Jakarta (lampost.co)–Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan fenomena El Nino akan muncul pada paruh kedua tahun 2026. Kehadiran fenomena suhu muka laut ini bakal memperparah kondisi musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia menjadi lebih kering dari kondisi normal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa meski saat ini kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral. Pemodelan iklim menunjukkan sinyal kuat perubahan fase di akhir tahun.
“Prediksi kami menunjukkan intensitas El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang kemunculan berkisar antara 50 hingga 80 persen. Sementara itu, kemungkinan berkembang menjadi kategori kuat relatif kecil, yakni di bawah 20 persen,” ungkap Ardhasena, Minggu, 5 April 2026.
Ardhasena memberikan catatan penting terkait pembacaan data iklim saat ini. Ia mengingatkan adanya fenomena yang dikenal sebagai spring predictability barrier, yaitu periode di mana akurasi model prediksi iklim global cenderung menurun, biasanya terjadi antara Maret hingga Mei.
Dalam fase ini, hasil prakiraan El Nino umumnya hanya andal untuk jangka pendek, yakni sekitar tiga bulan ke depan. Oleh karena itu, BMKG terus melakukan analisis mendalam terhadap berbagai variabel yang memengaruhi pembentukan El Nino di wilayah ekuator.
“Tingkat kepercayaan terhadap prediksi ini akan meningkat signifikan pada Mei 2026. Secara statistik, prakiraan pada bulan tersebut jauh lebih akurat dan mampu memproyeksikan kondisi iklim hingga enam bulan ke depan,” tambahnya.
Kemarau Lebih Kering
Walaupun intensitas pastinya masih terus dipantau, BMKG memberikan peringatan dini bahwa musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih lama. Kondisi yang lebih kering dari rata-rata tahunan ini berpotensi memberikan tekanan pada sektor ketahanan pangan dan ketersediaan air.
“Meskipun intensitasnya masih berkembang, kami menegaskan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi lebih kering dan berlangsung lebih lama dari kondisi normal,” tegas Ardhasena.
Menyikapi ancaman tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan—terutama di sektor pertanian dan manajemen bencana—untuk meningkatkan kewaspadaan. Langkah antisipasi seperti manajemen stok air di waduk serta persiapan mitigasi kebakaran hutan sejak dini guna meminimalkan dampak kerugian.








