Bandar Lampung (Lampost.co) — Istilah child grooming kembali menjadi sorotan publik setelah aktris Aurelie Moeremans berbagi pengalaman pahitnya saat remaja. Menanggapi fenomena tersebut, psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, membagikan langkah-langkah strategis bagi orang tua untuk mencegah anak menjadi korban eksploitasi seksual.
Kasandra menjelaskan bahwa child grooming adalah proses manipulatif di mana pelaku—biasanya orang dewasa—membangun ikatan emosional dengan anak untuk mendapatkan kepercayaan mereka sebelum akhirnya melakukan eksploitasi.
“Child grooming dapat terjadi di lingkungan sosial, sekolah, hingga platform digital seperti media sosial dan game online. Pelaku menggunakan manipulasi dan penipuan untuk menguasai korban, bahkan tak jarang mereka berusaha mendekati orang tua korban terlebih dahulu,” ujar Kasandra, dikutip Jumat, 16 Januari 2026.
Empat Kiat
Menurut Kasandra, peran orang tua adalah kunci utama. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diterapkan:
-
Edukasi Perilaku Bahaya Ajarkan anak untuk mengenali perilaku yang mencurigakan. Tekankan pentingnya melapor jika menerima pemberian dari orang lain dan berani berkata “tidak” pada situasi yang tidak nyaman.
-
Pendampingan Melalui Role Play Lakukan simulasi atau role play untuk melatih anak mengambil keputusan tepat dalam situasi berisiko. Selain itu, pantau penggunaan media sosial dan ajarkan pentingnya privasi digital.
-
Waspadai Perubahan Sikap Orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi pendiam, menarik diri dari pergaulan, atau menunjukkan kecemasan yang tidak biasa.
-
Edukasi Seksual Sesuai Usia Edukasi seksual sebaiknya dimulai sedini mungkin dan diperkuat saat anak memasuki usia 12 tahun. Fokus pada pemahaman batasan tubuh dan risiko kejahatan seksual.
“Pendidikan tentang hak anak dan cara melindungi diri harus diperkenalkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah,” pungkasnya. (MI)








