Bandar Lampung (Lampost.co) – Pendakwah muda asal Bandar Lampung, Ustadz. Maula Ibrahim Murad berbagi cerita terkait perjalanan dakwahnya di Amerika Serikat. Cerita tersebut tersampaikan usai sholat ashar berjamaah di Masjid Nursiah Daud Paloh, Lampung Post, Jumat, 13 Maret 2026.
Kemudian ia mengatakan status sebagai minoritas ternyata tidak melemahkan semangat ibadah umat Islam yang tinggal di Amerika Serikat. Justru sebaliknya, kondisi tersebut membuat mereka semakin kuat dalam menjalankan agama. Bahkan semakin saleh, dan semakin bersemangat dalam melakukan berbagai kebaikan.
“Hal ini terlihat jelas di Masjid Imam Center, kawasan Washington DC. Masjid tersebut memiliki kapasitas sekitar 1.000 hingga 1.500 jamaah, dalam satu kali pelaksanaan salat. Namun, karena jumlah jamaah yang sangat banyak. Pelaksanaan ibadah sering harus terlaksanakan dalam dua sesi agar semua jamaah dapat mengikuti shalat berjamaah,” katanya.
Selanjutnya yang lebih mengagumkan adalah perjuangan para jamaah untuk datang ke masjid. Jika masyarakat Indonesia sebagian orang hanya membutuhkan 10-15 langkah untuk sampai ke masjid. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan yang teralami oleh sebagian muslim Amerika.
Ada jamaah yang harus menempuh perjalanan hingga 1.5 sampai 2 jam menggunakan mobil hanya untuk bisa menunaikan salat berjamaah. Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk dari wilayah Virginia dan sekitarnya. Mereka rela menempuh perjalanan jauh demi bisa beribadah bersama masjid.
Semangat tersebut menjadi gambaran nyata betapa kuatnya komitmen umat Islam yang hidup sebagai minoritas. Kondisi ini seharusnya menjadi pengingat dan motivasi bagi umat Islam pada negara mayoritas muslim. Apalagi yang sebenarnya memiliki akses jauh lebih mudah untuk datang ke masjid.
Lingkungan Non-Muslim
Masjid Imam Center sendiri berada di tengah lingkungan masyarakat yang mayoritas non muslim. Bahkan sebagian besar penduduk sekitarnya merupakan komunitas Yahudi. Namun menariknya, keberadaan masjid tersebut justru mampu menjadi simbol keindahan Islam yang damai dan penuh toleransi.
Pengelola masjid berusaha menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Mereka aktif dalam kegiatan sosial dan menjalin komunikasi yang baik dengan tetangga di lingkungan tersebut. Pendekatan ini membuat masjid dapat diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar tanpa menimbulkan konflik.
Meski demikian, dalam urusan akidah dan keyakinan, umat Islam di sana tetap memiliki batasan yang jelas. Mereka tetap menjaga prinsip keimanan dan menjalankan ajaran agama sesuai dengan tuntunan Islam. Tanpa mencampuradukkan urusan keyakinan.
Kemudian ia mengatan kisah ini menyampaikan pesan penting bagi umat Islam berbagai tempat. Khususnya negara dengan mayoritas muslim. Jika saudara-saudara muslim Amerika rela menempuh perjalanan jauh demi ke masjid dan hampir tidak pernah absen dari shalat berjamaah. Maka umat Islam yang memiliki masjid dekat rumah seharusnya bisa lebih memanfaatkan kemudahan tersebut.
“Kedekatan dengan masjid merupakan nikmat yang tidak semua orang rasakan. Karena itu, sudah sepatutnya kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Terlebih untuk memakmurkan masjid dan memperkuat kehidupan spiritual,” katanya.








