Tel Aviv (Lampost.co)—Militer Israel menyerang beberapa posisi Houthi di Yaman bagian barat pada Sabtu (20/7/2024). Aksi itu sebagai balasan atas serangan pesawat nirawak (drone) kelompok pemberontak tersebut di Tel Aviv sehari sebelumnya.
Mengutip The Telegraph Online, Minggu (21/7/2024), serangan Israel ini yang pertama di wilayah Yaman sejak perang Israel-Hamas meletus pada Oktober 2023.
Militer Israel mengatakan telah menyerang sejumlah “target militer” di kota pelabuhan barat Hodeidah, benteng Houthi. Mereka menambahkan serangannya adalah “respons terhadap ratusan serangan yang terhadap negara Israel dalam beberapa bulan terakhir”.
Juru bicara Houthi, Mohammed Abdulsalam, menulis di media sosial X bahwa Yaman menjadi sasaran “agresi Israel secara terang-terangan”. Serangan menargetkan fasilitas penyimpanan bahan bakar dan pembangkit listrik di Hodeidah.
Ia mengatakan serangan tersebut bertujuan “meningkatkan penderitaan rakyat dan menekan Yaman agar berhenti mendukung (Jalur) Gaza”.
Ketegangan Israel-Houthi
Abdulsalam mengatakan serangan Israel ini hanya akan membuat rakyat Yaman dan angkatan bersenjatanya lebih bertekad mendukung warga Palestina di Gaza. Mohamed Ali al-Houthi dari Dewan Politik Tertinggi di Yaman menulis di X bahwa “akan ada serangan lain yang berdampak besar”.
Sebuah media di bawah kendali Houthi di Yaman, Al-Masirah TV, melaporkan serangan Israel terhadap fasilitas penyimpanan minyak dan solar di pelabuhan dan perusahaan listrik setempat telah menyebabkan beberapa kematian dan korban luka. Terjadi kebakaran besar di pelabuhan dan juga pemadaman listrik.
Pejabat kesehatan di Yaman mengatakan serangan itu telah menewaskan sejumlah orang dan melukai beberapa lainnya.
Serangan drone Houthi telah menewaskan satu orang di pusat Kota Tel Aviv dan melukai 10 lainnya di dekat kedutaan Amerika Serikat (AS) di Israel pada Jumat (19/7/2024) dini hari lalu.