Bandar Lampung (Lampost.co) – Dorong ketersediaan satu data valid yang dapat terakses bersama. Ini untuk mewujudkan kebijakan dan program pembangunan yang tepat bagi penyandang disabilitas.
“Butuh program pembangunan dengan pijakan yang kuat dan terukur bagi para penyandang disabilitas. Sehingga butuh data yang benar-benar valid dan dapat diakses semua pihak.” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin, 8 September 2025.
Kemudian menurut Lestari, berbagai upaya untuk mewujudkan data tunggal yang benar-benar valid. Terlebih bagi disabilitas harus segera terlaksanakan.
Proses mewujudkan data tunggal terkait disabilitas dalam skala nasional, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari. Harus mendapat dukungan semua pihak terkait. Baik pemangku kepentingan tingkat pusat dan daerah, juga masyarakat.
Karena, tegas Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu. Dalam merealisasikan data tunggal nasional tidak semata pencatatan administrasi. Lebih dari itu juga mengidentifikasi kebutuhan penyandang disabilitas yang beragam.
Kemudian Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu sangat berharap. Upaya untuk mewujudkan data tunggal yang valid berskala nasional terkait disabilitas. Mulai dari perencanaan, dukungan dana, hingga eksekusi pendataan lapangan, dapat tersiapkan secara matang.
Sehingga data yang dihasilkan kelak benar-benar valid dan mencerminkan kondisi para penyandang disabilitas di tanah air. Apalagi yang harapannya bisa menjadi landasan yang kuat untuk mewujudkan program pembangunan. Sehingga lebih inklusif bagi disabilitas tanah air.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia. dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Woro Srihastuti Sulistyaningrum, pekan lalu, mengungkapkan. Data penyandang disabilitas masih tersebar pada berbagai kementerian menyebabkan program inklusi disabilitas tidak tepat sasaran.
Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2024 tercatat lebih dari 17.8 juta warga Indonesia adalah penyandang disabilitas. Sepertiga dari jumlah penyandang disabilitas tersebut belum menamatkan pendidikan dasar. Selain itu, partisipasi kerja disabilitas tanah air hanya 23,94%.








