Jakarta (Lampost.co): Aktivis Yulian Paonganan menyoroti meningkatnya eskalasi konflik geopolitik global, termasuk ketegangan antara Iran dengan blok Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai situasi global yang tidak stabil menuntut Indonesia memperkuat persatuan nasional.
Yulian menegaskan kondisi dunia saat ini tidak dalam keadaan baik sehingga pemerintah dan masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan bersama. Ia menyatakan konflik global berpotensi memengaruhi perekonomian dan stabilitas nasional.
“Dunia sedang menghadapi tekanan besar akibat konflik internasional. Indonesia harus memperkuat diri dan rakyat perlu menjaga persatuan, bukan justru terprovokasi untuk menjatuhkan pemerintah,” kata Yulian, Senin, 6 April 2026.
Pria yang akrab dengan sapaan Ongen itu menilai dinamika politik dalam negeri yang memanas di tengah tekanan global dapat memperburuk kondisi ekonomi, mengganggu iklim investasi, serta memicu ketidakstabilan sosial.
Ia pun mengingatkan kelompok yang tidak sejalan dengan pemerintah agar menyalurkan aspirasi melalui jalur demokrasi yang sah. Menurutnya, kontestasi politik seharusnya berlangsung melalui mekanisme pemilihan umum.
“Bagi pihak yang merasa tidak puas, gunakan jalur konstitusional dengan berkompetisi pada Pemilihan Presiden 2029. Demokrasi menyediakan ruang itu, bukan melalui upaya menjatuhkan pemerintahan,” ujarnya.
Yulian juga mengkritik pernyataan salah satu pengamat politik yang menyerukan penjatuhan pemerintahan Prabowo Subianto. Ia menilai pernyataan tersebut tidak lagi masuk kategori kritik, melainkan berpotensi mendelegitimasi hasil demokrasi Pemilu 2024.
“Demokrasi menjamin kebebasan berpendapat, tetapi ajakan menjatuhkan pemerintahan yang sah sudah melampaui batas kritik dan berpotensi mengarah pada tindakan inkonstitusional,” kata dia.
Dinamika
Yulian menilai pernyataan provokatif tersebut tidak terlepas dari dinamika pascapemilu, di mana sebagian kelompok politik masih menyimpan kekecewaan atas hasil kontestasi.
Ia mengingatkan masyarakat untuk memahami konteks politik di balik setiap pernyataan publik agar tidak mudah terpengaruh narasi yang dapat memecah belah.
“Masyarakat perlu mencermati setiap pernyataan secara utuh. Kekecewaan politik tidak boleh berubah menjadi ajakan yang merusak tatanan demokrasi,” ujarnya.
Menurut Yulian, sistem demokrasi Indonesia telah menyediakan mekanisme konstitusional yang jelas bagi setiap warga negara untuk menyalurkan aspirasi politik. Karena itu, ia menilai upaya di luar jalur tersebut berisiko merusak stabilitas nasional.
Ia juga menekankan bahwa pernyataan tokoh publik memiliki dampak besar terhadap kondisi sosial dan politik. Oleh sebab itu, setiap pihak perlu menjaga sikap agar tidak memicu ketegangan di tengah situasi global yang sensitif.
“Pernyataan publik figur membawa pengaruh luas. Jika tidak terjaga, hal itu dapat memicu instabilitas, terutama dalam situasi global yang penuh tekanan seperti saat ini,” kata Yulian.








