Jambi (Lampost.co) – Kepolisian Resor Tanjung Jabung Timur bersama Dinas Pendidikan Provinsi Jambi kembali menggelar mediasi untuk meredam konflik antara guru dan siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur. Langkah ini menyusul viralnya video dugaan pengeroyokan terhadap seorang guru mata pelajaran Bahasa Inggris yang memicu perhatian publik luas.
Mediasi berlangsung di ruang majelis guru SMKN 3 Berbak pada Kamis dan melibatkan unsur kepolisian, TNI, kejaksaan, serta perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Aparat berharap forum tersebut dapat membuka ruang dialog dan menemukan solusi terbaik bagi seluruh pihak.
Kapolres Tanjung Jabung Timur, AKBP Ade Chandra, menegaskan kepolisian berkomitmen menjaga situasi tetap kondusif dan mendorong penyelesaian secara adil.
“Kami fokus mencari jalan keluar yang paling baik agar persoalan ini tidak berlarut-larut dan tidak menimbulkan dampak lanjutan di lingkungan sekolah,” ujar Ade Chandra.
Ia juga menyesalkan insiden kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Menurutnya, kepolisian masih menggali keterangan dari berbagai pihak untuk mendapatkan kronologi kejadian secara utuh dan berimbang.
Namun, dalam mediasi terbaru tersebut, guru yang terlibat dalam insiden, Agus Saputra, kembali tidak menghadiri undangan. Ketidakhadiran ini tercatat sebagai kali kedua setelah pihak penyelenggara melayangkan undangan resmi.
Dampak dari konflik tersebut, pihak sekolah sempat menghentikan sementara aktivitas belajar mengajar di SMKN 3 Berbak. Langkah itu dilakukan untuk meredam ketegangan dan menjaga keamanan siswa serta tenaga pendidik.
Evaluasi
Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Harmonis, menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut. Ia menegaskan Disdik Jambi akan menindaklanjuti aspirasi siswa dan tenaga pendidik yang meminta evaluasi terhadap guru bersangkutan.
“Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku. Semua proses berjalan secara profesional dan objektif,” kata Harmonis.
Di sisi lain, salah satu siswa yang mengaku terlibat dalam peristiwa tersebut menyebut keributan bermula dari kesalahpahaman saat proses pembelajaran di kelas. Situasi kemudian memicu emosi sejumlah siswa hingga berujung pada tindakan kekerasan.
Pihak sekolah berharap proses mediasi yang melibatkan aparat dan pemerintah daerah dapat segera menghasilkan kesepakatan. Manajemen sekolah ingin aktivitas belajar mengajar di SMKN 3 Berbak kembali berjalan normal dan lingkungan sekolah kembali kondusif.
Kasus ini masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan aparat penegak hukum sebagai upaya menjaga marwah dunia pendidikan serta mencegah terulangnya kekerasan di lingkungan sekolah.
Ikuti terus berita dan artikel Lampost.co lainnya di Google News








