendalikan penggunaan teknologi secara bijak,” ungkap dia.
Jihan menambahkan Pemerintah Provinsi Lampung mendukung penuh Pelatihan Artificial Intelligence (AI) Ready ASEAN sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi digital.
Program ini agar pemanfaatan AI berjalan secara aman, bijak, dan beretika pada lingkungan masyarakat.
Jihan juga mengapresiasi Mafindo Lampung atas konsistensinya dalam mengedukasi masyarakat terkait literasi digital dan keamanan ruang siber.
Ia berharap kegiatan tersebut memberikan manfaat luas, terutama karena topiknya relevan dengan tantangan digital saat ini.








